← Beranda
Peringati 100 Tahun Ali Sadikin, 35 Seniman Gelar Pameran Arsip di TIM
Ryandi ZahdomoKamis, 3 September 2026 | 16.07 WIB
Konferensi pers terkait pameran 100 tahun Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki, Rabu (2/9). (Istimewa)

JawaPos.com - Taman Ismail Marzuki (TIM) bersiap menggelar Pameran Seni Rupa "100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta" di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026. 

Sebanyak 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta terlibat dalam pameran berbasis arsip ini, untuk mengenang warisan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Pameran yang dikuratori oleh Syakieb Sungkar dan Hairus Salim ini menghadirkan refleksi sejarah pembangunan Jakarta dalam bentuk karya visual realis hingga karikaturis.

Kawasan TIM kini terus memperkuat posisinya sebagai ruang interaksi dan kolaborasi bagi para pelaku seni lokal maupun internasional.

Baca Juga: Tekan Dwelling Time, Bea Cukai Jakarta Optimalkan PLB

Kehadiran fasilitas pendukung seperti Paviliun Raden Saleh (PRS) menjadi bagian krusial dalam menyokong aktivitas para seniman yang berkunjung.

Head of SBU TIM PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro Anya Aprilia menjelaskan, PRS memang dirancang sesuai karakteristik kawasan yang menjadi titik temu para perupa dan pekerja seni.

"Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM," ujar Anya, Rabu (2/9) malam.

Mengenang Sosok Pengembang Kebudayaan Jakarta

Kurator pameran, Hairus Salim, menilai perayaan seabad kelahiran Ali Sadikin menjadi momen penting untuk mengingat kembali kepemimpinan yang terbuka terhadap ruang kritik dan gagasan seniman.

"Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan," kata Hairus.

Baca Juga: Waspada! Jakarta Barat dan Timur Jadi Titik Paling Rawan Kebakaran saat Kemarau

Ia pun menyambut positif komitmen Jakpro yang membuka ruang kolaborasi untuk menghadirkan pameran sejarah berbasis arsip ini.

Mengolah Arsip dan Paradoks Pembangunan

Dari sudut pandang teknis kurasi, Syakieb Sungkar menyampaikan bahwa pameran ini memanfaatkan dokumen arsip sebagai pijakan utama para seniman dalam merespons dinamika Jakarta era Ali Sadikin.

"Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri," jelas Syakieb.

Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran Seno Joko Suyono menegaskan, TIM telah bertransformasi menjadi ruang hidup yang menyambungkan gagasan lokal ke tingkat global.

"Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia," tutur Seno.

Baca Juga: Miliki 243 Sentra Mikro di Seluruh DKI, Bank Jakarta Dorong UMKM Tumbuh dan Naik Kelas

EDITOR: Bayu Putra