JawaPos.com- Kemarin (29/5) tepat 16 tahun lumpur Sidoarjo atau dikenal lumpur Lapindo menyembur. Titik semburan itu berasal dari Sumur Banjarpanji 1, Porong, Sidoarjo, lokasi pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas. Dampak semburan lumpur itu luar biasa. Di antaranya ribuan warga terpaksa direlokasi dari tempat tinggal asalnya.
Selama 16 tahun itu, praktis kondisi di kawasan peta area terdampak (PAT) lumpur itu tidak ada perubahan signifikan. Yang mengemuka sebatas menjadikan tempat tersebut sebagai salah satu destinasi wisata. Hampir setiap hari ada warga yang berkunjung ke sana.
Kabarnya, ada potensi besar terkandung di kawasan tersebut. Dari hasil kajian geologi yang disampaikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada awal tahun lalu, menunjukkan terdapat kandungan mineral logam tanah jarang (LTJ) dan logam raw critical material di sana.
Namun, sampai saat ini belum ada kabar tindak lanjut atas kajian tersebut. Padahal, ada ekspektasi besar dari sejumlah elemen masyarakat. Salah satu di antaranya Forum Komunikasi Korban Lumpur Sidoarjo (FKKLS). ‘’Sebetulnya, kajian dari Kementerian ESDM itu memberikan harapan besar bagi warga, khususnya bagi para korban,’’ kata Ahmad Basuni, ketua FKKLS, kepada Jawa Pos Senin (30/5).
Dia mengungkapkan, masyarakat ingin dilibatkan baik saat ada kegiatan ekonomi di sana maupun lainnya. Lebih baik lagi, jika dari lumpur bisa memunculkan banyak lapangan pekerjaan baru bagi warga.
Kini, semburan masih berlangsung. Dampak semburan lumpur itu juga belum tuntas. Sebut saja, proses ganti rugi pada 84 pemilik lahan dari PAT dengan total nilai sekitar Rp 54 miliar. Beberapa sudah dibayarkan, namun beberapa yang lain belum selesai karena ada beberapa hal yang belum terselesaikan.
Sejauh ini, Pemkab Sidoarjo berkomitmen untuk mengawal proses ganti rugi dampak semburan lumpur tersebut. "Sebagian dari pemilik itu sudah terfasilitasi, minggu depan kami agendakan lagi untuk pembahasan," kata Asisten 1 Sekda Sidoarjo M. Ainur Rahman, Senin (30/5).
Dampak lumpur justru terasa signifikan di luar area terdampak. Yakni, keberadaan Pulau Lumpur Sidoarjo (Lusi). Pulau seluas 67,8 hektare yang dikelola Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu belakangan berkembang menjadi tempat wisata ekologi baru.
Dermaga baru dibangun untuk bersandar perahu wisata. Wisata bahari Tlocor (WBT) sebagai pintu masuk ke Pulau Lusi juga semakin berkembang. Wisata kuliner di sana belakangan semakin bermunculan dan menjadi jujukan salah satu destinasi wisata andalan di Kota Delta.