JawaPos.com – Jumlah jamaah haji yang wafat di tanah suci tahun ini diperkirakan turun cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menjelaskan, hingga 22 Juni lalu tercatat sedikitnya ada 350 jamaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci.
Meski masa layanan haji masih tersisa sepekan lagi, namun diperkirakan angka wafatnya jamaah turun signifikan, setidaknya dibandingkan dengan dua musim haji terakhir.
Sebagai perbandingan, pada musim haji 2024 lalu tercatat ada 461 jamaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci.
Baca Juga: PPIH Makkah Pulang ke Tanah Air usai 2 Bulan Layani Jamaah Haji, Disambut Menhaj Irfan Yusuf
Kemudian, sepanjang masa operasional haji 2025, ada 447 jamaah haji yang wafat di tanah suci, baik Madinah maupun Makkah.
Meski demikian, bagi Irfan, angka wafatnya jamaah tahun ini tetap perlu perhatian serius dan evaluasi khusus. Terutama dalam hal istithaah kesehatan.
“Ke depan, penerapan istithaah kesehatan akan diperketat dan standarnya harus diterapkan secara seragam di seluruh daerah,” ujarnya saat menyambut kepulangan jamaah haji daerah Kerja Makkah di Bandara Soekarno Hatta, Selasa (23/6).
Apalagi, hingga saat ini masih ada 121 jamaah yang menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi karena berbagai kondisi medis.
Para jamaah haji itu baru akan dipulangkan setelah kondisi kesehatannya dinyatakan stabil dan layak terbang oleh tim medis.Baca Juga: Layanan Jamaah Haji Indonesia di Makkah Resmi Berakhir, Seluruh Jamaah Bergeser ke Madinah
Menurut Irfan, masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaan pemeriksaan dan penetapan istithaah kesehatan di sejumlah daerah.
Karena itu, Kemenhaj akan memperkuat standarisasi agar setiap calon jamaah haji menjalani pemeriksaan kesehatan dengan ketentuan dan kualitas yang sama.
Evaluasi juga akan dilakukan terhadap meningkatnya jumlah jamaah haji yang wafat setelah fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.
Sepekan pertama setelah puncak haji, grafik wafatnya jamaah langsung naik signifikan dibandingkan masa pra armuzna.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah tingginya aktivitas jamaah setelah menjalani rangkaian puncak haji, termasuk mengikuti kegiatan tur.
“Setelah Armuzna, kondisi fisik jamaah umumnya menurun akibat kelelahan. Aktivitas seperti city tour harus diatur lebih ketat agar tidak membahayakan kesehatan jamaah,” jelas Menhaj.
Baca Juga: Jamaah Terakhir Bergeser ke Madinah Besok, Layanan Haji Indonesia di Makkah Bakal Berakhir
Fase terberat selama puncak haji ada di Mina dan Jamarat. Jamaah haji, baik yang tinggal di tenda mina maupun tanazul di hotel masing-masing tetap harus berjalan berkilo-kilometer untuk mencapai jamarat, tempat melontar jumrah.
Aktivitas itu berjalan selama 3-4 hari berturut-turut. Mulai dari 10 Zulhijjah saat melontar jumrah Aqabah hingga hari tasyrik ketiga pada 13 Zulhijjah.
Bagi jamaah haji lansia, sakit, maupun fisiknya tidak siap, aktivitas itu menjadi semakin berat.
Karena itu, mereka diimbau agar rela dibadalkan oleh sesama jamaah yang masih muda untuk melontar jumrah. Agar tidak perlu keluar dari tenda di Mina.
Meski demikian, pantauan JawaPos.com, tidak sedikit jamaah haji yang terlalu bersemangat dalam beribadah hingga memaksakan diri meski kondisi fisiknya sudah lemah.
Baca Juga: Layanan Bus Shalawat Berakhir 21 Juni, Jelang Jamaah Haji Terakhir Keluar dari Makkah
Alhasil, ada yang hanya mampu melontar jumrah di hari pertama. Sisanya dibadalkan oleh keluarga atau sesama jamaah lain.
Ada pula yang memaksakan diri melontar jumrah mandiri sampai nafar awal, bahkan nafar tsani meski tubuhnya sudah sangat kelelahan. Akibatnya, setelah fase Mina selesai, mereka bertumbangan.