← Beranda
Cinta Kuya Curhat Kena Mental usai Rumah Uya Kuya Dijarah dan Kucing Hilang, Netizen Malah Kritik Gaya Penulisannya
Mellyna Putri DiniarRabu, 17 September 2025 | 02.54 WIB
Cinta Kuya yang menulis klarifikasi di Instagram, unggahannya viral di X dan menuai kritik warganet. (Instagram @cintakuya)

JawaPos.com – Cinta Rahmania Putri Khairunnisha, atau Cinta Kuya, putri sulung pasangan Uya Kuya dan Astrid Kuya, kembali menjadi perbincangan publik. Itu setelah ia membagikan klarifikasi di akun Instagram pribadinya mengenai rumah masa kecilnya yang dijarah.

Curhatan ini muncul saat ia menempuh pendidikan di Amerika Serikat, jauh dari keluarga. Dalam unggahan tersebut, Cinta menuturkan rasa bingung, takut, dan tekanan mental yang muncul setelah mengetahui kabar penjarahan dari kerabat sang ayah.

Unggahan Cinta menyoroti hilangnya barang-barang keluarga dan kucing peliharaannya. Melalui akun Instagram pribadinya, @cintakuya, ia menulis: 

“Rumah aku habis di jarah. Orang orang asing masuk rumah ku, mengambil barang barang aku dan keluarga aku dengan tersenyum lebar dan bahagia. Nangis. Aku hanya bisa nangis saja. gimana keadan keluarga aku? mama papa aman? oma opa? tante dan keluarganya? kucing kucing ku?”

Baca Juga: Tak Ingin Indonesia Bernasib Seperti Nepal, Mardani Ali Sera Ingatkan Pemerintah Lebih Dengar Aspirasi Publik

Unggahan Cinta menjadi sorotan netizen. Bukan karena substansinya, melainkan karena dinilai banyak typo dan masalah pasa struktur penulisan. Akun X @senjatanuklir menyoroti beberapa contoh, seperti “menelephone”, “di jarah”, “binggung”, dan “betanya”. 

Kritik netizen menekankan bahwa kualitas penulisan Cinta masih jauh dari rapi dan professional. bahkan warganet dari akun yang sama masih mempertanyakan kemampuan bahasa Inggrisnya:

“I remember seeing her tweets and her English wasn’t that good either, so what language does she actually speak…”

Kritik ini diperkuat warganet lain. Akun @bloomin**** menulis, “Analisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Tataran Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, dan Ejaan pada Penulisan Cerpen ‘Rumahku Dijarah’ Karya Cinta Kuya.”

Sementara itu, @pokiy**** mempertanyakan empati Cinta: “beneran bingung banget sama orang orang kayak cinta kuya…. padahal resources udah banyak, dia up to date sama berita berita ttg orang tuanya yet she still can’t understand the people???? PEOPLE DIED… dia aja gaada empatinya ke orang lain tapi expect kita yang kasihan sama dia??”

Baca Juga: Mengenal Ikan Belida, Legenda Sungai Musi Bahan Utama Pempek Palembang yang Kini Terancam Punah

Akun @kØpitanpa**** menambahkan sindiran tajam: “21 tahun, anak DPR, kuliah di USA, tapi typingnya jelek banget wakakaakakkakkaakkak.”

Klarifikasi Cinta, yang dibagikan ulang oleh akun X @aromapetrikorr, hingga Selasa (16/9) telah dilihat lebih dari 8,3 juta orang di platform X. Menjadikannya salah satu topik paling viral pekan ini.

Kritik terhadap tulisan Cinta juga datang dari warganet lain. Akun @dallaba**** menilai, “Turns out, international education didn’t improve your writing quality. The writing is so poor it barely meets the A2 level.”

Sementara itu, @chitatt**** menyoroti ketidakpekaan tulisannya: “beyond insensitive and tone deaf jir. lu yapping soal kucing when 10 people lose their lives.”

Yang membuat perdebatan ini lebih kompleks adalah latar belakang Cinta sebagai anak publik figur yang lahir dengan privilege.

Uya Kuya, ayahnya, dikenal sebagai figur publik dan pernah menduduki posisi strategis sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PAN sebelum akhirnya dinonaktifkan, sebagaimana dilansir dari Radar Bogor

Baca Juga: Miskah Shafa Bagikan Pengalaman Lahirkan Anak Pertama, Alami Robekan Parah Sampai Perlu 20 Jahitan Lebih

Kondisi ini menimbulkan sorotan mengenai bagaimana seorang anak dengan akses luas dan status sosial tinggi tetap menuai kritik pedas saat mengekspresikan kesedihannya.

Selain itu, beberapa netizen menilai curhatan Cinta terlalu menekankan kucing dan kehilangan benda pribadi. Sementara konteks sosial mengenai alasan rumahnya dijarah massa serta risiko kriminal penjarahan tidak dibahas.

Perbedaan respons ini menggambarkan bagaimana media sosial bisa memperluas tekanan psikologis, terutama bagi figur publik muda yang berada pada posisi istimewa.

 

EDITOR: Bayu Putra