JawaPos.com - Mahmoud Darwish berasal dari sebuah keluarga Muslim Sunni yang lahir pada 13 Maret 1941 di Al Birweh, Palestina.
Orang tuanya berasal dari keluarga kelas menengah yang berprofesi sebagai petani sekaligus pemilik tanah di Palestina.
Kesibukan orang tuanya yang menggarap tanah, membuat Mahmoud Darwish kecil dibesarkan oleh kakeknya.
Baca Juga: Protes Aksi Pemboman Israel Terhadap Gaza, Ratusan Ribu Orang Bela Palestina Berunjuk Rasa di London
Saat berdirinya negara Israel pada tahun 1948, desa kelahirannya dihancurkan dan memaksa dia dan keluarganya untuk mengungsi ke Lebanon.
Namun pada tahun berikutnya, keluarganya kembali ke tanah air Palestina. Mereka kembali mendiami pemukiman yang didirikan di tanah tersebut.
Tidak ada buku di rumah Mahmoud Darwish. Pengalaman pertamanya pada puisi adalah mendengarkan penyanyi keliling yang melarikan diri dari tentara Israel.
Baca Juga: Anak-Anak di Sumut Beri Dukungan untik Palestina, Ganjar: Kita Dorong Nilai Kemanusiaan
Mahmoud Darwish dikenal sebagai penyair paling terkemuka di tanah Palestina. Dia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya saat berumur 20 tahun.
Penyair ini memiliki banyak peran dalam bidang kepenulisan sehingga membentuk kesadaran nasional bagi warga Palestina.
Puisi-puisinya telah diajarkan berbagai sekolah di seluruh wilayah arab dan diiringi dengan musik. Beberapa dialognya telah menjadi bagian dari struktur budaya Arab modern.
Terbitan puisi pertamanya yang berjudul Leaves of the Olive Tree, melambangkan perlawanan Palestina terhadap Pemerintahan Israel.
Pada awalnya, gaya puisinya mengikuti bentuk klasik. Tetapi sejak pertengahan 1960-an, menjadi populis dan lugas.
Dia menggunakan gambaran yang memiliki hubungan secara dekat dengan penduduk desa Palestina pada puisinya.
Seperti menggambarkan tentang kebun zaitun dan kebun buah-buahan, bebatuan dan tanaman, serta daun basil dan thyme.
Meskipun tampak sederhana, puisi-puisinya memiliki beberapa tingkatan makna. Ada rasa kemarahan, kekejian, dan ketidakadilan.
Baca Juga: Warga Palestina di Gaza Kekurangan Bantuan, Badan Kemanusiaan PBB Sampaikan Keprihatinan
Dilansir dari laman The Guardian, selama ini Mahmoud Darwish menjadi anggota Partai Komunis Israel, Rakah, dan mengedit di sebuah surat kabar edisi Arab, Al-Ittihad.
Pemerintah Israel yang membatasi ruang ekspresi bagi warga Palestina untuk mengutarakan rasa nasionalis.
Membuat Darwish harus beberapa kali masuk penjara dan sering menjadi tahanan rumah karena aktivitas politik dan membaca puisinya.
Dilansir dari laman Poets, Mahmoud Darwish telah menerima banyak penghargaan, antara lain Ibn Sina Prize, the Lenin Peace Prize, France’s Knight of Arts and Belles Lettres Medal, The Moroccan Wissam of Intellectual Merit Handed dari Raja Mohammad VI Maroko, dan masih banyak lainnya.
Penyair kebangsaan Palestina ini meninggal karena komplikasi setelah operasi jantung di rumah sakit di Texas pada usia 67 tahun.