← Beranda
Hujan Deras Menyebabkan Banjir Besar di Korea Selatan, 4 Orang Tewas dan 1 Hilang
Aprillia JPJumat, 18 Juli 2025 | 19.17 WIB
Banjir di Seoul, Korea Selatan (Dok. X @TheKoreaHerald)

JawaPos.com - Korea Selatan dilanda banjir besar akibat hujan lebat ekstrem yang mengguyur sejak 16 Juli 2025. Curah hujan tercatat melampaui 500 mm di beberapa wilayah, menyebabkan korban jiwa, tanah longsor, dan kerusakan luas.

Pemerintah telah mengeluarkan peringatan darurat dan memperingatkan kemungkinan hujan susulan yang berpotensi memperparah dampak bencana.

Dilansir dari Maeil Business Newspaper pada Jumat (18/7), hujan ekstrem terjadi sejak Rabu (16/7) malam dan memuncak pada Kamis dan Jumat, memengaruhi hampir seluruh wilayah Korea Selatan.

Baca Juga: Jepang Kalahkan Korea Selatan 1-0 di Final Piala Asia Timur 2025, Cetak Rekor Tiga Kemenangan Beruntun

Menurut data dari Central Disaster and Safety Countermeasures Headquarters per pukul 06.00 waktu setempat, cuaca buruk ini menyebabkan sedikitnya 4 orang tewas dan 1 orang masih dinyatakan hilang hingga Jumat pagi.

Hujan terparah tercatat di Seosan, Chungcheongnam-do, dengan akumulasi mencapai 519 mm, jauh di atas rata-rata bulanan wilayah tersebut.

Badan Meteorologi Korea (KMA) menyebut Intensitas hujan kali ini sebagai fenomena langka yang hanya terjadi sekali dalam 100 tahun.

Menurut laporan, korban jiwa ditemukan di berbagai wilayah. Di Seosan, seorang pria berusia 50 tahunan meninggal setelah terjebak dalam mobil yang terendam banjir.

Di Osan, Gyeonggi-do, dinding penahan setinggi 10 meter runtuh, menimpa mobil dan menewaskan satu penumpang.

Sejumlah area di Gwangju juga dilaporkan mengalami banjir besar, termasuk wilayah Dong-gu, Buk-gu, dan Nam-gu, yang tergenang hingga setinggi lutut. Seorang pria tak dikenal juga dilaporkan hilang di dekat Jembatan Sinan, Gwangju.

Wilayah terdampak meliputi bagian tengah seperti Seoul, Gyeonggi, Chungcheong, hingga wilayah selatan seperti Gwangju, Jeonnam, Busan, dan Gyeongsang Selatan.

Gwangju sendiri mencatat 426,4 mm hujan dalam satu hari pada 17 Juli, memecahkan rekor curah hujan harian tertinggi di bulan Juli.

Menurut KMA, fenomena ini disebabkan oleh benturan massa udara dingin dari utara dan udara lembap dari selatan yang tertahan oleh tekanan rendah di wilayah Hanran. Kombinasi ini memperpanjang durasi hujan dan meningkatkan intensitas curah hujan secara drastis.

KMA memprediksi hujan lanjutan hingga Sabtu (19/7) dengan potensi curah hujan hingga 300 mm di wilayah selatan.

Intensitas hujan diperkirakan mencapai 50–80 mm per jam, khususnya di wilayah pesisir seperti Busan, Jeonnam, dan Gyeongsang Selatan, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor susulan.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan bahwa keselamatan rakyat adalah prioritas utama. Jae-myung memerintahkan pemeriksaan menyeluruh di area rawan seperti ruang bawah tanah, jalanan rendah, dan lereng rawan longsor.

Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan keringanan pajak dan penundaan investigasi pajak bagi warga yang terdampak.

Dengan potensi hujan lebat yang masih berlanjut hingga akhir pekan, otoritas mendesak warga untuk mengikuti peringatan resmi dan menjauh dari daerah rawan bencana.

Tindakan cepat dan koordinasi yang dilakukan pemerintah diharapkan dapat meminimalkan dampak lanjutan dari bencana yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Gelombang Pembunuhan Anak oleh Orang Tua di Korea Selatan yang Kekurangan Uang Memicu Kekhawatiran

EDITOR: Candra Mega Sari