JawaPos.com - Hubungan antara anak dan ayah adalah salah satu fondasi emosional terpenting dalam pembentukan karakter, identitas, dan cara seseorang berelasi di masa dewasa.
Sayangnya, tidak semua orang tumbuh dengan figur ayah yang terlibat secara emosional.
Beberapa ayah mungkin hadir secara fisik, namun absen secara emosional; sibuk bekerja, canggung dalam mengungkapkan kasih sayang, atau bahkan bersikap dingin dan otoriter.
Psikologi perkembangan dan relasi menunjukkan bahwa ikatan yang minim secara emosional dengan sosok ayah seringkali meninggalkan bekas dalam kehidupan pribadi dan romantis anak ketika dewasa.
Orang-orang yang mengalami hal ini mungkin tidak menyadarinya secara sadar, tetapi mereka cenderung menunjukkan pola perilaku tertentu dalam suatu hubungan, baik sebagai pasangan maupun teman hidup.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (21/6), terdapat 9 perilaku umum yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang yang dibesarkan kurang dekat secara emosional dengan ayah mereka menurut psikologi:
1. Kesulitan Mempercayai Pasangan
Tanpa pengalaman kedekatan emosional dengan sosok ayah, seseorang mungkin kesulitan mempercayai bahwa hubungan emosional yang aman dan konsisten itu benar-benar ada.
Mereka sering meragukan niat baik orang lain, bahkan pasangan mereka sendiri, dan bisa mencurigai sesuatu yang tidak ada hanya karena takut dikhianati.
2. Ketergantungan Emosional yang Tinggi
Ironisnya, meski sulit mempercayai, mereka juga cenderung sangat butuh validasi dari pasangan.
Ketika tidak mendapatkan perhatian atau kepastian, mereka bisa merasa cemas dan tidak dicintai.
Hal ini berasal dari kebutuhan masa kecil yang tidak terpenuhi: kebutuhan akan afeksi, penerimaan, dan pengakuan dari figur ayah.
3. Takut Ditolak atau Ditinggalkan
Mereka sering merasa tidak cukup layak dicintai, sehingga bayangan akan penolakan atau ditinggalkan bisa sangat mengganggu.
Akibatnya, mereka bisa menjadi terlalu penurut dalam hubungan, atau justru menarik diri sebelum ada kemungkinan disakiti.
4. Kesulitan Mengekspresikan Emosi
Jika sejak kecil mereka tidak diajari atau diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan—terutama oleh ayah yang emosional tertutup—maka mereka akan membawa pola ini ke dalam hubungan dewasa.
Mereka bisa tampak dingin, tertutup, atau tidak tahu bagaimana mengomunikasikan apa yang mereka rasakan.
5. Menarik Diri Saat Konflik
Alih-alih menghadapi masalah secara terbuka, mereka cenderung menarik diri atau menghindari konflik.
Ini merupakan bentuk perlindungan diri karena mereka belum belajar cara berdebat atau berdiskusi secara sehat tanpa merasa diserang atau ditolak.
6. Berusaha Terlalu Keras untuk Menyenangkan Pasangan
Dalam upaya mendapatkan cinta dan penerimaan yang tidak mereka rasakan dari ayah, mereka bisa menjadi “people pleaser” dalam hubungan.
Mereka rela mengorbankan kebutuhan sendiri demi membuat pasangan bahagia, walau dalam jangka panjang ini bisa membuat mereka merasa lelah secara emosional.
7. Mencari Figur Ayah dalam Pasangan
Secara tidak sadar, beberapa orang mencoba menggantikan peran ayah yang hilang dengan pasangan mereka.
Ini bisa terjadi baik pada pria maupun wanita, dan membuat dinamika hubungan menjadi tidak seimbang.
Mereka bisa menggantungkan banyak harapan emosional pada pasangan, melebihi kapasitas hubungan yang sehat.
8. Merasa Tidak Pernah Cukup
Kurangnya validasi dan dukungan dari ayah bisa menciptakan rasa tidak percaya diri yang dalam.
Dalam hubungan, mereka mungkin terus-menerus merasa “tidak cukup baik,” terlalu membandingkan diri, dan mengharapkan penolakan kapan saja.
9. Sulit Membangun Keintiman yang Sehat
Keintiman tidak hanya soal fisik, tetapi juga kemampuan untuk terbuka secara emosional dan membangun kedekatan yang mendalam.
Karena pengalaman masa kecil yang minim afeksi dari ayah, mereka bisa merasa canggung atau takut ketika mulai dekat secara emosional dengan seseorang.
Penutup: Penyembuhan Itu Mungkin
Meski pengalaman masa kecil sangat memengaruhi kehidupan dewasa, bukan berarti seseorang harus selamanya terjebak dalam pola-pola negatif tersebut.
Kesadaran adalah langkah awal yang penting.
Terapi, refleksi diri, dan membangun hubungan yang sehat dengan pasangan yang suportif bisa membantu seseorang memperbaiki luka lama dan membangun cara berelasi yang lebih sehat.
Hubungan yang baik tidak membutuhkan masa lalu yang sempurna, melainkan kesediaan untuk tumbuh, memahami diri sendiri, dan berani membuka hati—meski pelan-pelan.
Mereka yang pernah merasa kehilangan figur ayah emosional dalam hidupnya juga tetap bisa menjadi pasangan yang penuh cinta, selama ada kemauan untuk belajar dan menyembuhkan diri.
***