JawaPos.com- Warga Desa Sidokepung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, baru saja kena musibah. Minggu (23/10) lalu, puting beliung tiba-tiba datang mengepung kampung. Ratusan rumah warga berantakan. Terutama di Dusun Mlaten.
Ternyata, Sidokepung merupakan kampung lama. Dalam penelusuran Mashuri, sastrawan alumnus Universitas Airlangga dan UGM, dulu Sidokepung itu bernama Sidopurno. ‘’Desa Sidopurno itu tercatat dalam dalam kartografi Belanda, sekitar 1700-an,’’ katanya dihubungi JawaPos.com, Selasa (25/10).
Dari hasil pelacakan yang dilakukan, dulu di kampung Sidopurno itu ada nama seorang tokoh. Yakni, Kiai Ihsan. Kiai inilah yang berperan dalam menaklukkan tanah sangar dan menjadi cikal bakal sebutan Pesantren Sidopurno. Saat ini, di Sidokepung masih ada sebutan Jalan Pesantren dan Jalan Goa Pesantren itu.
Ssebagaimana prasangka awalnya, cerita Mashuri, goa dan pesantren memang dua lokus berbeda, meskipun lokasinya satu area. Bahkan, jaraknya dapat dikatakan cuma sepelemparan batu. “Dari keterangan yang saya dapat dari warga, dulu Sidopurno itu berdiri sendiri sebagai sebuah desa yang luas. Ada Sidopurno Duran, ada Sidopurno Goa,” ungkapnya.
Nah, goa merupakan lokus tersendiri yang unik. Banyak kisah-kisah berbau mistis dan terkesan menyeramkan. Namun, goa itu kini tidak sebagaimana namanya berupa goa yang lazim dikenal.
Kini, hanya berupa gundukan tanah yang hampir mendatar dan tidak tampak goanya. ’’Kondisinya semakin menyusut seiring perkembangan zaman, baik secara harfiah maupun maknawiah,’’ ujar alumnus pesantren itu.
Dari beberapa sumber yang dihimpun Mashuri, ada beberapa persamaan pendapat tentang goa tersebut. Pertama, dulu memang ada goanya. Bahkan, dikenal sebagai tempat pertapaan. ''Jadi, bukan hoaks,'' tegasnya.
Kedua, termasuk kawasan jalma mara jalma mati. Ketiga, dihuni ular besar berjenis Sawa Kembang. Keempat, lokasinya seperti bukit dan agak luas. Kelima, sebagai situs kesejarahan.
“Menurut warga, di sana itu dulu ada seperti makamnya. Ada yang pernah melihat nisannya. Tapi, cuma satu makam. Bahkan, ada pohon kambojanya yang tua,” paparnya.
Sayangnya, saat Mashuri mendatangi tempat itu goanya sudah tak ada. Kamboja sudah mati. Tanda-tanda keberadaan makam pun sudah hilang. Kondisinya menyempit. Hanya semacam genengan dengan beberapa pohon baru dan semak, serta beberapa potongan batu-bata lama atau kuno yang berserak.
Sejak kapan goanya tidak ada? Dari keterangan warga, goa itu tertimbun pada sebelum masa Kemerdekaan 1945. Sumber lain menyebut sekitar 1960-an. Karena itu, beberapa sumber generasi kini menganggap bahwa goa tersebut adalah goa gaib.
Namun, lanjut Mashuri, menilik model mitos yang berkembang di kalangan masyarakat sekitar, keberadaan goa di Sidopurno itu hampir mirip dengan muasal Candi Patakan, Lamongan. Dulu, candi itu dianggap bukit berceruk goa yang gung liwang liwung jalma mara jalma mati. Namun, ternyata di sana tersimpan sebuah candi. ’’Saya sendiri tak berani berspekulasi soal goa di Sidopurno sebagai situs lama,’’ paparnya.
Lalu, bagaimana dengan keberadan pesantren di Sidopurno? Mashuri menyebut pesantren di Sidopurno itu juga bukan hoaks. Sahdan, pendiri pesantren itu adalah Kiai Ihsan. Tapi, Mashuri kesulitan mendapatkan sumber yang mengetahui asalnya dan kapan tahun tepat pesantren itu berdiri.
