← Beranda
1.200 Tenaga Kesehatan Disiagakan untuk Puncak Haji, Atur Layanan Wukuf agar Tak Langgar Regulasi Saudi
Bayu PutraSenin, 25 Mei 2026 | 03.55 WIB
Amirul Hajj Mochamad Irfan Yusuf dan Muhadjir Effendy menjenguk jamaah haji Indonesia yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia, Minggu (24/5/2026). (Media Center Haji 2026)

JawaPos.com – Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), persiapan tim kesehatan PPIH Arab Saudi dan kloter terus dimatangkan.

Amirul Hajj sekaligus Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menjelaskan, PPIH terus mempersiapkan layanan-layanan darurat di Armuzna.

Termasuk kerja sama dengan rumah sakit pemerintah Arab Saudi untuk mitigasi pemindahan jamaah haji ke RS.

“Kita ini ada 1.200 tenaga kesehatan, tiap kloter ada 1 dokter dan 1 perawat, kemudian ada di PPIH juga ada 499, hingga total tenaga kesehatan kita ada 1.200 sekian,” terang Irfan saat mengecek Klinik Kesehatan haji Indonesia, Minggu (24/5).

Baca Juga: Wamenhaj Dahnil Pastikan Jamaah Haji Indonesia Dapat Tempat di Tenda Arafah dan Mina

Hingga saat ini, lanjut Irfan, jamaah haji Indonesia yang dirawat turun cukup drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut dia, itu tidak lepas dari pemeriksaan istitaah kesehatan di tanah air yang relatif lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Hari ini yang dirawat turun drastis, yang meninggal juga turun drastis,” lanjut Irfan tanpa menyebut spesifik angkanya.

Disinggung mengenai rencana safari wukuf, Irfan menjelaskan bahwa secara resmi pemerintah Saudi memang tidak mengizinkan safari wukuf.

Namun, ia memastikan PPIH Arab Saudi terus mencari berbagai kemungkinan yang tidak melanggar regulasi Arab Saudi. “Dan kita sudah koordinasi dengan Pemerintah Saudi terkait ini,” jelasnya.

Baca Juga: Mbah Marsiyah Akhirnya Melihat Ka’bah: Kisah Jamaah Tertua Indonesia Menunaikan Haji di Tanah Suci

Sementara itu, Anggota Amirul Hajj Muhaimin Iskandar mengapresiasi tim Kesehatan haji yang mampu cepat beradaptasi dengan regulasi di Saudi yang amat ketat.

Ke depan, Kemenhaj masih akan memerlukan masukan dari para dokter dan tenaga kesehatan lain terkait sistem layanan kesehatan haji.

“Pola dan mekanisme menyesuaikan aturan yang berlaku di sini, tetapi tetap membawa semangat efisiensi, aspek manfaat yang lebih besar buat para jamaah,” ujar Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat itu.

EDITOR: Bayu Putra