← Beranda

Ketahui Tradisi Lompat Batu di Nias, Penanda Seorang Laki-Laki Sudah Siap Menikah

Zulfah Ulyah KartikaRabu, 4 Oktober 2023 | 19.35 WIB
Tradisi lompat batu yang berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.

JawaPos.com – Terdapat salah satu tradisi unik yang berasal dari pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara yang disebut menjadi tanda bahwa seorang laki-laki telah siap menikah.

Tradisi tersebut dinamakan Lompat Batu atau Hombo Batu. Nama lain yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk menyebut tradisi ini adalah ‘Fahombo’.

Fahombo berasal dari bagian selatan pulau Nias, Sumatera Utara. Pulau Nias sendiri memiliki 27 pulau kecil yang mengelilinginya. 11 pulau diantaranya merupakan pulau berpenghuni, sedangkan 16 pulau kecil lainnya tidak berpenghuni.

Baca Juga: Sambangi Pelaksanaan Nias Pro 2023, Sekjen PDIP Ingatkan Indonesia Sebagai Negara Kelautan

Dulunya, sering terjadi peperangan antar wilayah. Setiap wilayah dipagari oleh bambu setinggi dua meter. Prajurit yang akan turun berperang diwajibkan untuk dapat melompati pagar bambu tersebut.

Lalu, tradisi Fahombo atau Lompat Batu ini berkembang dan dijadikan tolak ukur bagi pemuda Nias untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dianggap matang secara fisik. Yang berarti juga pemuda tersebut telah dewaasa dan cukup umur untuk menikah. Meski demikian, tidak semua masyarakat Nias melakukan tradisi ini.

Tentu saja tradisi ini hanya dilakukan oleh kaum laki-laki suku Nias. Hal ini akan menunjukkan kedewasaan, ketangkasan, dan keberanian apabila dirinya berhasil menaklukkan batu setinggi 2 meter dengan tebal 40 cm. Mereka akan menggunakan pakaian adat dengan warna khas Nias, yaitu merah, kuning dan hitam.

Baca Juga: Konsolidasi di Kepulauan Nias, Hasto Ajak Kader Serukan Pilih Pimpinan dari Kaum Marhaen, Dekat dengan Rakyat

Setelah sang pemuda sukses melompati batu, keberhasilan tersebut akan disambut meriah oleh para masyarakat yang menonton. Mereka akan mengadakan acara syukuran secara sederhana dengan menyembelih hewan ternak.

Kemampuan melompati batu akan dianggap sebagai hal yang heroik dan prestisius, hal ini bukan hanya membanggakan bagi individu yang melakukan atau keluarganya, tapi juga seluruh masyarakat desa.  

Untuk bisa melompati batu setinggi 2 meter, banyak anak laki-laki mulai berlatih sejak mereka berusia 7 tahun.

Baca Juga: Hasto Sebut Bung Karno Memimpikan Nias sebagai Pintu Gerbang Samudera Hindia

Latihan dilakukan bertahap dengan mulai melompati tali, kayu, batu tiruan, atau hal serupa dengan ketinggian yang akan terus bertambah sesuai usianya. Hasil latihan ini akan dapat dilihat pada saat pergelaran tradisi lompat batu.

Meskipun pada kenyataannya, tidak sedikit pemuda yang mengalami kegagalan atau jatuh bangun selama berlatih. Masyarakat percaya, selain memiliki fisik yang bugas, hal-hal berbau mistis juga turut mempengaruhi untuk dapat menaklukkan tingginya batu.

Untuk menghindari cedera dan mencapai keberhasilan, orang yang akan melakukan tradisi ini umumnya diminta untuk meminta izin terlebih dahulu kepada roh-roh leluhur atau pendahulu yang pernah melompati batu tersebut.

Hingga saat ini, tradisi lompat batu masih terus dilakukan. Selain untuk mempertahankan adat dan kepercayaan sekitar, tradisi ini juga mengundang minat para wisatawan untuk berkunjung dan menonton acara tersebut.  

Terdapat salah satu lokasi wisata terkenal untuk melihat pertunjukan Lompat Batu di Nias selatan, yakni Desa Bawomataluo yang dalam bahasa Nias, berarti bukit matahari. Sesuai dengan letaknya yang berada di atas bukit dengan ketinggian 324 meter di atas permukaan air laut.  

Baca Juga: Nelayan Nias Sukses Kembangkan Usaha berkat Dukungan Modal LPMUKP

Desa ini telah dibangun berabad-abad lalu dan masih memiliki unsur peninggalan budaya asli. Seperti rumah adat, tarian perang, budaya peninggalan magalitikum, dan tradisi lompat batu.

Wisatawan dapat menikmati pertunjukan lompat batu ini apabila berkenan. Desa Bawomataulo membuka akses bagi yang ingin menonton Fahombo, bahkan mereka menyediakan penginapan dengan suasanya tradisional.

Untuk mencapai Desa Bawomataluo, wisatawan bisa mengambil akses melalui Gunung Sitoli terlebih dahulu. Lalu naik kendaraan bermotor menuju selatan dengan kurun waktu kurang lebih 2,5 jam hingga sampai di Desa Bawomataluo.  

EDITOR: Nicolaus