JawaPos.com – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus mematangkan skema murur dan tanazul untuk masa puncak ibadah haji.
Murur akan dilakukan saat mabit di Muzdalifah, dengan cara jamaah dibawa oleh kendaraan melintasi Muzdalifah tanpa berhenti sampai ke Mina.
“Sebagian jamaah kita yang punya risiko tinggi lansia, kemudian punya komorbid, kemudian pendamping lansia, pendamping yang risiko tinggi Itu dari Arafah langsung kita naikkan bus untuk menuju ke Mina,” terang Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo di Makkah, Sabtu (16/5).
Para jamaah yang murur tidak harus turun di Muzdalifah, dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah.
Baca Juga: Jamaah Haji dapat 15 Kali Makan Ready to Eat Selama Armuzna dengan Cita Rasa Indonesia
Secara umum, ada empat golongan yang akan dimururkan. Yakni lansia, jamaah dengan komorbid, disabilitas, dan para pendampingnya.
Saat ini, PPIH Arab Saudi tengah mematangkan mekanisme, pengaturan, dan penentuan nama-nama jamaah haji yang akan mengikuti skema murur.
“Kita tidak ingin kejadian-kejadian di masa lalu di mana ada jamaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah, ada yang harus jalan kaki, itu terulang lagi di tahun ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Tanazul akan diprogramkan untuk jamaah haji terutama yang tinggal di wilayah Syisyah dan Raudhah.
Mereka tetap melontar jumrah, namun tinggal di hotel-hotel terdekat dengan jamarat, tidak di tenda-tenda di mina.
Baca Juga: Soal 2 Fatwa Dam Nusuk Haji, Musyrif Diny: Jamaah Haji Silakan Pilih yang Nyaman di Hati
Hotel-hotel itu jaraknya relatif lebih dekat ke jamarat dibandingkan dengan tenda Indonesia di Mina.
Hingga saat ini, mekkanismenya juga tengah dimatangkan. Apalagi, jamaah haji Indonesia dilarang melontar jumrah di waktu afdal.