JawaPos.com - Impostor syndrome atau sindrom penipu adalah suatu gangguan psikologis yang membuat seseorang merasa tidak pantas atas kesuksesan yang didapatkannya.
Hal ini ditandai dengan keraguan diri yang terus menerus dan sering merasa takut akan terungkap sebagai "impostor" atau penipu.
Pada tahun 1970-an, Impostor Syndrom dikenalkan oleh dua psikolog yaitu Pauline Clance dan Suzzanne Imkes.
Dilansir dari Siloam Hospital, sebenarnya sindrom ini tidak tergolong sebagai penyakit mental karena tidak termasuk dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPSGJ).
Seorang Profesor Psikologi dari Universitas Michigan, Kevin Cokley, PhD, mengungkapkan "Saya berharap lebih banyak orang memahami bahwa fenomena impostor bukanlah gangguan mental," dikutip dari Everyday Health.
Belum ada penelitian yang cukup untuk mengatakan apa yang sebenarnya menyebabkan sindrom impostor.
Tetapi ada beberapa hal yang terkait yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sindrom impostor. Beberapa di antaranya sebagai berikut.
Baca Juga: Seseorang Milik Sindrom Munchausen atau Pura-pura Sakit? Ini Penyebab dan Cara Mengobatinya!
1. Rasisme dan Seksisme
Berbagai bentuk penindasan, seperti rasisme dan seksisme, dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengalami sindrom impostor.
Pada saat yang sama, menghilangkan semua bentuk penindasan tidak serta merta menghilangkan keberadaan fenomena impostor.
"(Kami) tidak memiliki data yang mendukung gagasan bahwa individu yang terpinggirkan secara tidak proporsional dipengaruhi oleh perasaan penipu," kata Cokley
"Itu tidak didukung oleh penelitian. Namun, apa yang telah saya dan orang lain perdebatkan adalah bahwa seseorang yang mengalami penindasan cenderung mengalami perasaan impostor atau penipu. Hal tersebut sedikit berbeda dari orang yang tidak mengalami penindasan," tambahnya
2. Trauma dan Anxiety
Ada juga beberapa sifat dan pengalaman pribadi yang dapat memengaruhi kemungkinan merasa seperti sindrom impostor.
Orang yang pernah mengalami trauma seringkali memiliki sistem saraf yang tetap berada dalam kondisi siaga tinggi agar tetap aman, dan biasanya tidak disadari.
Trauma dapat membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap sesuatu hal yang membuat mereka merasa seperti impostor.
Meski begitu, tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami perasaan impostor.
3. Menjadi seorang perfeksionis.
Menurut penelitian, Cokley menemukan bahwa bentuk perfeksionisme yang tidak sehat secara positif berkaitan dengan perasaan tidak percaya diri.
Hal tersebut menjadikan seseorang memiliki harga diri yang lebih rendah dan dapat menjadi salah satu hal yang menghubungkan keduanya.
Berusaha untuk menjadi sempurna sebenarnya tidak realistis. Jika memiliki standar yang sangat tinggi untuk diri sendiri dan percaya bahwa standar tinggi tersebut belum terpenuhi, dapat menyebabkan hasil yang tidak sehat.
Bekerja sangat keras untuk mencapai standar yang mustahil untuk dipenuhi, membuat lebih rentan untuk merasa bahwa seseorang adalah seorang impostor.
Jika seseorang memiliki harga diri yang lebih rendah, hal itu membuat seseorang tersebut lebih rentan terhadap perfeksionisme yang dikaitkan dengan perasaan impostor.
Sebaliknya, jika memiliki harga diri yang lebih tinggi, hal ini dapat mengurangi dampak perfeksionisme pada perasaan impostor.
Sindrom impostor dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang dengan cara yang signifikan, dimulai dari kesehatan mental.
Namun, sindrom ini dapat memotivasi seseorang untuk bekerja lebih baik lagi demi mencapai target yang ditentukan.
Berikut tips agar tidak terus menerus mengalami sindrom impostor dalam jangka waktu panjang.
Baca Juga: Kembali Ramai di TikTok, Seorang Pemuda Mengalami Kematian Tragis Akibat ‘Sindrom Nasi Goreng’
1. Mengubah pola pikir
Berpikir mengenai positivity akan menekan pada diri bahwa tidak ada hal yang sempurna di dunia ini.
Daripada mengejar kesempurnaan lebih baik fokus pada proses dalam menghasilkan sesuatu secara optimal sesuai dengan kemampuan diri sendiri.
2. Bercerita dengan orang terpercaya
Sindrom ini sering memunculkan pikiran yang tidak rasional pada pengidapnya.
Maka dari itu, apabila dipendam sendiri pikiran negatif tersebut akan semakin memburuk dan membuat pengidapnya terjebak dalam ketakutan dan kecemasan.
Hal tersebut dapat diminimalkan dengan mencoba membuka diri dan mau berdiskusi dengan orang-orang terdekat.
Dengan begitu, munculnya pikiran yang tidak rasional tersebut dapat dihindari dengan sudut pandang yang lebih positif dari orang lain.
3. Memberikan penghargaan terhadap diri sendiri
Penghargaan terhadap diri sendiri atau self reward juga menjadi tren akhir - akhir ini.
Dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri akan lebih menghargai proses yang telah dilalui.
Sindrom impostor kerap membuat pengidapnya mengabaikan kesuksesannya sendiri.
Mencoba untuk menerima ucapan selamat atau apresiasi dari orang lain atas kesuksesan yang sudah diraih itu juga patut untuk dicoba.
Baca Juga: Jangan Sembarangan Panaskan Makanan, Remaja di Belgia Tewas Terkena Sindrom Nasi Goreng
4. Mengontrol pikiran negatif yang muncul
Apabila pikiran negatif muncul, mengenai pencapaian diri sendiri, dapat mencoba untuk mengontrolnya dengan melakukan positive self-talk.
Mencoba mengingat kerja keras yang sudah dilewati untuk mencapai kesuksesan tersebut. Sehingga pikiran negatif tentang diri sendiri bisa hilang.
5. Mengenali kelemahan dan kelebihan diri sendiri
Salah satu cara menghadapi impostor syndrome adalah mengenali kelebihan dan kelemahan diri sendiri. Hal ini akan membantu pengidapnya dalam memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan demi mencapai pertumbuhan diri yang berkelanjutan, serta menerima kenyataan bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
***