← Beranda
Barang Jemaah Haji yang Tak Diambil Bisa Diwakafkan, Termasuk Kursi Roda dan Sandal di Madinah
Dhimas GinanjarSelasa, 13 Mei 2025 | 07.12 WIB
Kasi Linjam Daker Madinah M. Slamet menunjukkan kursi roda dari jemaah haji 2024 yang bisa dimanfaatkan untuk musim haji 2025. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

 

JawaPos.com – Di halaman belakang Kantor Daker Madinah, deretan kursi roda tertata rapi. Banyak yang masih layak pakai, kebanyakan hanya berdebu ringan. Bukan milik jemaah yang baru datang, melainkan warisan dari musim haji tahun lalu, 2024.

“Itu kursi roda yang ditinggal jemaah tahun lalu. Banyak yang sengaja diwakafkan karena jemaah merasa tak perlu membawanya pulang. Banyak yang masih bagus,” ujar M. Slamet, Kasi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah.

Kursi roda-kursi roda itu kini disiapkan kembali untuk membantu jemaah lansia di musim haji 2025. Selain kursi roda, sandal-sandal yang tertinggal di hotel dan Masjid Nabawi pun ikut dikumpulkan.

Sebagian akan disalurkan ke Sektor Khusus Nabawi, tempat di mana jemaah kerap kehilangan sandal usai salat atau mengambil wudu.

Kisah ini hanya satu dari banyak cerita di balik barang-barang yang tertinggal dan tak diklaim jemaah.

Seiring dengan dimulainya fase pendorongan besar-besaran dari Madinah ke Makkah sejak Jumat (10/5), potensi kehilangan barang meningkat tajam.

Jemaah terburu-buru, perpindahan hotel cepat, dan area ibadah ramai. Tak heran, setiap hari ada laporan barang tertinggal.

Namun tidak semua barang langsung dikategorikan hilang atau dibuang. Jika tidak diklaim hingga musim haji berakhir, barang-barang itu tidak serta merta disingkirkan. Ada prosedur perlindungan jemaah yang diberlakukan.

“Barang-barang itu nanti akan kita simpan. Kalau tidak ada yang ambil, bisa kita wakafkan kepada yang membutuhkan, atau kita bawa pulang ke Indonesia. Siapa tahu ada jemaah yang merasa kehilangan setelah pulang,” jelas Slamet.

Slamet menekankan, barang sekecil apapun tetap dicatat. Bila ada identitas, petugas akan mencocokkan dengan data embarkasi atau rombongan.

“Kursi roda ini banyak juga yang masih ketinggalan di bandara, kemudian kita koordinasi dengan linjam di bandara, dikirim ke Daker Madinah, kemudian kita data,” tambahnya.

Jika di kursi roda itu ada nama pemiliknya, Slamet akan menghubungi sektor-sektor tempat jemaah menginap. Namun jika tidak ada nama, proses pengembalian membutuhkan effort lebih.

Jangan Langsung Panik, Segera Lapor

Ia juga mengingatkan jemaah untuk tidak langsung panik saat merasa kehilangan barang. Ada kemungkinan barang tersebut masih diamankan oleh petugas atau tertinggal di tempat yang bisa ditemukan kembali.

“Kalau jemaah merasa kehilangan, jangan buru-buru memvonis. Laporkan saja ke linjam, ketua rombongan, atau petugas sektor,” ujarnya.

Selama musim haji berlangsung, petugas linjam melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk lewat grup WhatsApp yang khusus digunakan untuk berbagi laporan temuan barang.

Jika cocok, barang bisa langsung dikirim kembali ke sektor jemaah atau diambil ke pusat penyimpanan di Daker Madinah.

Barang-barang seperti sandal, yang mungkin dianggap sepele, ternyata sangat bermanfaat. Banyak jemaah kehilangan sandal saat ke toilet atau tempat wudu di Masjid Nabawi. Dalam kondisi darurat, sandal yang tertinggal bisa dimanfaatkan oleh jemaah lain.

“Itu juga bagian dari perlindungan jemaah. Apa yang ditinggalkan, bisa menjadi pertolongan bagi yang membutuhkan,” kata Slamet.

 

EDITOR: Dhimas Ginanjar