← Beranda

Weton Jodoh Menurut Primbon Jawa: Panduan Lengkap Menghitung Kecocokan Pasangan Berdasarkan Warisan Budaya Nusantara

Yurahmi PutriSenin, 16 Juni 2025 | 07.18 WIB
Ilustrasi kecocokan pasangan berdasarkan weton (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dalam budaya Jawa, pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, melainkan juga penyatuan dua energi kehidupan. Salah satu metode tradisional yang digunakan untuk menilai kecocokan pasangan adalah melalui weton jodoh, yaitu perhitungan berdasarkan hari lahir dan pasaran Jawa. 

Tradisi ini masih dijunjung tinggi oleh banyak keluarga, karena dipercaya dapat memberikan gambaran tentang keharmonisan rumah tangga di masa depan.

Perhitungan weton bukan sekadar mitos atau ramalan. Ia adalah bagian dari sistem penanggalan dan filosofi hidup masyarakat Jawa yang sangat kompleks. 

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap bagaimana menghitung weton jodoh, makna di balik angka-angka neptu, serta bagaimana hasilnya ditafsirkan dalam primbon Jawa.

Baca Juga: 8 Weton yang Paling Banyak Menghasilkan Orang Kaya Menurut Primbon Jawa Kuno: Rahasia Sukses Berdasarkan Hari Kelahiran

Weton adalah kombinasi dari dua elemen dalam kalender Jawa:

  • Hari Masehi (dino): Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu
  • Hari Pasaran Jawa (pancawara): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon

Contoh: seseorang yang lahir pada Jumat Legi memiliki kombinasi weton yang terdiri dari hari Jumat dan pasaran Legi.

Weton dipercaya memengaruhi karakter seseorang, keberuntungan hidup, jodoh, hingga perjalanan spiritualnya. Oleh karena itu, mengetahui weton seseorang menjadi hal penting dalam tradisi Jawa, dilansir dari kanal YouTube Algoritma Alam Weton.

1. Menentukan Neptu Hari Lahir (Dino)

Hari

Neptu

Minggu

5

Senin

4

Selasa

3

Rabu

7

Kamis

8

Jumat

6

Sabtu

9

Contoh: Seseorang lahir pada hari Jumat → Neptu = 6

2. Menentukan Neptu Hari Pasaran

Pasaran

Neptu

Legi

5

Pahing

9

Pon

7

Wage

4

Kliwon

8

Contoh: Jika orang tersebut lahir pada Jumat Legi, maka Neptu Pasaran = 5

3. Menjumlahkan Neptu Hari dan Pasaran

Total neptu weton = Neptu hari + Neptu pasaran
Contoh: Jumat Legi = 6 + 5 = 11

Lakukan langkah yang sama untuk pasangan.

Contoh Penghitungan Weton Jodoh

Misalkan:

  • Anda lahir pada Jumat Legi (neptu: 11)
  • Pasangan lahir pada Selasa Pahing (neptu: 3 + 9 = 12)

Total weton jodoh = 11 + 12 = 23

Setelah mendapatkan hasil penjumlahan, angka ini akan dibandingkan dengan tafsir dalam primbon.

Makna Hasil Perhitungan Weton Jodoh

Setiap hasil penjumlahan memiliki arti tertentu. Berikut beberapa tafsir yang umum digunakan:

Total Neptu

Kategori

Makna

7, 13, 18, 23, 28, 33

Pegat

Rentan konflik, rawan cerai jika tidak saling memahami

9, 14, 19, 24, 29, 34

Ratu

Cocok dan dihormati, kehidupan rumah tangga penuh kemuliaan

10, 15, 20, 25, 30, 35

Jodoh

Sangat serasi dan berjodoh, rezeki pun mengalir

11, 16, 21, 26, 31, 36

Topo

Akan mengalami cobaan di awal namun bahagia di akhir

12, 17, 22, 27, 32

Tinari

Rezeki bagus, sering mendapatkan keberuntungan

8, 16, 21, 26, 31

Padu

Sering berselisih namun tetap sulit berpisah

6, 17, 23, 28, 33

Sujanan

Salah satu pasangan berpotensi menyakiti yang lain

5, 10, 15, 20, 25

Pesti

Sudah pasti jodohnya, langgeng dan harmonis

Catatan: Banyak angka memiliki lebih dari satu kemungkinan tafsir tergantung konteks dan tradisi keluarga.

Meski zaman telah berubah, banyak keluarga Jawa yang tetap menjadikan weton jodoh sebagai bahan pertimbangan. Ini bukan karena takhayul semata, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan sebagai sarana untuk memahami karakter serta dinamika dalam hubungan.

Perlu dipahami bahwa hasil weton jodoh bukanlah vonis akhir. Kategori seperti pegat atau padu tidak berarti pasangan pasti gagal. Justru dengan mengetahuinya sejak awal, pasangan bisa saling memahami dan mempersiapkan diri menghadapi dinamika hubungan.

Menghitung weton jodoh adalah bentuk menghargai budaya dan filosofi Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ia mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memandang keseimbangan, keharmonisan, dan keselarasan dalam kehidupan berkeluarga.

Selain itu, proses ini mempererat hubungan antar keluarga, karena biasanya melibatkan diskusi dengan sesepuh atau orang tua, yang menyumbangkan kebijaksanaan dan pengalaman hidup mereka.

EDITOR: Candra Mega Sari