JawaPos.com - Persoalan kebersihan dan tata kelola dapur di tengah kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) bikin geleng kepala. Pasalnya, Dinkesda Blora menemukan kondisi tempe yang diletakkan tepat di depan pintu toilet dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.
Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kebersihan bahan pangan karena berpotensi terkontaminasi. Temuan itu didapati saat Dinkesda melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), Selasa (8/9), menyusul dugaan keracunan yang dialami siswa SMA Negeri 1 Tunjungan.
Kepala Biro Humas dan Hukum BGN, Khairul Hidayati mengatakan, dapur SPPG tersebut kini telah disuspend. BGN meminta agar tata kelola dapur diperbaiki sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
"Sudah disuspend ya," kata Hidayati saat dikonfirmasi JawaPos.com, Sabtu (12/9).
Baca Juga: Viral Guru Laki-laki Pakai Lipstik, Mendikdasmen Ingatkan Harus Punya Moral dan Adab
Dilansir Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group), Kepala Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora, Tutik Rahayu mengatakan, penyimpanan bahan makanan di SPPG tersebut belum sepenuhnya sesuai SOP.
‘’Pada intinya kita tadi melihat tempat penyimpanan makanannya tidak sesuai SOP, tidak ada palet,” ujarnya.
Petugas juga menemukan genangan sisa air daging di lantai. Di sekitar lokasi terdapat beras, telur, timun, dan cabai yang diletakkan tanpa palet. Sejumlah bumbu seperti bawang putih masih terbuka.
Bawang merah, cabai merah giling, dan lengkuas juga ditemukan berada di atas wastafel. Bahkan di area tersebut terdapat sabun pencuci piring dan galon air mineral kosong. Penempatan tempe di depan toilet menjadi sorotan tersendiri.
‘’Kalau di depan kamar mandi gak boleh. Harus ada tempat penyimpanan bahan makanan. Itu semua bahan makanan harus ada tempatnya sendiri, ada gudangnya sendiri,” tegas Tutik.
Saat ditanya apakah posisi tempe tersebut berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri, Tutik menjawab singkat. “Iya,’’ ucapnya.
Tak berhenti di situ. Ruang penyimpanan ompreng juga dinilai belum sesuai SOP karena penataannya masih terbuka. Dapur dan ruang pemorsian belum dilengkapi sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS).
Baca Juga: Polisi Pastikan 2 Pelaku Penembakan di Dinas Pertanian Jayawijaya Masuk DPO
SPPG juga belum memiliki ruang loading khusus bahan makanan matang. Dua armada distribusi yang digunakan memang telah dilengkapi pemantau suhu, tetapi belum memiliki sekat dan identitas SPPG.
Masalah sanitasi turut ditemukan pada IPAL. Outlet belum dilengkapi bak kontrol dan masih menimbulkan bau. Pengoperasian IPAL disebut hanya dilakukan saat pencucian ompreng. Sementara sampah masih menumpuk di samping dapur dan belum diangkut.
‘’Jadi masih harus banyak perbaikan di dapur itu,” kata Tutik.
Dinkes juga menemukan penggunaan minyak curah. Tutik menyebut, hal tersebut bukan ranah penilaian Dinkes. Namun, BGN tidak menganjurkan minyak curah untuk program MBG.
‘’Dari BGN sendiri tidak dianjurkan. Jadi harus yang standar atau premium,” jelasnya.
Sebelumnya, terdapat laporan siswa yang mengalami keluhan kesehatan terus bertambah. Hingga Selasa (8/9), tercatat 141 orang dari tiga sekolah. Rinciannya, 137 orang dari SMA Negeri 1 Tunjungan, termasuk satu guru. Terdapat pula tiga siswa SMP Al-Banjari dan satu siswa SD IT.
Keluhan diduga muncul setelah siswa menyantap menu MBG pada Senin (7/9). Karena banyak siswa mengalami keluhan, sekolah kemudian tidak membagikan menu MBG pada Selasa (8/9).