Hanya, lanjut dia, terdapat sebuah sumber terpercaya yang menyebut bahwa Kiai Ihsan itu khusus didatangkan lurah Desa Sidopurno, yaitu Lurah Sumo atau sebelumnya, ketika Sidopurno masih sebagai desa mandiri dan belum disatukan dengan Desa Ngepung sehingga kini menjadi Desa Sidokepung itu.
Bisa jadi, tahunnya pada masa peralihan abad ke-19 dan 20 atau sekitar 1800-an akhir. Pertimbangannya, keturunan kiai tersebut masih dapat dikenali dan dirunut, walaupun kini menjadi orang kebanyakan. “Kata warga, cicit sang kiai baru wafat lima tahun lalu di usia 85 tahun. Salah satu putera Kiai Ihsan menjadi modin Desa Sidopurno dan Desa Sidokepung pada zaman Belanda,” ungkapnya.
Yang jelas, Kiai Ihsan bukan asli Sidopurno. Ia didatangkan oleh lurah setempat dengan tujuan untuk mengajari warga Sidopurno belajar agama atau mengaji. Selain itu, juga menetralkan lokasi itu, yang awalnya dikenal sangar. Sejak dulu, lokasi yang disebut sebagai pesantren di situ merupakan kawasan yang dikenal angker.
Tidak ada yang berani membangun rumah dan menggarap sawah di sekitarnya. Apalagi posisinya berada di antara tiga tirik tanah rawan di Sidopurno. Di depan, ada area Kempleng, yang kini dikenal dengan keberadaan makam Mbah Kempleng. Di tengah merupakan area pesantren. Lalu, di belakangnya, merupakan area goa.
“Menurut keterangan warga, posisi pesantren itu berada di tengah-tengah. Kini ada di areal pabrik kopi berada di bagian belakang,” kata Mashuri. Di kawasan tersebut sejak 1997 memang telah berdiri sebuah pabrik kopi ekspor yang berkantor pusat di Lampung.
Sejak kehadiran Kiai Ihsan dan mendirikan langgar (musala) di sana pada 1800-an akhir, tanah di kawasan itupun menjadi tawar. Gangguan tak lagi ada. Banyak orang berdatangan untuk mengaji di langgar. Warga pun mulai berani menggarap sawah di sekitarnya.
Di sisi lain, sambung Mashuri, ada juga warga sepuh yang menyebut pesantren di maksud hanya sebagai pomahan kiai. Namun, yang menjadi ingatan masyarakat kini memang ada pesantren. Bukan sekadar rumah tinggal, tetapi ada langgar dan asrama. Yang datang mengaji berasal dari desa-desa yang jauh sehingga mereka pun mondok atau menginap.
“Waktu Kiai Ihsan datang di Sidopurno dan tinggal di pesantren, beliau masih bujangan,” terang pria yang juga pegiat Lesbumi NU Jatim itu.
Kiai Ihsan pun menikah dengan seorang dara setempat. Setelah berumah tangga, diberi tanah oleh lurah di dekat masjid desa. Selanjutnya, Kiai Ihsan sering pula berada di rumah dekat perkampungan penduduk, sekaligus sebagai imam masjid desa.
Setelah Kiai Ihsan wafat, tidak ada yang meneruskannya. Pesantren tinggal nama, tanah yang asalnya sangar pun kembali menjadi tegalan tak berpenghuni. Mitosnya, karena seringkali Kiai Ihsan terbiasa dengan ritual tertentu, saat itu tidak ada yang berani. Sepeninggalnya, ’’penghuni lain’’ pun kembali.
Mashuri menyebut, karena kepercayaa itu pihak pabrik kopi masih sering menggelar istighasah di arealnya, yang dulu merupakan kawasan pesantren. ‘’Itu hasil penelusuran di lapangan. Jadi, masuk akal kalau di kawasan sekitar Buduran dulu banyak pesantren tua, seperti Pesantren Sono itu,’’ pungkasnya.