← Beranda
Prediksi Rupiah Jumat 4 September: Dibayang-bayangi Sentimen The Fed dan Arah Kebijakan BI
Djati WaluyoJumat, 4 September 2026 | 14.18 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Jumat (4/9), setelah sebelummya ditutup menguat 84 poin menjadi Rp 17.679 per dollar AS pada perdagangan Kamis (3/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (4/9) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.630-Rp 17.680," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (4/9).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian utama pasar, terutama perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan kondisi pasar tenaga kerja negara tersebut.

Sementara data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan turut menekan dolar AS. Data ADP Employment Change menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38.000 pada Agustus, di bawah perkiraan 47.000 dan kenaikan sebelumnya sebesar 46.000.

Di sisi lain, pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan September. Spekulasi tersebut menguat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengambil sikap lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu.

Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September saat ini berada di kisaran 64 persen, meningkat dari 36 persen pada pekan sebelumnya.

"Fokus pasar adalah angka klaim pengangguran mingguan AS dan ISM Services PMI untuk Agustus. Sementara fokus mingguan berada pada laporan ketenagakerjaan utama AS, yakni Nonfarm Payrolls," ujarnya.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia (BI) setelah Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur BI pada Rabu (2/9). Destry menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia.

Dalam sidang penetapannya, Destry berkomitmen menjaga kebijakan BI tetap responsif terhadap berbagai tantangan ekonomi, sekaligus memperkuat stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Arah kebijakan tersebut akan berlandaskan pada prinsip Impactful atau berdampak, inklusif, dan integratif. Ketiga prinsip itu kemudian disatukan dalam komitmen Sinergi Merah Putih untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional.

BI juga akan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait dalam menghadapi tantangan domestik, termasuk pengendalian inflasi. Koordinasi tersebut diarahkan untuk menciptakan kondisi sektor riil yang lebih kondusif.

Selain itu, BI bersiap merumuskan kebijakan domestik yang responsif terhadap ketidakpastian global, termasuk menghadapi tren suku bunga acuan negara-negara maju yang masih bertahan tinggi (higher for longer).

EDITOR: Estu Suryowati