JawaPos.com - Indonesia telah mencapai sekitar 62 persen target Sustainable Development Goals (SDGs). Hingga kini masih ada berbagai tantangan yang perlu dihadapi bersama.
Presiden UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), Y. W. Junardy, menyebut tantangan pencapaian SDGs seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, akses pendidikan, dan pekerjaan layak.
"Meskipun Indonesia telah mencapai sekitar 62 persen target SDGS, masih terdapat berbagai tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, akses pendidikan, hingga pekerjaan yang layak," kata Junardy dalam forum SDG Innovation 2026 di Jakarta pada Senin (27/7).
Junardy mendorong dunia usaha harus terus berinovasi di tengah dinamika geopolitik, kemajuan teknologi, dan artificial intelligence (AI). Riset dan keberlanjutan wajib menjadi inti bisnis masing-masing.
Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Nunung Nuryartono menyatakan bahwa tantangan dunia makin kompleks. Perubahan iklim memicu bencana hidrometeorologi, kenaikan muka air laut, serta cuaca ekstrem.
Baca Juga: Di tengah Perubahan Iklim, Pemerintah Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman
Selain itu, Indonesia berupaya memperkuat ketahanan pangan, kesehatan, ketersediaan air, dan kesejahteraan masyarakat. "Karena itu, kita perlu membangun sistem yang lebih tangguh, rendah karbon, dan berkelanjutan," ujarnya.
Nunung menekankan, riset dan inovasi adalah fondasi untuk ketahanan bangsa. Hal ini juga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
BRIN mengembangkan teknologi termasuk kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi keantariksaan. Teknologi ini penting untuk mitigasi bencana dan ketahanan pangan saat menghadapi perubahan iklim.
"Pengembangan teknologi nuklir juga terus didorong untuk mendukung energi masa depan yang aman dan berkelanjutan. Pada akhirnya, teknologi dan inovasi harus menjadi kekuatan kolaboratif yang berdaya saing, inklusif, dan bertanggung jawab untuk Indonesia dan untuk dunia," kata dia.
Senada dengan itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menyebut bahwa pencapaian SDGs tidak bisa dilakukan sektoral. Harus lebih cepat, cerdas, dan kolaboratif.
"Inilah yang menjadi keselarasan antara agenda nasional dan internasional, dengan SDGs sebagai fondasi penting dalam pembangunan menuju Indonesia Emas," katanya.
Melalui forum SDG Innovation Accelerator (SDGI), dia berharap aksi nyata dapat terwujud. Forum ini memberdayakan talenta muda dan mendorong dunia usaha jadi ruang lahir solusi serta agen perubahan.
"Nilai terbesar dari program ini bukan hanya pada ide yang dihasilkan, tetapi juga pada proses yang membentuk peserta menjadi problem solver dan menghubungkan inovasi dengan peluang bisnis yang berkelanjutan," tandasnya.