← Beranda
7 Perilaku Orang yang Suka Membisukan Kontak di Media Sosial Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 17 Juli 2025 | 19.37 WIB
perilaku orang yang suka membisukan kontak di media sosial menurut Psikologi./Freepik.

JawaPos.com – Psikologi memandang perilaku membisukan kontak di media sosial sebagai bentuk mekanisme individu dalam mengelola emosi dan ruang pribadi.

Dalam psikologi, tindakan membisukan seseorang sering kali mencerminkan kebutuhan akan batasan sosial tanpa menciptakan konflik langsung.

Perilaku ini menurut psikologi juga bisa menandakan kelelahan mental, kejenuhan emosional, atau keinginan menjaga kesehatan psikologis.

Membisukan kontak di media sosial menjadi pilihan perilaku yang menunjukkan bagaimana seseorang menyaring pengaruh dari lingkungan digital.

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (17/7), bahwa ada tujuh perilaku orang yang suka membisukan kontak di media sosial menurut Psikologi.

Baca Juga: Jepang Kalahkan Korea Selatan 1-0 di Final Piala Asia Timur 2025, Cetak Rekor Tiga Kemenangan Beruntun

  1. Mereka menghargai waktu mereka

Orang yang sering mem-mute kontak di media sosial memiliki kesadaran tinggi tentang nilai waktu mereka.

Mereka memahami bahwa setiap menit yang dihabiskan untuk scrolling tanpa tujuan adalah waktu yang terbuang sia-sia.

Kelompok ini tidak anti-sosial, melainkan telah belajar memprioritaskan waktu secara efektif.

Mereka menyadari bahwa notifikasi yang terus-menerus dapat menginterupsi produktivitas dan mengganggu konsentrasi.

Dengan mem-mute grup chat yang tidak penting atau kontak yang tidak urgent, mereka berhasil menciptakan ruang yang lebih berkualitas dalam hari mereka.

Waktu yang mereka dapatkan bukan hanya lebih banyak, tetapi juga lebih bermakna dan fokus.

Hasilnya, mereka dapat menyelesaikan tugas tanpa gangguan dan lebih hadir dalam interaksi kehidupan nyata.

Baca Juga: Penyanyi BoA Batalkan Konser Solo karena Kondisi Lututnya Memburuk

  1. Mereka memahami dampak kelebihan beban digital

Kelompok ini memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana kelebihan beban digital dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Mereka mengenali bahwa bangun tidur dengan puluhan notifikasi di ponsel dapat menciptakan perasaan kewalahan sejak awal hari.

Kondisi selalu "online" yang berkelanjutan dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan burnout.

Dr. Larry Rosen, seorang psikolog terkenal, menyatakan bahwa kecanduan smartphone berdampak negatif pada hubungan dan kesehatan mental.

Orang yang mem-mute kontak telah mengambil langkah proaktif untuk mengelola beban digital ini.

Mereka menetapkan batasan dengan menentukan periode "bebas ponsel" di waktu-waktu tertentu, seperti pagi hari dan malam hari.

Strategi ini membantu mereka merasa lebih tenang dan memiliki kontrol yang lebih baik atas hidup mereka.

  1. Mereka menghargai koneksi yang nyata

Fokus utama mereka adalah membangun hubungan yang bermakna dibandingkan sekadar mengumpulkan banyak kontak online.

Mereka memahami bahwa memiliki ratusan "teman" di media sosial tidak dapat menggantikan nilai beberapa hubungan dekat yang berkualitas.

Kelompok ini menyadari ironi dari merasa kesepian meski memiliki banyak koneksi virtual.

Mereka mengalihkan perhatian dari upaya mengikuti semua orang online ke investasi waktu untuk orang-orang yang benar-benar penting.

Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk memiliki percakapan yang lebih dalam tanpa gangguan layar.

Mereka lebih fokus pada kualitas waktu yang dihabiskan bersama keluarga dan teman dekat.

