← Beranda
Kembangkan Automatic Train Protection, KAI Libatkan BRIN untuk Tahapan Penelitian hingga Pengujian
Sabik Aji TaufanRabu, 29 Juli 2026 | 18.38 WIB
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa menandatangani nota kesepahaman dengan BRIN. (PT KAI)

 

JawaPos.com - PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan Automatic Train Protection (ATP). Langkah ini untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat terutama meningkatkan keselamatan transportasi.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman aau Memorandum of Understanding (MoU). Kolaborasi akan diarahkan untuk memperkuat riset, eksplorasi, dan adopsi teknologi perkeretaapian. 

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, transformasi industri Indonesia memerlukan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Dengan riset dan inovasi, diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri di Indonesia.

"Memasuki era Industry 5.0, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial perlu berjalan bersama dengan penguatan sumber daya manusia dan perhatian terhadap aspek sosial. Kolaborasi riset dan industri diharapkan dapat mendukung transformasi ekonomi sekaligus menjawab kebutuhan energi, keberlanjutan, dan perkembangan industri nasional," kata Yuliot.

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Toko Sembako di Putat Jaya Surabaya, Barang Dagangan Ludes

BRIN Goes to Industry 5 dirancang untuk memperkuat kerangka kolaborasi antara lembaga riset dan industri. Kegiatan tersebut mencakup diskusi teknis, business matching, showcasing hasil riset, serta pertemuan langsung antara peneliti dan pelaku usaha dengan melibatkan sekitar 135 industri.

Sementara, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan, pengembangan ATP memerlukan tahapan kajian, pengujian, dan evaluasi yang terukur. Langkah ini guna menyesuaikan kondisi operasional perkeretaapian di Indonesia.

“Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” ujar I Gede.

ATP merupakan sistem proteksi perjalanan kereta api yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu mencegah kereta api melewati sinyal dalam kondisi berhenti atau Signal Passed at Danger, mengawasi kecepatan perjalanan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis.

Sistem tersebut memerlukan integrasi antara perangkat yang terpasang pada prasarana dan perangkat onboard pada lokomotif atau kereta berpenggerak. Dalam pembagian tanggung jawabnya, pengelola prasarana menentukan sistem yang dipasang pada jalur, sedangkan operator sarana memasang perangkat onboard yang kompatibel dengan sistem tersebut.

KAI dan BRIN akan menggunakan pendekatan Proof of Product sebagai tahap validasi sebelum menentukan teknologi ATP yang akan diadopsi. Pendekatan ini digunakan untuk memvalidasi fungsi, integrasi, dan kinerja teknologi pada kondisi yang merepresentasikan operasi KAI, sekaligus mengidentifikasi kesenjangan, memetakan risiko, serta menyusun kebutuhan penyesuaian dan mitigasi.

“Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas,” kata I Gede.

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Toko Sembako di Putat Jaya Surabaya, Barang Dagangan Ludes

Roadmap pengembangan ATP disusun dalam tiga tahapan. Tahap pertama dilaksanakan pada Triwulan III 2026 melalui pembentukan ATP Working Group yang melibatkan KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Sejalan dengan working group tersebut, akan dilakukan kerjasama dengan BRIN, untuk kajian kondisi lokal operasional ATP antara lain standardisasi, kondisi cuaca, sambaran petir dan long maintenance sustainabilty.

Tahap kedua direncanakan pada Triwulan IV 2026 dengan fokus pada perencanaan Proof of Product, penyusunan kriteria desain, kebutuhan teknis, operasional, dan keselamatan, serta pelaksanaan market sounding kepada penyedia teknologi.

Tahap ketiga berlangsung mulai Triwulan IV 2026 hingga selambatnya Triwulan II 2027. Tahapan ini mencakup validasi teknologi ATP melalui uji lapangan, penilaian dan evaluasi, serta safety assessment terhadap aspek operasional dan produk ATP pada sarana maupun prasarana.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan