← Beranda
Dari Stasiun ke Tujuan, Taksi Listrik Tawarkan Perjalanan Lebih Ramah Lingkungan Dibanding Konvensional 
Nanda PrayogaSenin, 27 April 2026 | 23.53 WIB
Taksi V Green. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Hadirnya kereta cepat telah merevolusi perjalanan antara Jakarta dan Bandung dengan menawarkan moda transportasi yang lebih cepat, tenang, serta efisien. Namun bagi sebagian besar penumpang, perjalanan tidak berakhir saat tiba di stasiun.

Setelah turun, mereka kembali dihadapkan pada kemacetan kota, kebisingan, dan emisi kendaraan, yang pada akhirnya mengurangi kenyamanan di tahap akhir perjalanan.

Situasi ini mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam sistem mobilitas perkotaan. Meski transportasi antarkota telah berkembang menjadi lebih efisien dan rendah emisi, konektivitas menuju dan dari simpul transportasi utama masih didominasi kendaraan berbahan bakar fosil.

Data inventarisasi emisi Jakarta menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 46 persen dari total emisi, dengan kendaraan di jalan raya sebagai penyumbang terbesar, terutama di wilayah dengan kepadatan lalu lintas tinggi.

Baca Juga: Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Stasiun Depok Baru sedang Mabuk, 1 orang masih Buron

Lebih lanjut, berbagai studi mengungkapkan bahwa transportasi darat berkontribusi terhadap sekitar 67 persen polusi PM2.5 dan 84 persen emisi black carbon di Jakarta. Kedua jenis polutan ini erat kaitannya dengan penggunaan kendaraan bermotor serta kemacetan, khususnya di area dengan aktivitas tinggi seperti stasiun, pusat bisnis, dan kawasan perkotaan padat.

Permasalahan ini semakin terasa seiring meningkatnya mobilitas jarak pendek antara Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Konektivitas kereta cepat yang semakin efisien mendorong frekuensi perjalanan, baik untuk keperluan bisnis, rekreasi singkat, maupun perjalanan akhir pekan.

Namun, jika tahap akhir perjalanan masih bergantung pada kendaraan konvensional di kawasan padat, maka sebagian manfaat lingkungan dan kenyamanan dari kereta cepat belum sepenuhnya tercapai.

Menjawab kebutuhan akan perjalanan yang lebih bersih dan nyaman, solusi mobilitas listrik mulai dihadirkan di Stasiun Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Halim. Sejak 18 Desember 2025, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan taksi listrik Green SM yang tersedia di area penjemputan khusus, memberikan pengalaman perjalanan yang lebih praktis dan terintegrasi.

Selain faktor lingkungan, aspek operasional turut memengaruhi efektivitas layanan first-mile dan last-mile. Armada Green SM yang beroperasi di Stasiun Whoosh Halim tidak terpengaruh kebijakan ganjil-genap di Jakarta, sehingga mampu memberikan kepastian waktu tempuh, terutama pada jam sibuk ketika lalu lintas di sekitar stasiun meningkat.

Kehadiran taksi listrik ini juga melengkapi karakter kereta cepat yang sepenuhnya berbasis listrik. Jika perjalanan antarkota telah menghadirkan efisiensi dan emisi yang lebih rendah, maka penggunaan kendaraan listrik di jalan memastikan pengalaman tersebut berlanjut hingga penumpang mencapai tujuan akhir, menciptakan perjalanan yang konsisten dari awal hingga akhir.

Managing Director Green SM Indonesia, Deny Tjia, menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan yang menjawab kebutuhan penumpang modern.

“Seiring perjalanan kereta yang semakin cepat dan efisien, perhatian juga perlu diberikan pada pengalaman penumpang setelah turun dari kereta. Melalui kolaborasi Green SM dengan Stasiun Whoosh Halim, kami ingin mendukung perjalanan yang lebih mulus sejak penumpang tiba hingga mencapai tujuan akhir. Kami berharap setiap perjalanan bersama Green SM terasa nyaman dan menyenangkan, khususnya di momen libur akhir tahun ketika mobilitas masyarakat meningkat,” ujar Deny dalam keterangannya.

Baca Juga: Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Stasiun Depok Baru sedang Mabuk, 1 orang masih Buron

Sementara itu, General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menyampaikan bahwa KCIC terus mendorong penggunaan energi terbarukan dan transportasi ramah lingkungan melalui berbagai inisiatif, termasuk kolaborasi dengan Green SM sebagai moda lanjutan.

“KCIC memandang pengembangan kereta cepat tidak dapat dipisahkan dari penguatan konektivitas first-mile dan last-mile yang berkelanjutan. Kolaborasi dengan Green SM ini menjadi bagian dari komitmen KCIC dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang konsisten, ramah lingkungan, dan nyaman dari stasiun hingga tujuan akhir penumpang,” ujar Eva.

Seluruh armada Green SM menggunakan 100 persen kendaraan listrik VinFast, dengan standar armada yang terjaga dan didukung oleh mitra pengemudi profesional. Hal ini menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih tenang, bersih, dan bebas emisi. Selain itu, sistem tarif yang transparan melalui aplikasi serta alur layanan yang jelas menjadikan Green SM sebagai pilihan mobilitas yang praktis sekaligus berkelanjutan.

Dalam rangka peluncuran layanan di Stasiun Whoosh Halim, Green SM juga menawarkan promo diskon sebesar 15 persen hingga Rp50.000 untuk perjalanan dari dan menuju stasiun tersebut. Bagi pengguna baru, tersedia pula potongan total hingga Rp150.000 melalui program perkenalan, sebagai upaya mendorong adopsi transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Seiring dengan upaya Jakarta dalam mengembangkan sistem transportasi yang lebih bersih, fokus pembangunan kini tidak hanya pada percepatan perjalanan antarkota. Lebih dari itu, perhatian juga diarahkan pada bagaimana setiap tahap perjalanan, dari awal hingga akhir, dapat menghadirkan standar efisiensi, kenyamanan, dan tanggung jawab lingkungan yang selaras.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan