JawaPos.com – Ikhtiar Marsiyah puluhan tahun silam terbayar lunas. Sabtu (23/5) dini hari, pukul 01.30 Waktu Arab Saudi (WAS), ia berada di tempat yang ia impikan: Masjidil Haram.
Di atas kursi roda yang didorong oleh putri keduanya, Maidah, Marsiyah naik ke lantai 2 Masjidil Haram, tempat para jamaah berkursi roda melaksanakan tawaf.
Nenek yang tahun ini berusia 105 tahun itu terdiam sejenak, saat JawaPos.com yang membersamainya memberi tahu bahwa Ka’bah sudah ada di hadapannya, meski belum tampak sepenuhnya karena terhalang pagar pembatas lantai 2 dengan area mataf.
Warga desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu baru tersadar saat dipersilakan untuk berdoa. “Silakan mbah, baca doa melihat ka’bah,” ucap wartawan media ini yang juga menjadi bagian dari petugas Media Center Haji.
Baca Juga: Muhammad Firdaus Ahlan, Jamaah Haji Lansia yang Hilang Sepekan Ditemukan Wafat
Dibimbing oleh Maidah, lamat-lamat Marsiyah melantunkan doa. Doa yang ia hafal mati bertahun-tahun, seiring upayanya untuk menabung demi memenuhi panggilan Allah.
Sebagai jamaah haji kloter-kloter akhir, yakni SUB 112, Marsiyah memilih melaksanakan haji Ifrad. Haji tanpa didahului atau bersamaan dengan umrah.
Pagi itu, ia hanya melaksanakan tawaf qudum, atau tawaf selamat datang di Baitullah Bersama Maidah, sang putri yang berusia 63 tahun.
Kursi roda bergerak perlahan memasuki area tawaf khusus jamaah berkursi roda. Berada di area terdekat dengan jendela yang langsung mengarah ke mataf dan tentu saja, Ka’bah.
“Mak, iku (itu) lho, Ka’bah,” ucap Maidah, sembari mengarahkan pandangan sang bunda ke kiri.
Baca Juga: Kloter terakhir tiba di Makkah, Seluruh Jamaah Haji Indonesia Bersiap Wukuf di Arafah
Marsiyah terpana sesaat. Senyumnya lantas mengembang melihat bangunan persegi terbungkus kiswah hitam, yang telah mewarnai malam-malamnya sejak puluhan tahun silam.
“Bismillahi Allahu Akbar, Bismillahi Allahu Akbar, Bismillahi Allahu Akbar,” ucap Marsiyah sembari melambai dan mengecup telapak tangan saat melintas sudut Hajar Aswad.
Satu setengah jam tawaf, menempuh lintasan sepanjang 6,5 kilometer, Marsiyah begitu tenang. Menikmati pengalaman spiritual terbesarnya sampai detik ini.
Lamat-lamat bibirnya melantunkan zikir dan doa, mensyukuri nikmat tuhan yang begitu luar biasa menyentuh dirinya.
“Alhamdulillah, iso ndeleng (bisa melihat) Ka’bah,” ucapnya seraya tertawa, usai menyelesaikan tawaf dan Bersiap melaksanakan shalat sunnah tawaf.
Baca Juga: Wamenhaj Dahnil Copot Paksa Tanda KBIHU di Tenda Arafah: Bikin Jamaah Haji Tidak Kebagian Tenda
Marsiyah memang ceria. Perempuan yang di paspornya tercatat kelahiran 1 Juli 1921 itu hobi tertawa.
Itu adalah salah satu rahasia Marsiyah bisa panjang usia, di luar takdir yang memang mengharuskannya bertahan sampai tua.
Tertawa menandakan ia tak stres, tidak memikirkan apa yang bukan menjadi miliknya atau urusannya.
Dalam hal makanan, ia juga nyaris tak punya pantangan. “Kalau sayurnya bayam, nanti lauknya tempe, begitu saja,” lanjutnya saat ditanya apa yang ia makan sehari-hari.
Kadang Marsiyah juga makan olahan telur ayam sederhana, salah satunya didadar. Ia enggan makan daging ayam, karena akan membuat tubuhnya gatal-gatal. “Kalau pagi minum susu,” tutur ibu lima anak itu.
