JawaPos.com- Kepedulian terhadap lingkungan sekitar ternyata berbuah manis. Kampung menjadi lebih indah dan melahirkan peluang usaha yang cukup menjanjikan. Dari situlah, lahir minuman kemasan Marlisa di Kelurahan Sukorame, Gresik.
Kawasan Kelurahan Sukorame terbilang rindang. Padahal, letaknya berada di pusat kota Gresik yang terkenal dengan cuacanya yang terik. Wajar saja, lingkungan tersebut dihiasi dengan berbagai tanaman. Khususnya pohon markisa yang tumbuh merambat seolah-olah memayungi setiap jalan dan sudut gang.
’’Alhamdulillah, bisa terasa lebih rindang, khususnya saat memasuki musim hujan,’’ jelas Retno Istanti, ketua kader lingkungan setempat.
Dari wujud kepedulian itulah, kampung yang berada di RT 1, RW 1, itu dikenal sebagai Kampung Markisa. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan, sejak 2017 warga setempat memanfaatkan buah markisa yang memiliki nilai tambah ekonomi. Mulai melakukan jual beli bibit, tanaman, hingga memproduksi aneka minuman dalam kemasan.
Produk unggulannya adalah Marlisa. Sebuah produk minuman yang memiliki arti markisa di kampung lisa. Lisa sendiri bukanlah nama seseorang, melainkan singkatan kata dari lihat sampah dan ambil. ’’Sebuah kalimat penyemangat agar masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan,’’ tutur Retno.
Aktivitas produksi Marlisa terbilang lumayan. Perlahan, aktivitas tersebut berubah menjadi sebuah unit usaha kecil yang kini dikelola 12 ibu kader lingkungan setempat. Dampaknya pun luar bisa hingga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi ibu-ibu sekitar. ’’Setiap kilogram buah markisa kami beli Rp 10 ribu,’’ jelasnya.
Tidak heran, hampir di setiap rumah di kawasan tersebut ada pohon markisa. Hal itu juga mendorong warga di luar kampung tersebut ikut menanam tanaman berbuah bundar tersebut. ’’Bangga menjadi inspirasi. Itu juga membantu kami meningkatkan produksi,’’ papar Retno.
Kini, berbagai variasi minuman Marlisa pun mampu diproduksi. Di antaranya, minuman dan sirup. Harga yang ditawarkan pun sangat ekonomis. Mulai Rp 2 ribu untuk minum gelas berukuran 120 mililiter hingga Rp 20 ribu untuk sirup berukuran 1 liter. Dalam sebulan, produk usaha warga itu mampu menjual 100 botol hingga 115 cup. ’’Kalau momen Lebaran, permintaan naik berkali lipat. Kami sampai kewalahan,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Retno bersama ibu-ibu lain pun bermimpi agar produksi tersebut bisa semakin meningkat. Dengan menyiapkan berbagai strategi bisnis untuk memperluas pemasaran. Khususnya dalam hal perizinan usaha dan sertifikasi halal.