JawaPos.com - Dalam dunia kerja serba cepat saat ini, istilah hustle culture atau budaya kerja keras seringkali diagungkan. Banyak orang merasa bangga dan terhormat jika bisa bekerja tanpa henti. Namun, tahukah kamu bahwa di balik keglamoran budaya kerja keras, ada satu di antara orang-orang yang sebenarnya mendambakan keseimbangan hidup?
Psikologi mengungkap bahwa tidak semua workaholic atau pecandu kerja benar-benar menikmati tekanan pekerjaan. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang diam-diam merindukan waktu istirahat dan kehidupan yang lebih seimbang. Akan tetapi, mereka bertindak seolah-olah sangat mencintai pekerjaan dan gila kerja.
Melansir dari laman Geediting.com, Selasa (18/3), berikut delapan perilaku workaholic yang haus keseimbangan, namun bertingkah seolah mencintai kerja keras.
1. Mengagungkan Budaya Hustle sambil Diam-Diam Merindukan Waktu Santai
Istilah 'hustle hard' bukan hanya sekadar jargon bagi workaholic tipe ini. Lebih dari itu, frasa tersebut sudah menjadi mantra dalam kehidupan mereka. Mereka kerap mengunggah kutipan motivasi tentang kerja keras di media sosial.
Tidak jarang, mereka juga bangga dengan label "team no sleep" dan terus-menerus membicarakan padatnya beban kerja. Akan tetapi, di balik semua itu, banyak dari mereka yang mengakui bahwa mereka sebenarnya lebih memilih jadwal yang lebih santai. Mereka merasa bersalah setiap kali tidak bekerja.
2. Selalu 'On' dan Sulit Mematikan Mode Kerja
Apakah kamu mengenal orang yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja? Inilah satu di antara ciri umum workaholic yang tidak punya hobi lain di luar pekerjaan. Mereka terus-menerus dalam mode kerja, bahkan ketika tidak bekerja secara teknis, pikiran mereka tetap tertuju pada pekerjaan.
Otak mereka seolah selalu terhubung dengan pekerjaan dan tugas-tugas yang menanti. Seperti ada saklar tersembunyi yang tidak bisa mereka matikan. Bahkan saat waktu senggang, mereka secara mental terus menjalankan daftar tugas atau memikirkan masalah pekerjaan.
3. Kehidupan Sosial yang Terpinggirkan karena Pekerjaan
Dedikasi tinggi pada pekerjaan memang terpuji, tetapi ada kalanya hal itu mengorbankan kehidupan sosial. Seorang workaholic mungkin saja hampir tidak punya waktu untuk bersosialisasi. Bahkan ketika mereka meluangkan waktu untuk bertemu teman, pikiran mereka tetap melayang pada pekerjaan.
Ketika kehidupan sosial terpinggirkan, workaholic seringkali merasa kesepian dan terisolasi. Padahal, keseimbangan hidup yang sebenarnya juga mencakup hubungan sosial yang sehat dan bermakna. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa fokus berlebihan pada pekerjaan telah merenggut kebahagiaan dalam hubungan personal.
4. Perfeksionisme Berlebihan yang Membuat Stres
Perfeksionisme sering dianggap sebagai kualitas positif, tetapi pada workaholic, hal itu bisa menjadi bumerang. Mereka menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, mereka menjadi stres dan cemas ketika tidak dapat mencapai kesempurnaan.
Standar tinggi ini tidak hanya berlaku untuk hasil kerja, tetapi juga untuk prosesnya. Mereka terpaku pada detail-detail kecil dan sulit merasa puas dengan hasil yang sudah baik. Perfeksionisme berlebihan ini justru menghambat produktivitas dan kreativitas.
5. Merasa Bersalah saat Tidak Produktif Bekerja
Rasa bersalah adalah emosi umum yang dialami oleh workaholic ketika mereka tidak bekerja. Mereka merasa tidak nyaman dan cemas saat beristirahat atau melakukan kegiatan di luar pekerjaan. Pikiran mereka terus menerus dihantui oleh pekerjaan yang belum selesai.
Bagi workaholic, waktu istirahat bukanlah momen untuk relaksasi dan pemulihan energi. Waktu istirahat justru menjadi sumber kecemasan dan rasa bersalah. Mereka merasa bahwa mereka seharusnya menggunakan waktu tersebut untuk bekerja dan menjadi produktif.
6. Mengabaikan Kesehatan Fisik dan Mental demi Pekerjaan
Kesehatan fisik dan mental adalah aspek penting dalam kehidupan yang seimbang. Sayangnya, workaholic seringkali mengabaikan kedua hal ini demi pekerjaan. Mereka rela mengorbankan waktu tidur, makan teratur, dan olahraga demi menyelesaikan pekerjaan.
Kurangnya istirahat dan pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik. Stres kronis akibat tekanan pekerjaan juga dapat memicu masalah kesehatan mental. Ironisnya, workaholic seringkali tidak menyadari bahwa kebiasaan kerja mereka justru merusak kesehatan.
7. Sulit Mendelegasikan Tugas dan Kontrol Berlebihan
Ketidakmampuan untuk mendelegasikan tugas adalah satu di antara tanda workaholic yang mencolok. Mereka merasa bahwa hanya mereka yang dapat melakukan pekerjaan dengan benar dan sempurna. Akibatnya, mereka menanggung beban kerja yang berlebihan dan sulit mempercayai orang lain.
Selain sulit mendelegasikan tugas, workaholic juga cenderung memiliki kontrol berlebihan terhadap pekerjaan. Mereka ingin terlibat dalam setiap detail pekerjaan dan sulit memberikan kepercayaan penuh kepada tim. Sikap ini tidak hanya melelahkan diri sendiri, tetapi juga menghambat kinerja tim secara keseluruhan.
8. Mencari Validasi Diri Melalui Prestasi Kerja
Bagi workaholic, prestasi kerja adalah sumber utama validasi diri. Mereka merasa berharga dan berarti ketika berhasil mencapai target atau mendapatkan pengakuan atas pekerjaan mereka. Mereka haus akan pujian dan takut akan kegagalan.
Ketergantungan pada validasi eksternal ini membuat workaholic terus-menerus bekerja keras untuk membuktikan diri. Mereka lupa bahwa nilai diri sejati tidak hanya diukur dari prestasi kerja. Keseimbangan hidup yang hakiki juga mencakup penerimaan diri apa adanya, di luar pencapaian karier.
Memahami delapan perilaku workaholic ini adalah langkah awal untuk menyadari pentingnya keseimbangan hidup. Jika kamu atau orang terdekatmu menunjukkan perilaku-perilaku ini, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Keseimbangan hidup adalah kunci menuju kebahagiaan dan kesuksesan jangka panjang.
Baca Juga: Orang yang Selalu Ingin Resign dari Pekerjaan Akan Menunjukkan 8 Perilaku Ini, Sering Merasakannya?