Baca Juga: 30 Jamaah Embarkasi Surabaya Gagal Berangkat pada Musim Haji 2026
Sejak puluhan tahun silam, Marsiyah memupuk mimpi untuk berangkat haji. Sebagai pembuat sekaligus penjual jenang alias bubur, ia berusaha sebisanya untuk menabung.
“Kadang Rp 5.000, kadang Rp 2.000, tidak banyak. Ditabung uangnya di kaleng, lalu ditaruh di lemari,” jelas ibu lima anak itu.
Beberapa tahun belakangan, Marsiyah tinggal dengan Nuriyah, putri ketiganya.
Itu setelah ia mengalami insiden jatuh di kamar mandi dan tak ada seorang pun yang mengetahui. Ia tak sadarkan diri dalam keadaan pintu kamar mandi terkunci.
“Untungnya, saya pas datang ke rumah Mbahnya, pas menjenguk. Jadi pintunya itu dicongkel,” timpal Maidah.
Baca Juga: Gubernur Jatim Khofifah Lepas Kloter Terakhir Jamaah Haji Embarkasi Surabaya 2026
Pada 2021 lalu, saat usianya memasuki seabad, Marsiyah membuka kaleng yang ia simpan puluhan tahun di lemari. Ia memutuskan mendaftar haji.
Putra-putrinya membantu ia untuk melunasi, saat Marsiyah diumumkan sebagai salah satu calon jamaah haji tahun ini.
Antusiasme Marsiyah berangkat haji sempat redup saat petugas Puskesmas menyampaikan bahwa ia berpotensi tidak lolos istithaah.
Dengan segala upaya, Marsiyah berusaha memenuhi syarat itu. Toh, ia tidak punya riwayat penyakit berat. Hanya usianya saja yang sudah tembus seabad.
Booster vitamin dari puskesmas ia lahap. Setiap hari waktunya ia pakai untuk latihan berjalan kaki demi ketahanan fisik yang mumpuni.
Baca Juga: Purbaya Batal Naik Haji Tahun ini, Sebut Belum Rezekinya
Hingga akhirnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menyatakan ia memenuhi syarat kesehatan untuk berangkat haji.
Ketika tiket Istithaah sudah digenggam, tantangan baru pun datang. Untuk kali pertama seumur hidupnya, Marsiyah naik pesawat terbang. Namun, ia tak gentar.
“Enak (naik pesawat), lancar. Setirnya (jalannya pesawat) halus,” ucapnya sembari terkekeh.
Ia juga merasa cocok dengan makanan yang disajikan pramugari selama dalam penerbangan.
Hingga akhirnya, ia mendarat di tempat impiannya. Tempat istimewa di mana setiap kata menjadi doa, dan setiap doa hamba diyakini akan diijabah oleh Tuhannya.
Baca Juga: Jamaah Haji Bergerak ke Arafah Mulai 8 Zulhijjah Pagi, Ini Skema Pergerakan Bus di Armuzna
“Kula maca Patekah, mboten leren, ndungakne kula (saya membaca Surah Al Fatihah tanpa henti, mendoakan diri sendiri),” jelasnya.
Kepada anak-anak muda, ia mengungkap satu rahasia agar hubungan dengan Tuhan tetap terjaga. Yakni mengawali segala sesuatunya dengan menyebut nama Tuhan.
“Sampeyan kalau mau makan, di setiap suapan itu baca bismillah,” ucapnya.
Itulah yang ia praktikkan selama puluhan tahun, hingga akhirnya diberi usia yang panjang untuk mengunjungi rumah Tuhan.
Jadi, bagaimana perasaan Marsiyah setelah melihat ka’bah? “Nggih seneng, wong mpun dadi angen-angen (Ya senang, kan sudah jadi angan-angan),” tutupnya.
Baca Juga: Bus Shalawat Stop Beroperasi 22 Mei, Kecuali Armada Terbatas untuk Kloter Akhir Jamaah Haji
Kursi roda telah diturunkan dari bus di depan hotel nomor 420. Marsiyah menuruni tangga bus dengan dipapah petugas.
Di atas kursi roda yang didorong oleh Maidah, Marsiyah kembali tersenyum dan tertawa. Menyiapkan hati yang gembira untuk pengalaman spiritual besar berikutnya, wukuf di Arafah.