JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/8), setelah sebelummya ditutup menguat 29 poin menjadi Rp 17.798 per dollar AS pada perdagangan Senin (17/8).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (18/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.750-Rp 17.800," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (18/8).
Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar tengah mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan.
Selain itu, sentimen konsumen AS menurun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, sementara penjualan ritel mencatat penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari setahun.
Data ekonomi yang lebih lemah tersebut mengurangi sebagian tekanan terhadap Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneternya.
Kondisi ini turut memberikan sentimen positif terhadap aset-aset yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk logam mulia.
“Para investor akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai pandangan para pembuat kebijakan pada hari Rabu, saat risalah rapat The Fed bulan Juli dijadwalkan untuk dirilis,” ujarnya.
Dari sisi domestik, aktivitas pasar keuangan Indonesia pada Selasa (18/8) masih libur dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Namun, Bank Indonesia tetap melakukan intervensi di pasar internasional melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia mengatakan, pada minggu ini perhatian pasar berada pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada Rabu (19/8).
Keputusan tersebut datang di tengah kebutuhan menjaga kinerja rupiah sekaligus memastikan kebijakan moneter tidak semakin menekan momentum pertumbuhan domestik.
“Ekonom memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen. Ini akan menjadi keputusan kebijakan moneter perdana BI di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI,” ucapnya.