JawaPos.com- Tidak banyak pelajar tingkat SMP di Indonesia yang mendapat kesempatan hadir di event-event penting dunia. Nah, di antara yang sedikit itu ada Aeshnina Azzahra Aqilani atau akrab dipanggil Nina. Seorang pelajar asal SMPN 12 Gresik di Kecamatan Wringinanom, wilayah jauh di selatan Kota Gresik berjarak sekitar 39 km.
Bocah berusia 14 tahun itu menjadi bagian dari kampanye global tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim. Terutama masalah bahaya sampah plastik. Kiprah dan keikutsertaan Nina di beberapa forum internasional lingkungan hidup itupun membuat Kepala SMPN 12 Gresik Wahyudi turut berbangga hati.
‘’Tentu ikut bersyukur, sangat senang dan bangga. Semoga memberikan manfaat dan menginspirasi siswa-siswi lain. Terutama di sekolah kami,’’ katanya kepada Jawa Pos, Rabu (27/10).
Di mata Wahyudi, kemampuan akademik Nina tergolong sedang. Namun, bersama dengan beberapa pelajar sekolah lainnya, selama ini Nina memang memiliki kelebihan lebih dalam hal kepedulian pada persoalan lingkungan hidup. ‘’Karena beragam aktivitasnya itu, sudah banyak SMA unggulan yang mengharapkan Nina bisa masuk. Termasuk menghubungi saya,’’ ungkap Wahyudi.
Berikut sejumlah kiprah Aeshnina Azzahra Aqilani:
1. Narasumber Terkecil di Plastic Health Summit 2021, Amsterdam
Plastic Health Summit adalah kegiatan tahunan. Forum yang diinisiasi plastic soup foundation ini menghadirkan tokoh-tokoh dari sejumlah negara. Baik dari kalangan akademisi, pegiat lingkungan hingga para pemangku kebijakan. Mereka berkumpul untuk membahas tentang ancaman bahaya plastik bagi lingkungan dan kesehatan.
Dari sejumlah narasumber yang diundang, Nina tercatat paling kecil. Dalam pidatonya di hadapan sekitar 250 perserta, Nina memaparkan pengalamannya ketika melihat realita tentang tebaran sampah plastik di sekitarnya. Terutama di aliran-aliran sungai. Dampaknya, air dan habibatnya terkontaminasi mikroplastik yang membahayakan kesehatan.
2. Diundang ke Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Inggris
Setelah pidatonya menarik perhatian saat tampil di Plastic Health Summit 2021, Amsterdam, Nina diundang untuk hadir di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) di Glasgow, Inggris, pada 1-7 November mendatang.
COP adalah forum tingkat tinggi tahunan bagi 197 negara. Termasuk Indonesia. Agendanya, membicarakan perubahan iklim dan bagaimana rencana negara-negara itu menanggulanginya. COP26 itu menandakan pertemuan ke-26 sejak konvensi PBB itu diberlakukan pada 21 Maret 1994.
3. Berkirim Surat ke Dubes Amerika Serikat dan Eropa
Indonesia menjadi salah satu tujuan ekspor sampah plastik dari sejumlah negara maju. Di antaranya, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Korea Selatan, Australia, dan beberapa negara lain. Pada 2019, kasus sampah impor pernah menjadi isu besar setelah New York Times mengungkap terdapat sampah plastik impor yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar produksi tahu di Sidoarjo. Tidak jauh dari tempat tinggal Nina.
Padahal, pembakaran sampah plastik membahayakan kesehatan. Prihatin dengan keadaan tersebut, awal 2020, Nina membuat sebuah petisi. Dia menggalang tanda tangan stop impor sampah plastik. Lalu, Nina berkirim surat ke sejumlah duta besar (dubes) sejumlah negara lain. Menanggapi itu, Dubes Jerman dan Australia di Indonesia menanggapi surat Nina dan mengundangnya untuk membahas persoalan sampah plastik.
4. Baru Berusia 14 Tahun
Saat ini, Nina duduk di bangku SMPN 12 Gresik yang berlokasi di Kecamatan Wringinanom. Sejak kecil, Nina sudah kerap diajak mengikuti kegiatan atau aksi-aksi lingkungan oleh kedua orang tuanya, Prigi Arisandi-Daru Setyorini. Selepas lulus dari jurusan Biologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Angkatan 1994, pasangan suami istri itu bergelut di Lembaga Ecoton, selain juga menjadi dosen tidak tetap di sejumlah kampus.
Nina juga rajin kampanye bahaya plastik melalui media sosial hingga aksi turun ke jalan bersama pegiat lingkungan lainnya. Ketika berkesempatan menjadi salah satu narasumber di Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda, usia Nina baru 14 tahun. Sedangkan, beberapa narasumber lain tidak sedikit yang sudah senior dengan gelar profesor dan doktor.
5. Menulis Surat ke Perdana Menteri Belanda
Memanfaatkan kesempatan yang saat ini sedang berada di Belanda, Nina juga berkirim surat ke Perdana Menteri Belanda Mark Rutte serta Menteri Infrastruktur dan Pengelolaan Sumber Daya Air Belanda Barbara Visser. Saat mengantarkan surat itu, Nina diterima Penasihat Internasional Strategis dalam Sirkular Ekonomi Belanda Arnoud Passenier.
Isi suratnya, antara lain, Nina meminta agar negara-negara Eropa khususnya Belanda tidak menambah beban Indonesia dalam menangani sampah plastik. Indonesia bukan tempat pembuangan global. Sampah plastik dari negara maju seperti Belanda sudah mencemari lingkungan, merusak ekosistem sungai, dan mengancam kesehatan masyarakat.