JawaPos.com - iPhone Duo langsung menghadapi kritik tak lama setelah Apple memperkenalkannya. Bukan karena desain lipatnya melainkan karena harga satuannya menembus USD 1.999 atau berkisar Rp 35,08 juta untuk varian termurahnya.
Apalagi pasar foldable yang masih kecil. Muncul juga keraguan apakah perangkat ini benar-benar menawarkan alasan kuat untuk meninggalkan iPhone biasa.
Peluncuran iPhone Duo seharusnya menjadi momen besar bagi Apple. Untuk pertama kalinya sejak iPhone diperkenalkan pada 2007, perusahaan menghadirkan perubahan desain yang benar-benar signifikan pada lini ponselnya. Namun, euforia tersebut cepat berhadapan dengan pertanyaan yang sulit dijawab: apakah iPhone lipat seharga hampir USD 2 ribu benar-benar dibutuhkan konsumen?
Di Amerika Serikat, iPhone Duo dibanderol mulai USD 1.999 dan versi tertingginya dapat mencapai USD 3.200 (Rp 56,15 juta). Harga itu membuat perangkat tersebut menjadi iPhone paling mahal yang pernah diperkenalkan Apple.
Bahkan, harga awalnya lebih dari dua kali lipat dibandingkan iPhone terbaru yang sebelumnya memiliki harga awal tertinggi sekitar USD 900 (Rp 15,79 juta).
iPhone Duo Dinilai Bisa Jadi Sekadar Barang Mewah
Kekhawatiran soal harga menjadi salah satu kritik paling keras terhadap iPhone Duo. Dipanjan Chatterjee, analis Forrester, memperingatkan bahwa perangkat tersebut berisiko hanya menjadi simbol status bagi konsumen kaya. Bukan produk yang mampu menciptakan pertumbuhan berarti bagi Apple.
"Ponsel lipat berisiko menjadi pajangan berharga mahal di jajaran produk, memberikan nilai gengsi tetapi bukan pertumbuhan yang berarti," kata Dipanjan Chatterjee, seorang analis dari Forrester dikutip via BBC.
Komentar tersebut menggambarkan dilema Apple dengan cukup jelas. Perusahaan memang membutuhkan produk baru yang dapat menunjukkan kemampuan berinovasi. Tetapi harga yang terlalu tinggi bisa membatasi jumlah konsumen yang mampu dan mau membelinya. Risikonya, iPhone Duo terlihat spektakuler di etalase. Tetapi kontribusinya terhadap penjualan iPhone secara keseluruhan justru kecil.
Delapan Tahun Dikembangkan, Tapi Apple Datang Terlambat
Apple menghabiskan sekitar delapan tahun untuk mengembangkan iPhone Duo. John Ternus, CEO baru Apple bahkan terlibat langsung dalam proses tersebut ketika masih menjadi salah satu pimpinan utama divisi perangkat keras perusahaan.
Saat dibuka perangkat itu menyerupai iPad mini berukuran kecil. Ketika dilipat, bentuknya berubah menjadi ponsel dengan layar yang lebih lebar. Ternus menegaskan Apple tidak sekadar meniru konsep ponsel lipat yang sudah ada. Menurut Ternus, iPhone Duo dirancang untuk mengubah pengalaman menggunakan ponsel lipat.
Apple bukan pemain pertama yang mengembangkan kategori foldable tersebut. Samsung dan sejumlah produsen Tiongkok sudah bertahun-tahun menjual ponsel lipat. Artinya, Apple memasuki pasar ketika kompetitor sudah memiliki pengalaman lebih panjang sekaligus basis pengguna yang telah terbentuk.
Tiongkok Jadi Medan Pertempuran Terberat Apple
Persaingan tersebut kemungkinan akan terasa paling berat di Tiongkok. Francisco Jeronimo, wakil presiden data dan analytics perangkat di IDC EMEA menyebut Huawei sudah memiliki posisi yang sangat kuat di pasar ponsel lipat Tiongkok.
"Pertarungan sebenarnya adalah di Tiongkok, tempat Huawei menguasai hampir 80% perangkat lipat," kata Francisco Jeronimo, wakil presiden data dan analitik perangkat di IDC EMEA.
Jika Apple ingin menjadikan iPhone Duo sebagai produk global, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan loyalitas pengguna iPhone. Apple harus meyakinkan konsumen bahwa perangkatnya memberikan sesuatu yang jauh lebih bernilai dibandingkan produk lipat yang telah lebih dulu beredar.
Konsumen Tertarik, Tapi Belum Tentu Mau Membeli
Ada perbedaan besar antara membuat konsumen penasaran dan membuat mereka mengeluarkan uang hampir USD 2 ribu. Carolina Milanesi, analis Creative Strategies yang menghadiri presentasi Apple, mengakui bahwa ponsel lipat memang menarik perhatian. Namun, perubahan dari ponsel tradisional ke perangkat lipat juga membawa konsekuensi terhadap cara orang menggunakan perangkat.
"Perangkat lipat (foldables) adalah perangkat yang menarik, catat Milanesi. Banyak orang yang terpikat olehnya, tetapi perangkat lunak dan kurva pembelajaran (learning curve) yang harus Anda lalui saat berpindah dari ponsel tradisional ke ponsel lipat adalah hal yang nyata,” kata Milanesi.
Inilah salah satu tantangan terbesar iPhone Duo. Selama bertahun-tahun, pengguna sudah terbiasa dengan bentuk dan cara kerja iPhone. Apple kini harus membuktikan bahwa layar yang bisa dilipat bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan memberikan manfaat yang cukup besar dalam aktivitas sehari-hari.
Pasar Foldable Sendiri Masih Kecil
Keraguan analis juga berkaitan dengan ukuran pasar. Ben Wood, kepala analis di FDM CCS Insight, menyebut perangkat foldable dari berbagai produsen saat ini hanya menyumbang sekitar 2 persen dari total penjualan smartphone.
Masuknya Apple memang berpotensi meningkatkan popularitas ponsel lipat. Namun, menurut proyeksi FDM CCM Insight, pangsa perangkat tersebut diperkirakan hanya mencapai sekitar 4 persen dari keseluruhan pasar smartphone dalam satu dekade mendatang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Apple mungkin bisa membuat kategori foldable semakin populer, tetapi belum tentu dapat menjadikannya sumber pertumbuhan sebesar iPhone konvensional. Padahal, iPhone merupakan produk terpenting Apple dan menyumbang lebih dari separuh penjualan perusahaan setiap tahun.
iPhone Duo Bisa Bernasib Seperti Vision Pro atau Apple Watch
Chatterjee melihat dua kemungkinan ekstrem untuk masa depan iPhone Duo. Skenario pertama adalah perangkat tersebut mengikuti jejak Vision Pro. Apple menjualnya sebagai produk teknologi premium dengan harga sangat tinggi, tetapi produk itu belum berhasil menjadi perangkat massal. Skenario kedua jauh lebih menarik: iPhone Duo dapat berkembang seperti Apple Watch.
Apple Watch memang tidak pernah mendekati skala penjualan iPhone, tetapi berhasil membangun kategori sendiri dan dibeli jutaan orang setiap tahun. Dengan kata lain, iPhone Duo tidak harus menggantikan iPhone biasa untuk dianggap sukses. Apple hanya perlu membuatnya cukup menarik untuk membangun pasar baru.