← Beranda

Ini 10 Perilaku yang Bisa Bikin Kamu Kehilangan Rasa Hormat dari Orang Lain, Apa Saja?

Mohammad Maulana IqbalKamis, 30 Oktober 2025 | 18.39 WIB
Perilaku yang bisa bikin kamu kehilangan rasa hormat dari orang lain

JawaPos.com – Perilaku seseorang sering kali menjadi penentu apakah dia akan mendapatkan atau justru kehilangan rasa hormat dari orang lain.

Ada banyak perilaku kecil yang tampak sepele, namun perlahan membuat seseorang kehilangan rasa hormat tanpa mereka sadari.

Ketika perilaku negatif dilakukan berulang, dampaknya bisa merusak citra diri dan hubungan dengan orang lain secara mendalam.

Rasa hormat dari orang lain bukan datang begitu saja, tetapi dibangun dari perilaku yang konsisten, tulus, dan penuh empati.

Baca Juga: 10 Perilaku Orang yang Memiliki Masa Kecil yang Suram dan Menyedihkan, Apa Saja?

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (30/10), bahwa ada delapan perilaku yang bisa bikin kamu kehilangan rasa hormat dari orang lain.

  1. Terlalu sering meminta maaf tanpa alasan jelas

Permintaan maaf yang tulus dan spesifik memang memiliki kekuatan besar dalam hubungan antarmanusia.

Namun ketika setiap kalimat diawali dengan kata "maaf", hal ini justru menunjukkan ketidakpercayaan diri, bukan empati.

Kebiasaan ini secara tidak sadar menempatkan diri dalam posisi submisif dan lebih rendah.

Sebagai gantinya, ubah kalimat seperti "Maaf, boleh saya bertanya sesuatu?" menjadi "Pertanyaan singkat—boleh saya klarifikasi sesuatu?"

Baca Juga: Pria yang Sangat Tidak Bahagia dengan Hidupnya Biasanya Mengulang 8 Pola Perilaku Ini Menurut Psikologi

  1. Terlalu banyak bicara dan jarang mendengarkan

Semua pasti pernah bertemu dengan seseorang yang mendominasi setiap percakapan dengan ilusi terlihat menarik.

Kenyataannya, kepercayaan justru mengalir kepada mereka yang membuat lawan bicara merasa dihargai dan didengarkan.

Saat kamu sering menyela, berbagi terlalu banyak, atau terus mengarahkan topik ke diri sendiri, ini menandakan ketidakmatangan emosional.

Coba terapkan aturan sederhana: dengarkan 70% dari waktu, berbicara hanya 30%, dan beri jeda sebelum merespons.

  1. Membicarakan keburukan seseorang saat mereka tidak ada

Bergosip memang terasa seperti cara membangun kedekatan, namun sebenarnya ini adalah jebakan yang berbahaya.

Lawan bicara akan berasumsi kamu akan berbicara sama buruknya tentang mereka saat mereka tidak ada.

Kamu mungkin mendapat keakraban jangka pendek, tetapi kredibilitas jangka panjang akan lenyap dengan cepat.

Pendekatan lebih baik adalah membahas ide dan tindakan, bukan membicarakan pribadi seseorang secara negatif.

  1. Mencari validasi daripada memberikan nilai

Ada garis tipis antara terlihat relevan dengan terlihat terlalu membutuhkan persetujuan dari lingkungan sekitar.

Jika setiap kontribusi adalah upaya mendapatkan kepastian seperti "Apakah ini sudah oke?" atau "Apakah cukup baik?", ini melelahkan.

Kepercayaan diri sejati tidak perlu diumumkan dengan keras, melainkan memancar melalui fokus pada pekerjaan bukan tepuk tangan.

Ubah pertanyaan "Apakah ini oke?" menjadi "Ini yang ingin saya capai, bagaimana menurutmu?" untuk menunjukkan kolaborasi.

