← Beranda

Libur Tahun Baru di Desa Wisata Krebet, Membuat Batik Kayu dan Menikmati Kuliner Tradisional

Ahmad Riffi Al HakimMinggu, 31 Desember 2023 | 22.10 WIB
Topeng kayu dengan nuansa batik menjadi salah satu karya perajin Desa Krebet. Produk-produk mereka selain masuk pasar lokal juga menjangkau pasar internasional.Dok. Desa Wisata Krebet

JawaPos.com – Memasuki libur akhir tahun dengan suasana berbeda, ini bisa menjadi pilihannya yakni Desa Wisata Krebet.

Desa Wisata Krebet ini berada di Kelurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul.

Tempat Desa Wisata Krebet ini seperti sebuah galeri batik. Sebab para pengunjung ini bisa melihat pajangan ukiran kayu di sepanjang jalan daerah tersebut.

Lebih uniknya lagi, warga Krebet ini membuat karya seni batik melalui media kayu. Karenanya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selain batiknya para wisatawan ini bisa menikmati kuliner khas tradisional dan bisa menginap di homestay yang ada di sekitar Desa Wisata Krebet.

Sebelum menjadi sebuah Desa Wisata Krebet seperti sekarang ini hanya sebuah desa di daerah perbukitan kapur.

Desa tersebut dulunya disebut sebagai Desa Ngalas yang berarti hutan. Sebab pada 1980-an desa tersebut tertutup dengan dominasi pohon jambu.

Warga desa tersebut pun belum seperti saat ini yang mayoritasnya sebagai perajin batik kayu.

Kebanyakan dari warganya bekerja di pertanian ada juga sebagai buruh bangunan dan berjualan jambu.

"Dulu kerjanya macam-macam. Sing penting urip (yang penting hidup, Red)," kata Ketua Desa Wisata Krebet Agus Jati Kumara, Jumat (29/12). Dikutip Radar Jogja.

Pada 1970-an warga desa mulai membuat sebuah kerajinan dengan bahan dasar kayu. Karenanya supaya bisa memenuhi kebutuhan dari warga Desa Krebet.

Kerajinan yang bahan dasarnya menggunakan kayu ini dimodifikasi menjadi sebuah batik kayu oleh ayah Agus yang bernama Anton Wahono.

Anton Wahono sendiri merupakan pemilik dari sanggar Punokawan dan juga perajin wayang kulit.

Batik kayu ini ada sejak tahun 1988. Pada awalnya dulu hasil dari produknya menjadi sebuah wayang dan dudukan wayang.

“Kebetulan saat itu ada satu pembatik kain yang diminta untuk membatik di kayu," ujar Agus.

Awal mulanya hanya tiga orang saja yang membuat batik kayu, pada saat ini sudah mencapai 57 sanggar batik kayu di Krebet. Perkembangan dari batik kayu ini sangat pesat.

Pada awalnya hanya ada dua sanggar saja. Yakni sanggar Punokawan dan sanggar Peni.

“Karyawan dari sanggar tersebut kemudian mandiri, sehingga saat ini berkembang menjadi 57 sanggar," katanya.

Penjualan dari batik kayu ini sudah menembus pasar internasional seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Irlandia, Jepang, dan Korea Selatan. Banyak dipesan dari beberapa negara tersebut yakni topeng dan hiasan dinding.

Saat ini para perajin batik kayu lebih sering menerima pesanan yang fungsional seperti membuat nampan dan masih banyak lagi.

Banyak kelompok masyarakat yang ingin belajar di Desa Wisata Krebet. Tidak hanya untuk mempelajari seni batik kayu, mereka juga belajar mengenai kesenian tradisional sampai bercocok tanam.

Rombongan yang paling banyak mengunjungi Desa Wisata Krebet yakni dari sekolah dan juga dinas.

“Kebanyakan ingin belajar membatik kayu karena memang produk unggulan Desa Wisata Krebet,” ucapnya.

Perjalanan menjadi sebuah desa wisata ini tidak singkat. Warga melakukannya mulai pada awal tahun 1995.

Perjuangan yang dirasakan warga ini tidaklah mudah. Mereka tidak hanya membuat kepengurusan saja, tetapi melakukan pengembangan potensi yang ada di Desa Krebet.

“Resmi menjadi desa wisata baru 2000. Kriteria menjadi desa wisata dulu mungkin lebih banyak daripada sekarang,” pungkasnya.

EDITOR: Hanny Suwindari