JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara tahunan atau year on year (yoy) inflasi Indonesia pada Juli 2026 mencapai 2,88 persen atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2025 sebesar 2,37 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengatakan terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Ia menjelaskan, pendorong utama inflasi tahun ini berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,97 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,87 perseb.
“Adapun komoditas dengan andil inflasi terbesar, pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin atau SKM, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan juga sigaret kretek tangan atau SKT,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (3/8).
Ateng mengatakan, kelompok lainya yang menyumbang inflasi terbesar adalah transportasi dengan catatan sebesar 5,12 persen dan andil terhadap inflasi sebesar 0,62 persen. Adapun, inflasi pada kelompok tersebut disebabkan oleh bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelunas atau oli mesin, dan juga sepeda motor.
Baca Juga: BPS: Juli 2026 Indonesia Deflasi 0,14 Persen, IHK Turun ke Level 111,73
Selain itu, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi secara yoy sebesar 9,04 persen dengan andil inflasi sebesar 0,61 persen.
“Inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan,” ucapnya.
Ateng mengatakan, jika dilihat berdasarkan komponennya, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Ia menjelaskan, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,76 persen dan memberikan andil sebesar 1,76 persen.
Dia menjelaskan, komoditi yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademis atau perguruan tinggi.
Lanjutnya, untuk komponen harga diatur oleh pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,58 persen dengan andil inflasi sebesar 0,70 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga diatur pemerintah yaitu bensin, tarif angkutan udara, sigaret keretek mesin atau SKM, dan juga bahan bakar rumah tangga.
Baca Juga: Aturan Ketat Kebun Tebu, Petani Gula Kini Bisa Bernapas Lega!
Sedangkan komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 2,52 persen dengan andil inflasi sebesar 0,42 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak yaitu beras, daging ayam ras, cabai merah, dan juga daging sapi,” ungkapnya.
Adapun, jika dilihat berdasarkan wilayahnya inflasi tertinggi ini terjadi di Papua Barat, yaitu sebesar 5,47 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.