JawaPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terpantau melemah pada perdagangan Jumat (12/6). Berdasarkan data konversi mata uang yang ditampilkan Google Finance satu dolar AS setara dengan Rp 17.959 pada pukul 10.15 WIB.
Hal ini masih menunjukkan kondisi rupiah belum bisa keluar dari tekanan dolar. Di mana beberapa hari lalu, angkanya bahkan sempat tembus di level lebih dari Rp 18.000. Grafik kurs dolar terpantau masih fluktuatif.
Menurut Ekonom Gede Sandra, pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis pasar dibandingkan kondisi ekonomi nasional.
Padahal, indikator utama perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.
"Pelemahan rupiah ini lebih banyak disebabkan oleh sentimen pasar. Kalau melihat fundamental ekonomi, kondisinya masih cukup baik," kata Bestari dalam sebuah diskusi forum ekonomi konstitusi, di Jakarta Kamis (11/6).
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen lebih, termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.
Selain itu, tingkat inflasi juga tetap terkendali di sekitar 3 persen sehingga menunjukkan stabilitas harga masih terjaga.
Dia menilai kondisi fiskal pemerintah juga masih berada dalam batas aman. Defisit anggaran disebut tetap terjaga di bawah 3 persen, sementara belanja pemerintah masih menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Menurutnya, salah satu indikator yang menunjukkan kesehatan fiskal adalah surplus primer yang masih mencatatkan angka positif. Kondisi tersebut menandakan pemerintah memiliki kemampuan untuk membayar bunga utang tanpa harus mengandalkan utang baru.
"Ketika surplus primer positif, artinya pemerintah masih memiliki ruang untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga utang. Itu menjadi sinyal penting bagi kepercayaan pasar," ujarnya.
Selain faktor domestik, Gede menyebut pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan Amerika Serikat.
Kenaikan suku bunga di negara tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman.
Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan dalam jangka pendek. Namun kondisi tersebut dinilai sebagai fenomena yang juga dialami berbagai negara, bukan hanya Indonesia.
Di sisi lain, ia menilai pasar keuangan sangat sensitif terhadap berbagai isu dan kebijakan pemerintah.
Sentimen negatif yang muncul akibat kekhawatiran terhadap pembiayaan program-program besar dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar meskipun kondisi ekonomi sebenarnya masih stabil.
"Pasar bergerak sangat cepat berdasarkan persepsi dan sentimen. Sedikit saja muncul kekhawatiran, respons pasar bisa langsung terlihat pada nilai tukar maupun pasar saham," katanya.
Meski demikian, Gede optimistis rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat apabila kepercayaan pasar terus terjaga. Ia menilai koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi menjadi faktor penting untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional.
Menurutnya, selama indikator ekonomi utama tetap terjaga dan kebijakan fiskal serta moneter berjalan selaras, rupiah masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak global.