JawaPos.com – Kegerahan warga Desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Gresik, terhadap ritual pernikahan manusia dan kambing itu pun akhirnya tertumpah. Senin (13/6), ratusan warga ngeluruk ke Pesanggrahan Keramat Ki Ageng. Di tempat milik Nurhudi Didin Arianto, anggota DPRD Gresik dari Nasdem, itulah tergelar pernikahan nyeleneh pada Minggu lalu (5/6).
Peserta aksi yang menamakan Aliansi Masyarakat Jogodalu tersebut bergerak dari balai desa. Tua, muda, dewasa hingga anak-anak kompak. Lalu, mereka berjalan beramai-ramai menuju ke pesanggrahan tersebut. Beberapa spanduk besar terbentang dengan bunyi: ’’Menolak Pembodohan Pernikahan Manusia dengan Kambing.’’
Setelah di depan pesanggrahan yang dinilai telah menebar ajaran menyimpang itu, sejumlah warga berorasi. Warga juga melakukan istighotsah. Dalam tuntutannya, massa mendesak ada permohonan maaf dan asa iktikad baik pihak yang bertanggung jawab kepada masyarakat desa. Batas waktunya 2x24 jam terhitung sejak Senin (13/6).
"Desa kami sebagai pihak yang paling dirugikan dalam ritual ngunduh mantu aneh tersebut," ujar Wahyu Amrillah, peserta aksi.
Pemuda 27 tahun itu berharap, pemilik segera menghentikan seluruh aktifitas pesanggrahan. Desa yang selama ini dikenal agamis, kini menjadi tercoreng. Tercemar atas ritual pernikahan manusia dan kambing yang disebur bupati perilaku jahiliyah itu. "Masyarakat mengutuk keras tindakan yang tidak sesuai dengan adat dan budaya kami," tegasnya.
Aliansi Masyarakat Jogodalu juga meminta pemerintah desa dan pihak-pihak terkait segera memproses hukum dengan tegas. Selain itu, menutup pesanggrahan keramat yang diperkirakan sudah beroperasi sejak 8 tahun lalu. "Apalagi, mereka yang terlibat dan sering beraktivitas bukanlah warga desa asli Jogodalu," tandasnya.
Selama aksi, polisi dan TNI tampak terus melakukan pengawalan. Tidak seperti sebelumnya, pesanggaran yang berlokasi di jalan raya itu kini sepi. Biasanya selalu ramai. Banyak orang luar datang. Kain besar terbentang menutup papan nama pesanggrahan. Bukan police line.
Sementara itu, Kepala Desa Jogodalu Juwaiminingsih mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib. Pemerintah desa akan berupaya mengakomdasi tuntutan masyarakat. "Yang bersangkutan (Nurhudi, Red) sudah meminta maaf secara pribadi. Namun, tuntutan masyarakat juga wajib direspons. Segera kami sampaikan," ujarnya.
Menurut dia, pihaknya memahami keresahan warga. Selama ini, Jogodalu masyarakatnya agamis. Bahkan, termasuk salah satu basis NU dan GP Ansor yang cukup aktif dan militan. "Kami berharap tidak sampai anarkistis atau jatuh korban. Karena itu, ini perlu mendapat atensi dan koordinasi dari pihak berwajib," tandasnya.