  1. Terlalu banyak menjelaskan setiap keputusan yang diambil

Jika kamu merasa harus membenarkan setiap pilihan, mungkin kamu pikir ini transparansi, padahal ini terbaca sebagai ketidakpastian.

Ketegasan dalam mengambil keputusan jauh lebih dihargai oleh kebanyakan individu di sekitar kita.

Saat terlalu banyak menjelaskan, ini menyiratkan kamu tidak percaya pada penilaian sendiri dan seolah meminta izin.

Sampaikan keputusan dengan sederhana: "Ini yang sudah saya putuskan dan alasannya," lalu berhenti bicara dan biarkan diamnya berbicara.

  1. Selalu memposisikan diri sebagai korban dalam setiap kemunduran

Semua menghadapi ketidakadilan dalam hidup, tetapi terus-menerus melukis diri sebagai yang sial mengikis kepercayaan dengan sangat cepat.

Ini menandakan kamu telah menyerahkan kekuatan pribadi kepada keadaan di luar kendali sepenuhnya.

Ketangguhan jauh lebih dikagumi daripada kasihan pada diri sendiri, dan perbedaannya terletak pada fokus yang dipilih.

Mindset korban mengatakan "Ini selalu terjadi pada saya", sedangkan mindset berdaya mengatakan "Ini terjadi, apa yang bisa dipelajari?"

  1. Menyela atau menyelesaikan kalimat lawan bicara

Meski niat baik, menyela pembicaraan menandakan ketidaksabaran yang mengkomunikasikan kurangnya penghargaan terhadap lawan bicara.

Ini memberi tahu mereka bahwa kamu lebih menghargai pikiranmu sendiri daripada yang mereka sampaikan dengan sungguh-sungguh.

Sebagian besar orang yang menyela bukan karena arogan, melainkan karena cemas menghadapi keheningan atau ingin membuktikan pemahaman.

Perhatikan dorongan untuk melompat masuk, tunggu mereka selesai, rangkum poin mereka sebelum menambahkan pandangan pribadi kamu.

  1. Bersikap berbeda di depan mereka yang dianggap penting

Perhatikan bagaimana seseorang memperlakukan pelayan dibandingkan dengan CEO, itu ukuran karakter paling jujur yang bisa dilihat.

Ketika penghormatan bersifat selektif, semua di sekitarmu akan melihatnya dengan jelas tanpa perlu diucapkan.

Kamu mungkin berpikir sedang naik tangga sosial, tetapi semua melihat hierarki yang kamu bangun di kepala.

Berikan kehangatan dasar yang sama kepada semua orang, karena tunduk pada kekuasaan bukanlah penghormatan melainkan ketakutan.

  1. Menghindari tanggung jawab dengan dalih bukan salah diri sendiri

Tidak ada yang menghancurkan kepercayaan lebih cepat daripada kebiasaan mengalihkan kesalahan kepada pihak atau faktor lain.

Semua melakukan kesalahan, namun mengakui kekeliranmu menunjukkan kedewasaan dan keberanian yang sesungguhnya dari karakter seseorang.

Menyalahkan adalah refleks ego untuk melindungi diri dari rasa malu yang muncul saat menghadapi kegagalan.

Tanggung jawab, di sisi lain, menghasilkan kepercayaan jangka panjang bahkan ketika kamu telah gagal menjalankan tugas.

  1. Mengeluh tanpa memberikan solusi apapun

Keluhan kronis menciptakan gangguan emosional yang menguras energi dari setiap ruangan yang kamu masuki dengan kehadiran negatif.

Semua perlu melampiaskan sesekali, tetapi negativitas kebiasaan melatih mereka untuk mengabaikan suaramu sepenuhnya dari waktu ke waktu.

Setelah beberapa waktu, kata-katamu kehilangan bobot dan kehadiranmu terasa berat bagi mereka yang mendengarkan.

Jika harus mengeluh, padukan dengan langkah selanjutnya: "Proses ini membuat frustrasi—bagaimana kita bisa membuatnya lebih lancar?"

EDITOR: Setyo Adi Nugroho