JawaPos.com - Di balik aroma sedap hidangan prasmanan di berbagai acara hajatan di Tangerang, terselip sebuah doa yang terus membumbung tinggi. Selama puluhan tahun, Masuah Marup Mawi, 73, menyisihkan rupiah demi rupiah dari keringatnya sebagai juru dapur di hajatan. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan, bisa menunaikan ibadah haji.
Kini, impian warga Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang ini akhirnya menjadi nyata. Masuah resmi terdaftar sebagai calon jemaah haji yang berangkat pada kloter pertama hari 2026.
Perjalanan Masuah menuju baitullah tidaklah instan. Ia mulai menerima panggilan memasak setahun sebelum sang suami berpulang pada tahun 1999. Saat itu, ia harus menjadi tulang punggung keluarga karena kondisi kesehatan suaminya yang menurun.
Dengan lima orang anak yang sebagian masih duduk di bangku sekolah, Masuah tak patah arang. Ia mengasah kemampuannya mengolah menu-menu khas pesta.
"Saya kerjanya itu tukang masak panggilan untuk di hajatan-hajatan. Setiap dapat pemasukan saya sisihkan untuk berangkat haji. Setiap masak dikasih Rp2 juta, dibagi ke yang lain, sisanya saya tabung," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di Masjid Raya Al-A'zhom, Selasa (21/4).
Konsistensi di Tengah Kepulan Asap Dapur
Setiap kali musim hajatan tiba, seperti bulan Maulid, Rajab, hingga Iduladha, jadwal Masuah selalu padat. Bahkan, ia tak ragu menempuh perjalanan hingga ke Jakarta jika ada orang yang membutuhkan keahlian masaknya.
Semua dilakukan demi mengumpulkan "ongkos" menuju Mekkah. Sejak tahun 2000, Masuah mulai disiplin menabung. Kerja kerasnya membuahkan hasil pada tahun 2013, saat ia berhasil menyetorkan uang pendaftaran sebesar Rp25 juta.
Ia memisahkan uang pemberian anak untuk kebutuhan harian, sementara hasil memasak dikunci rapat di tabungan haji.
"Kemudian, setiap ada panggilan memasak uangnya saya tabung untuk tambahan biaya ongkos naik haji. Kalau untuk kebutuhan makan sehari-hari ada anak yang kasih. Jadi uang hasil kerja masak saya tabung, paling sedikit saya sisain untuk keperluan," tuturnya.
April 2026: Puncak Penantian 13 Tahun
Setelah mendaftar pada 2013, Masuah harus menunggu selama 13 tahun hingga akhirnya namanya masuk dalam daftar keberangkatan tahun 2026. Kabar bahagia itu ia terima pada 2025 lalu, yang langsung disambut dengan syukuran bersama keluarga dan tetangga.
Kini, diantar oleh anak dan cucu-cucunya, Masuah siap memenuhi panggilan Allah SWT dengan hati yang mantap.
"Alhamdulillah, rasa haru, Insya Allah saya bisa melaksanakan ibadah haji sepenuhnya dan dapat kembali ke tanah air tanpa hambatan," imbuhnya.