JawaPos.com – Berwisata tak melulu harus ke alam maupun tempat estetik. Bagi kamu traveler pecinta sejarah, berkunjung ke museum bisa jadi solusinya.
Salah satu tempat yang bisa jadi destinasi wisata untuk menambah wawasan yaitu, museum cagar budaya R. Hamong Wardoyo di Boyolali.
Museum ini terletak di selatan simpang empat Tegalwire, Jalan Pandanaran, Tegalmulyo, Kelurahan Siswodipuran, Kota Boyolali.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Kerajaan Bone di Museum Lewat Teknologi VR
Museum R. Hamong Wardoyo memiliki taman kecil, dengan bangunan yang didominasi warna putih.
Dikutip dari laman Kemendikbud.go.id, bangunan museum ini jika dilihat dari luar mirip dengan Museum Louvre di Paris, Perancis.
Museum yang dibangun pada tahun 2015 itu, terambil dari salah satu nama mantan Bupati Boyolali, yakni Bupati ke-10 yang memimpin Boyolali pada tahun 1947.
Desain atap museum ini berbentuk mengerucut yang terdiri dari panel kaca tembus pandang, sehingga membentuk bangunan ini seperti piramida.
Begitu memasuki area museum lewat pintu barat, kamu akan disajikan relief besar yang menggambarkan perang puputan di Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali Kota.
Perang terhadap Belanda pada 1949 itu, menampilkan para pejuang yang membawa senjata laras panjang sambil mengepalkan tangan.
Baca Juga: Otorita IKN Akan Bangun Museum Berkelas Dunia di Kalimantan
Selain itu, ada pula batu-batu cagar budaya yang diselamatkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali.
Seperti yoni-yoni besar, Nandi atau batu berbentuk sapi duduk yang menjadi kendaraan Dewa Siwa dan lainnya. Hanya saja, kondisi arca Nandi sudah terpenggal kepalanya.
Ada juga lesung kayu besar, yang diperkirakan telah digunakan oleh masyarakat tempo dulu.
Masuk semakin dalam, terdapat lorong panjang dengan etalase kaca. Di antaranya terdapat batu makara candi dari batu putih.
Temuan tulang gajah purba pun ada di museum ini, yaitu Humerus Stegodon yang ditemukan di Kecamatan Andong.
Baca Juga: Cetak Sejarah, Wastra Nusantara-Borobudur Tampil di Museum Ternama Dunia
Kemudian ada juga miniatur kondisi Boyolali, yang menggambarkan penyerangan saat masa perjuangan. Hingga erupsi Merapi maupun saat tradisi sedekah gunung.
“Di lantai dua ada aula untuk pertemuan dan di atasnya memang ada taman bunga kamboja,” terang petugas museum. Dikutip dari Radar Solo (Jawa Pos Grup).
Dia juga memperlihatkan replika harimau Jawa, dengan badan yang besar disertai loreng hitam berbalut bulu oranye.
Baca Juga: Museum Kretek Kudus, Lokasi Syuting Gadis Kretek yang Simpan 1.195 Koleksi Sejarah Kretek
Beranjak ke lantai 2, di sepanjang lorong terdapat foto-foto tempo dulu berwarna hitam dan putih. Seperti bekas pabrik gula di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono.
Adapun foto sebuah pabrik pada zaman Belanda dengan dua corong raksasa. Selain itu, ada terminal kuda yang kini menjadi kawasan Kelurahan Siswodipuran.
Untuk dapat mengeksplorasi museum ini tidak dipungut biaya tiket alias gratis, cukup dengan menulis daftar hadir, kamu bisa menambah wawasan dengan mudah di tempat penyimpan peradaban dunia ini.
Baca Juga: Melihat Perjuangan Arek Suroboyo saat Melawan Penjajah dalam Museum Sepuluh November di Surabaya
“Kami buka setiap Senin-Jumat, mulai pukul 8.00 - 15.00 WIB. Kalau di atap memang ada bunga kamboja, jadi ada estetikanya. Kami juga menampung benda-benda cagar budaya yang sudah terdaftar,” jelasnya.