JawaPos.com - Taiwan mengungkap serangan siber berbantuan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah lembaga pemerintah yang berasal dari luar negeri. Serangan yang mulai terdeteksi pada 20 Juli 2026 itu dinilai sebagai jenis ancaman baru karena memadukan operasi peretas dengan agen AI untuk menjalankan sejumlah tahapan serangan secara lebih otomatis.
Kementerian Urusan Digital Taiwan (The Ministry of Digital Affairs/MDA) mengatakan unit pemantauan keamanan sibernya mendeteksi serangan yang disebut sebagai "serangan tidak lazim" tersebut. Institut Nasional Keamanan Siber Taiwan kemudian mengeluarkan serangkaian peringatan saat penyelidikan berlangsung.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (13/8/2026), pengungkapan Taiwan muncul sehari setelah Financial Times melaporkan dugaan serangan pertama dengan karakteristik yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Perusahaan AI dan keamanan siber asal Israel, Dream, disebut sebagai pihak yang mendeteksi intrusi tersebut.
Baca Juga: Taiwan Kecam Latihan Laut Tiongkok-Indonesia, TNI AL Sebut Bukan untuk Tempur
Menurut laporan Dream yang dikutip Financial Times, pelaku menggunakan agen AI sumber terbuka untuk membangun perangkat peretasan yang dapat bekerja layaknya tim peretas terkoordinasi. Sistem tersebut dilaporkan berhasil menyusupi sedikitnya 85 akun pengguna pemerintah dan mengambil lebih dari 2.500 catatan personel, sebelum memperluas sasaran ke badan keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan energi.
Namun, Taiwan tidak secara resmi menuduh Tiongkok sebagai pelaku. MDA hanya menyatakan penyelidikan menunjukkan karakteristik jelas dari sumber luar negeri. Serangan itu menggunakan pendekatan hibrida yang menggabungkan operasi manusia dengan bantuan agen AI, termasuk OpenClaw.
Dream juga tidak mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok tertentu. Akan tetapi, penggunaan bahasa Mandarin Sederhana dalam komunikasi internal yang berkaitan dengan peretasan membuat peneliti menilai terdapat kemungkinan tinggi operatornya memiliki hubungan dengan Tiongkok. Pemerintah Tiongkok tidak segera memberikan tanggapan.
Ancaman tersebut menjadi lebih serius karena Taiwan telah lama menghadapi tekanan yang disebutnya sebagai "perang hibrida" dari Tiongkok, mulai dari latihan militer di sekitar pulau hingga kampanye disinformasi dan serangan siber.
Biro Keamanan Nasional Taiwan mencatat serangan siber dari sumber Tiongkok terhadap infrastruktur penting, termasuk rumah sakit dan bank, meningkat 6 persen pada 2025 menjadi rata-rata 2,63 juta serangan per hari. Sebagian serangan bahkan berlangsung bersamaan dengan latihan militer.
MDA menyatakan seluruh sumber, metode, dan cakupan dampak serangan terbaru telah diselidiki, sementara lembaga yang terdampak telah menyelesaikan penanganannya. Pemerintah Taiwan kini memperkuat pemantauan sistem dan menerapkan pedoman perlindungan untuk mendeteksi serta memblokir serangan lebih awal.
Perkembangan ini menunjukkan AI mulai mengubah skala ancaman siber. Model AI terbaru dapat membantu melakukan pengintaian, menemukan kerentanan, hingga mengeksploitasi celah sistem dengan jauh lebih cepat.
Meski demikian, Cris Thomas, peneliti sekaligus advokat keamanan di perusahaan keamanan kode Semgrep, mengingatkan agar kemampuan AI tidak dilebih-lebihkan. Menurutnya, serangan tersebut belum sepenuhnya berjalan secara mandiri karena "masih ada manusia di baliknya" yang menentukan target, tujuan, dan memberikan instruksi.
Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar munculnya peretas yang sepenuhnya digantikan AI, melainkan meningkatnya kemampuan operator manusia untuk mengotomatiskan bagian-bagian penting dari serangan siber. Taiwan kini memperlakukan perkembangan tersebut sebagai ancaman baru yang membutuhkan pertahanan lebih cepat dan berlapis.
Baca Juga: Destinasi Wisata Taiwan Makin Ramah Muslim, Makin Banyak Pilihan untuk Wisatawan Indonesia