Hasilnya adalah rasa koneksi yang lebih autentik dan memuaskan dibandingkan interaksi superfisial di media sosial.

  1. Mereka lebih baik dalam mengelola stres

Kemampuan mengelola stres yang superior menjadi ciri khas orang yang sering mem-mute kontak di media sosial.

Berbeda dengan anggapan bahwa media sosial adalah cara yang baik untuk relaksasi, mereka menyadari bahwa scrolling sebenarnya dapat meningkatkan tingkat stres.

Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial dapat secara signifikan menurunkan perasaan kesepian dan depresi.

Studi tersebut menemukan bahwa peserta yang membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari melaporkan tingkat kecemasan dan ketakutan akan tertinggal yang lebih rendah.

Dengan mengurangi waktu di platform media sosial, mereka mengalami penurunan tingkat kecemasan yang nyata.

Pikiran mereka tidak lagi terus-menerus berdengung dengan notifikasi, sehingga dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Pendekatan ini membantu mereka mencapai keseimbangan mental yang lebih baik dan mengurangi stres secara keseluruhan.

  1. Mereka lebih produktif

Peningkatan produktivitas menjadi salah satu keuntungan utama dari kebiasaan mem-mute kontak di media sosial.

Notifikasi yang terus-menerus dapat mengganggu fokus dan menginterupsi alur kerja yang sedang berjalan.

Dengan mengurangi gangguan dari notifikasi media sosial, mereka dapat berkonsentrasi lebih baik dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Tugas-tugas yang biasanya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Mereka mematikan notifikasi media sosial selama jam kerja untuk memaksimalkan efisiensi.

Strategi ini memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam "flow state" yang diperlukan untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Peningkatan produktivitas ini tidak hanya bermanfaat untuk pekerjaan, tetapi juga untuk mencapai tujuan pribadi mereka.

  1. Mereka memiliki harga diri yang lebih baik

Peningkatan harga diri menjadi dampak positif yang signifikan dari kebiasaan mem-mute kontak di media sosial.

Mereka terhindar dari jebakan perbandingan sosial yang sering terjadi saat melihat "highlight reel" kehidupan orang lain di media sosial.

Kelompok ini memahami bahwa media sosial bukanlah cerminan akurat dari kenyataan dan dapat memisahkan persona online dari orang sebenarnya.

Dr. Leon Festinger menyatakan bahwa evaluasi seseorang terhadap kemampuannya sendiri sering bergantung pada perbandingan dengan orang lain.

Dengan mem-mute atau unfollow akun-akun yang memicu perasaan tidak mampu, mereka dapat fokus pada pencapaian dan pertumbuhan diri sendiri.

Pendekatan ini membantu mereka merasa lebih percaya diri dan puas dengan siapa diri mereka.

Hasilnya adalah peningkatan kepercayaan diri dan kebahagiaan yang lebih stabil karena tidak bergantung pada validasi eksternal.

  1. Mereka justru lebih menikmati media sosial

Secara mengejutkan, orang yang sering mem-mute kontak justru lebih menikmati pengalaman media sosial mereka.

Ketika feed media sosial dipenuhi dengan postingan yang tidak relevan dan notifikasi yang membombardir, platform ini menjadi sumber stres daripada kesenangan.

Dengan mem-mute kebisingan digital dan fokus pada konten yang benar-benar menarik, media sosial dapat menjadi alat untuk belajar, inspirasi, dan koneksi.

Kurasi feed yang cermat dan kontrol notifikasi mengubah media sosial menjadi ruang yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Mereka dapat menggunakan platform ini untuk mengikuti perkembangan teman, mempelajari hal-hal baru, dan mendapatkan inspirasi.

Media sosial menjadi alat yang bermanfaat untuk pertumbuhan pribadi daripada sumber kecemasan atau perasaan tidak mampu.

Pengalaman media sosial yang lebih positif ini menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi secara keseluruhan.

EDITOR: Hanny Suwindari