← Beranda
Weton Legi: Rahasia Pesona Tersembunyi yang Membuat Orang Lahir Legi Selalu Disayang, Dihormati, dan Membawa Daya Tarik Alami Menurut Kepercayaan Jawa
Yurahmi PutriSelasa, 23 September 2025 | 06.19 WIB
Pesona batin adalah karunia yang seharusnya digunakan untuk kebaikan, membangun hubungan harmonis, dan menebarkan manfaat bagi sesama. Foto: Freepik

JawaPos.com - Dalam tradisi Jawa, setiap orang lahir membawa weton—perpaduan antara hari dan pasaran Jawa—yang diyakini mencerminkan watak, perjalanan hidup, hingga rezeki dan jodoh.

Dari lima pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing), pasaran Legi dianggap memiliki tempat khusus karena sejak dulu dipercaya membawa pesona alami yang membuat pemiliknya mudah disukai banyak orang.

Banyak orang yang lahir pada weton Legi tampak biasa saja dari segi fisik, tetapi entah mengapa mereka selalu meninggalkan kesan mendalam.

Kehadirannya membuat hati tentram, tutur katanya menyejukkan, bahkan dagangannya lebih cepat laku karena pembeli merasa nyaman berinteraksi dengannya.

Dilansir dari kanal Ngaos Jawa,  fenomena inilah yang membuat weton Legi dikenal sebagai “weton pemikat hati”, sebuah anugerah spiritual yang diturunkan turun-temurun dalam cerita rakyat Jawa.

Kata legi dalam bahasa Jawa berarti manis. Ia bukan sekadar rasa dalam lidah, melainkan juga melambangkan keselarasan, kelembutan hati, dan kesejukan jiwa.

Masyarakat Jawa percaya, orang yang lahir pada pasaran Legi dianugerahi aura kemanisan batin—bukan dalam arti wajah cantik atau tampan, melainkan pesona gaib yang sulit dijelaskan.

Beberapa makna filosofis Legi dalam budaya Jawa antara lain:

  1. Kelembutan yang Menarik Simpati
    Orang Legi umumnya dikenal sopan, halus dalam tutur kata, dan tidak suka menyinggung perasaan orang lain.

  2. Keselarasan dengan Lingkungan
    Mereka mudah diterima di lingkungan manapun, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun di dunia pekerjaan.

  3. Daya Magnet Alami
    Tanpa harus berusaha keras, orang Legi sering kali disukai banyak orang. Mereka mudah mendapatkan teman, pasangan, bahkan pelanggan jika berdagang.

Cerita turun-temurun dari berbagai desa di Jawa menyebutkan bahwa pesona Legi berhubungan dengan berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran.

Konon, ketika Dewi Sri menaburkan benih kehidupan di bumi Jawa, ia menitipkan setetes madu murni ke dalam jiwa mereka yang lahir pada pasaran Legi. Madu inilah yang kemudian melahirkan sifat manis, menenangkan, dan penuh daya tarik pada diri mereka.

Tak heran bila orang Jawa kuno sering berkata:

“Sing lair Legi bakal dadi kinasihing wong akeh.”
(Siapa yang lahir pada pasaran Legi akan menjadi kesayangan banyak orang).

Di sebuah desa tua di lereng Gunung Lawu, pernah hidup seorang tokoh bijak bernama Ki Sabdanaya. Ia dikenal mampu membaca watak dan masa depan seseorang hanya dari weton kelahiran.

Suatu hari, sepasang suami-istri membawa bayi mereka yang lahir pada pasaran Legi. Ki Sabdanaya membuka kitab perhitungannya, lalu berkata dengan senyum:

“Bayine iki lair ing Legi. Tandane bakal dadi wong sing disenengi akeh wong. Sanadyan prosojo, nanging manise kaya madu sing tansah digoleki.”

Artinya, anak ini akan tumbuh sederhana, tetapi selalu disukai banyak orang, sebab ada “kemanisan batin” yang terpancar darinya.

Sejak itu, keyakinan akan pesona weton Legi semakin menyebar luas.

Hingga kini, banyak cerita nyata yang diyakini mendukung keistimewaan weton Legi:

  1. Dagang Selalu Laris
    Pedagang yang lahir di weton Legi sering disebut dagangannya lebih cepat laku. Bukan karena kualitas barangnya saja, melainkan karena pembeli merasa betah berinteraksi dengannya.

  2. Mudah Dicintai
    Banyak orang Legi yang disebut mudah mendapatkan pasangan, karena sikapnya yang menenangkan membuat orang lain merasa nyaman.

  3. Disukai di Lingkungan Kerja
    Di dunia profesional, mereka cenderung disenangi atasan maupun rekan kerja karena sifatnya yang rendah hati dan ramah.

Berdasarkan primbon Jawa, watak orang dengan weton Legi antara lain:

  • Ramah dan Mudah Bergaul → Membuat mereka disukai banyak orang.

  • Rendah Hati → Tidak sombong meski sering mendapat perhatian.

  • Bijaksana → Mampu menengahi konflik dengan cara halus.

  • Pekerja Keras → Meskipun sederhana, mereka ulet dan tidak mudah menyerah.

  • Sensitif → Karena hatinya lembut, mereka mudah tersentuh dan peduli terhadap sesama.

Rezeki orang Legi dalam kepercayaan Jawa sering digambarkan sebagai “banyu mili”, yaitu mengalir terus seperti air.

Artinya, meski mungkin tidak selalu dalam jumlah besar, tetapi rezekinya jarang terputus. Mereka selalu menemukan jalan untuk memenuhi kebutuhannya, entah melalui pekerjaan, pertolongan orang lain, atau keberuntungan yang datang tiba-tiba.

Dalam urusan asmara, orang Legi disebut mudah mendapat pasangan karena daya tarik alaminya. Namun, justru karena banyak yang menyukai, mereka harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam hubungan yang salah.

Primbon Jawa menyarankan agar orang Legi memilih pasangan yang bisa menjadi penyeimbang, seperti mereka yang lahir pada pasaran Pahing atau Kliwon.

Banyak orang tua di desa menyebut bahwa orang Legi memiliki “daya magnet batin”. Bahkan, ada cerita hewan ternak yang lebih jinak jika dirawat oleh orang yang lahir di pasaran Legi.

Fenomena ini dipercaya bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari energi halus yang dianugerahkan sejak lahir.

Meski dunia semakin modern, keyakinan tentang weton Legi masih bertahan hingga kini. Banyak orang yang lahir di weton Legi merasakan sendiri bagaimana mereka mudah diterima, bahkan ketika merantau ke kota besar.

Bahkan dalam bisnis modern, orang Legi sering kali sukses di bidang yang berhubungan dengan pelayanan, komunikasi, atau pekerjaan yang membutuhkan interaksi intens dengan orang lain.

Weton Legi memang dipercaya membawa pesona alami yang memikat hati. Namun, kearifan Jawa mengingatkan bahwa daya tarik bukan untuk disalahgunakan.

Pesona batin adalah karunia yang seharusnya digunakan untuk kebaikan, membangun hubungan harmonis, dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Mereka yang lahir di weton Legi diharapkan selalu ingat bahwa daya tarik sejati bukan hanya tentang disukai banyak orang, melainkan tentang bagaimana kehadiran kita bisa membawa ketentraman dan keberkahan.

EDITOR: Hanny Suwindari