JawaPos.com - Pasca tujuh minggu pertempuran tanpa henti yang menelan ribuan korban jiwa di Jalur Gaza, akhirnya terjadi titik terang.
Pada Jumat (25/11) dini hari, gencatan senjata antara Israel dan Palestina resmi berlaku.
Kesepakatan ini memberi harapan baru untuk mengakhiri penderitaan warga sipil di Gaza akibat perang yang telah berlangsung sejak 7 Oktober lalu.
Dilansir dari cbsnews.com pada Sabtu (25/11), kesepakatan gencatan senjata ini merupakan hasil mediasi dari berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Perjanjian mencakup pembebasan bertahap para tawanan dan sandera yang ditahan Israel maupun Hamas selama tujuh minggu terakhir.
Pertukaran tawanan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih luas.
Pada hari pertama gencatan senjata, 24 sandera berhasil dibebaskan, termasuk 13 warga Israel, 10 warga Thailand, dan 1 warga Filipina.
Sementara itu, 39 orang perempuan dan anak-anak tahanan Palestina dibebaskan dari penjara Israel.
Pembebasan ini disambut hangat oleh keluarga para sandera yang telah lama menderita akibat pemisahan.
Baca Juga: Palang Merah Internasional telah Memulai Operasi Pertukaran dan Pembebasan Sandera Israel-Hamas
Sebagian besar kelompok sandera pertama berasal dari warga sipil yang ditangkap Hamas saat melakukan serangan terhadap Israel pada (7/10).
Hamas menahan sandera selama berminggu-minggu, yang memicu aksi penyelamatan Israel ke Jalur Gaza.
Akibat pertempuran tersebut, lebih dari 1.500 orang tewas, sebagian besar warga sipil.
Bantuan Darurat Mulai Mengalir ke Gaza
Bersamaan dengan pembebasan sandera dan tawanan, bantuan darurat juga mulai mengalir deras ke Gaza.
Ratusan truk yang membawa makanan, air bersih, bahan bakar, dan peralatan medis bergegas memasuki wilayah yang porak poranda akibat pertempuran tersebut.
Bantuan ini tentunya sangat dinantikan oleh 1,7 juta warga Gaza yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Mesir sebagai negara tetangga merupakan pintu masuk utama bantuan ke Gaza.
Pemerintah Mesir menjanjikan pasokan bahan bakar senilai 34.000 galon per hari ke Gaza selama gencatan senjata berlangsung.
Selain itu, diperkirakan 200 truk yang berisi makanan dan obat-obatan akan masuk setiap harinya melalui perbatasan Rafah.
Di sisi lain, Israel juga turut menyalurkan bantuan darurat melalui penyeberangan yang dikendalikannya.
Pada Jumat (24/11) pagi, 200 truk Israel yang berisi air, makanan, peralatan medis, dan bahan bakar tiba di Gaza.
Bantuan ini tentunya sangat dibutuhkan untuk meringankan penderitaan warga Gaza akibat kekurangan bahan pokok selama berminggu-minggu.
Harapan untuk Perdamaian Jangka Panjang
Meski gencatan senjata dan pembebasan sandera ini hanyalah langkah awal, namun langkah ini menumbuhkan harapan baru untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Gaza.
Kedua belah pihak kini memiliki kesempatan untuk kembali ke meja perundingan guna mencari penyelesaian konflik secara damai dan menyeluruh.
Qatar sebagai mediator utama dalam pembicaraan damai ini berharap agar momentum saat ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.
Mereka bertekad melanjutkan upaya perundingan meski kesepakatan gencatan senjata ini hanya berlangsung 4 hari di awal.
Baca Juga: Israel dan Hamas Sepakat Mulai Gencatan Senjata Jumat Ini, akan Berlangsung Selama 4 Hari
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga tampak optimistis bahwa gencatan senjata ini dapat diperpanjang.
Dia bahkan memperkirakan pembebasan lebih banyak sandera akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Biden juga akan terus berkoordinasi dengan para pemimpin Timur Tengah untuk memastikan berlangsungnya proses perdamaian.
Meski penuh tantangan, perjanjian gencatan senjata yang disertai usaha bersama regional ini patut diapresiasi.
Setidaknya, langkah ini menjadi cahaya terang di ujung terowongan panjang konflik Israel-Palestina yang belum juga usai.
***