JawaPos.com – Perdebatan mengenai keamanan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) kembali mendapat tambahan bukti ilmiah. Penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) menyimpulkan bahwa konsumsi air minum dari galon guna ulang tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gangguan hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker.
Temuan tersebut muncul setelah peneliti menganalisis pola konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK), mengukur kandungan Bisphenol A (BPA) pada 10 merek AMDK yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, serta mengevaluasi kaitannya dengan berbagai keluhan kesehatan responden.
Dalam laporan penelitian disebutkan, tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara paparan BPA dari konsumsi air minum dalam kemasan dengan risiko kanker, gangguan reproduksi, maupun gangguan sistem hormon.
Baca Juga: BPOM Pastikan Galon Guna Ulang Berizin BPOM dan SNI Aman
Hasil ini sejalan dengan pengukuran kadar BPA pada seluruh sampel air minum yang masih berada jauh di bawah ambang batas keamanan yang ditetapkan regulator.
Konsentrasi BPA yang ditemukan berkisar antara 0,080–0,099 mikrogram per liter (μg/L). Nilai tersebut masih jauh di bawah batas migrasi yang ditetapkan BPOM, sekaligus berada di bawah batas Tolerable Daily Intake (TDI) yang ditetapkan European Food Safety Authority.
Selain mengukur kadar BPA, peneliti juga melakukan analisis risiko kesehatan. Hasilnya menunjukkan seluruh sampel berada dalam kategori aman, baik dari sisi risiko nonkarsinogenik, risiko karsinogenik, maupun potensi aktivitas estrogenik.
Penelitian juga tidak menemukan hubungan signifikan antara konsumsi air dari galon guna ulang dengan riwayat penyakit yang selama ini kerap dikaitkan dengan paparan BPA.
Baca Juga: Benarkah Galon Isi Ulang Buat Anak Jadi Pubertas Dini? Begini Penjelasannya
Meski demikian, peneliti tetap mengingatkan pentingnya penggunaan galon sesuai prosedur, termasuk penyimpanan yang benar dan menghindari paparan panas berlebih, untuk meminimalkan kemungkinan migrasi senyawa dari kemasan ke air minum.
Pandangan serupa disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolisme, dan diabetes, Laurentius Aswin Pramono. Menurutnya, bila BPA masuk ke dalam tubuh dalam jumlah kecil melalui makanan atau minuman, tubuh memiliki mekanisme alami untuk memetabolisme dan membuang zat tersebut.
"BPA akan diproses di hati, kemudian dikeluarkan melalui urin maupun keringat sehingga tidak terakumulasi di dalam tubuh," ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan World Health Organization yang menyebutkan kadar BPA dalam darah umumnya sangat rendah karena senyawa tersebut dapat dimetabolisme dan diekskresikan dengan cepat melalui urin. WHO juga menyatakan bukti biomonitoring menunjukkan BPA tidak bertahan lama di dalam tubuh manusia.
Baca Juga: Kemenperin Soroti Distribusi Depot Isi Ulang di Tengah Isu Galon Guna Ulang
Di sisi lain, berbagai lembaga kesehatan internasional tetap menekankan bahwa penelitian mengenai BPA terus berkembang. Karena itu, sejumlah regulator di berbagai negara menerapkan prinsip kehati-hatian, terutama untuk produk yang digunakan oleh bayi dan anak-anak, sembari terus memperbarui kajian ilmiah mengenai paparan BPA terhadap kesehatan manusia.