← Beranda
Rupiah Berisiko Melemah Hari Ini, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Moneter Global
Djati WaluyoJumat, 18 September 2026 | 14.40 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (18/9), setelah sebelummya ditutup melemah 57 poin menjadi Rp 17.753 per dollar AS pada perdagangan Kamis (17/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (18/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.750 - Rp.17.790,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (18/9).

Baca Juga: Indonesia Tantang Rumania di GBK, Grup Dunia II Piala Davis 2026

Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal, pasar masih merespons keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.

Ia menyebut, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang mengisyaratkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk meredam inflasi turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Di sisi lain, dinamika geopolitik juga menjadi perhatian pasar. Perkembangan dialog antara Amerika Serikat dan Houthi Yaman dinilai sedikit meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Dari sisi domestik, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan semakin terbatas menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026. BI saat ini mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.

Menurutnya, kebijakan pre-emptive BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin menjadi salah satu faktor yang membuat bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini.

Baca Juga: Sudaryono Ungkap Kondisi Dua Siswi Korban Keracunan MBG di Karo Mulai Membaik

“Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan bergulir pada 22–23 September 2026, sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis,” ujarnya.

Menurutnya,langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

EDITOR: Bintang Pradewo