← Beranda
Pemerintah AS Mengalami Shutdown, Ratusan Ribu Pegawai Federal Terancam Dirumahkan
Bhagas Dani PurwokoKamis, 2 Oktober 2025 | 15.38 WIB
Pemerintahan AS resmi shutdown, karena deadlock. (dok ABC News

 

JawaPos.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mengalami penutupan (shutdown) pada Rabu (1/10) setelah Partai Demokrat dan Partai Republik di Senat gagal mencapai kesepakatan soal pendanaan jangka pendek.

Mengapa pemerintah AS ditutup?

Dilansir dari Al Jazeera, shutdown dimulai tepat pukul 00:01 waktu setempat, bertepatan dengan dimulainya tahun fiskal baru. Saat itu, pendanaan tahun sebelumnya untuk operasional pemerintah juga resmi berakhir.

Meski Partai Republik menguasai dua majelis Kongres, mereka tidak berhasil menyatukan suara untuk meloloskan rancangan undang-undang (RUU) pendanaan hingga 21 November mendatang.

Partai Demokrat menolak mendukung RUU tersebut karena menuntut pembatalan pemotongan Medicaid yang diberlakukan lewat RUU "One Big Beautiful" oleh Donald Trump pada Juli lalu.

Upaya Demokrat menawarkan alternatif juga kandas, sehingga Kongres menemui jalan buntu alias deadlock.

Baca Juga: Kemlu Nyatakan Tidak Ada WNI Jadi Korban Gempa di Filipina

Dampak bagi pegawai pemerintah AS

Penutupan ini membuat lembaga-lembaga federal harus melakukan furlough, yakni memberhentikan sementara pegawai yang dianggap “tidak dikecualikan”.

Pegawai yang dirumahkan tidak akan menerima gaji hingga pemerintah kembali beroperasi. Meski nantinya sebagian akan memperoleh gaji tertunggak, hal ini tidak berlaku bagi staf kontrak seperti petugas kebersihan, kecuali kontraktor mereka menyiapkan anggaran khusus.

Sementara itu, pekerja esensial yang termasuk kategori “dikecualikan”, seperti aparat keamanan atau tenaga medis darurat, tetap harus bekerja, namun mereka juga tidak akan menerima bayaran selama masa penutupan.

Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan sekitar 750.000 pegawai federal dirumahkan, dengan potensi kehilangan upah sekitar USD 400 juta per hari. Lebih buruknya, Gedung Putih telah meminta lembaga pemerintah menyiapkan skenario pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran jika kondisi ini berlarut.

Baca Juga: Gaza Diperintah atau Merdeka? Inilah 20 Poin Rencana Perdamaian yang Ditekankan oleh Donald Trump

Profesor politik AS, Scott Lucas, menjelaskan bahwa furlough berarti cuti tanpa bayaran.

“Bedanya dengan pandemi, kali ini tidak ada bantuan federal yang bisa menutupinya,” katanya kepada Al Jazeera.

Bukan yang pertama kali

Shutdown semacam ini pernah terjadi sebelumnya. Pada akhir 2018, di tahun kedua pemerintahan Trump, penutupan sebagian pemerintah berlangsung selama 35 hari, terpanjang dalam sejarah modern AS. Sembilan departemen federal, termasuk pertanian, perdagangan, kehakiman, hingga transportasi, terdampak langsung.

Kala itu, banyak pegawai terpaksa mencari pinjaman, mengandalkan bantuan keluarga, bahkan mendatangi bank makanan untuk bertahan hidup.

“Tidak ada jaring pengaman nyata yang melindungi mereka. Dampaknya benar-benar terasa pada manusia,” tegas Lucas. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah