Tanamkan Kecintaan Aksara Jawa di Sekolah dan Semua Instansi
JawaPos.com–Hari Aksara Internasional jatuh tepat hari ini (8/9), menjadi momen DPRD Kota Surabaya menularkan kecintaan budaya tanah air, khususnya aksara Jawa. Tujuannya, menjaga dan melestarikan aksara Jawa.
Kecintaan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya A.H. Thony pada budaya Jawa mengantarkannya pada pertemuan bersama Konjen Jepang Surabaya dan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Rabu (6/9). Dia juga menggandeng pegiat budaya dari Komunitas Begandring Soerabaia. Mereka bertemu di Kafe Historica dalam penuh keguyuban.
Konjen Jepang Surabaya Ishii Yutaka sempat dihadiahi blangkon oleh Koordinator Literasi Balai Bahasa Provinsi Jatim Amin Mulyanto yang langsung dipakainya. Sebagai penggagas pertemuan, Thony mengatakan, dia melihat aksara Jawa makin terasing daripada bahasa asing. Anak-anak muda kini tak familiar lagi dengan hanacaraka yang merupakan aksara asli Jawa.
Kegelisahan itu membuatnya ingin bergerak, belajar dari pihak-pihak lain yang sukses melestarikan budaya, terutama aksara.
’’Saya bertemu dengan Konjen Jepang untuk mengomparasikan. Kita lihat huruf kanji, katakana, atau hiragana masih begitu lestari. Sementara aksara Jawa makin terasing. Kami mencoba mengadopsi strategi kebudayaan dari Jepang untuk pelestarian aksara,” ungkap Thony.
Ishii Yutaka menjelaskan, di Jepang, anak-anak sejak TK sudah diwajibkan belajar kanji, hiragana, dan katakana. Bukan seminggu sekali, namun pembelajaran itu tiap hari. Bahkan, mereka juga belajar mengenai arti atau makna pada huruf kanji.
’’Huruf Jepang diajarkan setiap hari dan menjadi yang utama. Jadi, anak-anak pasti sudah sangat fasih menulis huruf Jepang. Kami juga belajar bahasa Inggris namun bukan menjadi bahasa utama,” tutur Ishii yang sudah mahir berbicara bahasa Indonesia.
Sementara itu, Balai Bahasa Provinsi Jatim menyambut baik gagasan A.H Thony bersama Komunitas Begandring Soerabaia. Koordinator Literasi Balai Bahasa Provinsi Jatim Amin Mulyanto menjelaskan, Balai Bahasa bergerak di bidang literasi, pelestarian kebahasaan dan kesastraan, serta penginternasionalan bahasa Indonesia.
Terkait aksara Jawa, hal itu masuk ke tugas pelestarian. Pihaknya sudah melakukan beberapa langkah, salah satunya menerbitkan majalah Ajisaka yang seluruhnya ditulis dengan aksara Jawa.
’’Untuk di tingkat sekolah, ada muatan lokal yang diberikan dengan porsi pembelajaran tertentu. Kami menganggap pelestarian aksara ini penting. Generasi muda diharapkan mau dan mampu belajar bahasa serta aksara Jawa,” ungkap Amin.
Melalui aksara Jawa, anak-anak tak hanya belajar huruf. Namun juga filosofi dan sejarah nilai ketimuran. Untuk itu, pihaknya mendukung gerakan pelestarian yang diinisiasi oleh Thony dan Komunitas Begandring tersebut.
Pelajari Lebih Serius, Jadikan Tulisan di Kantor Pemerintahan
Thony mendapatkan insight baru dari pertemuan itu. Penanaman kecintaan pada aksara Jawa bisa dilakukan dengan memaksimalkan pembelajaran di satuan pendidikan, yakni melalui muatan lokal. Namun, menurut dia, proses belajar muatan lokal itu tak boleh hanya formalitas.
’’Ke depan kita harus lebih serius dalam pembelajaran, kalau perlu ditambah lagi jam belajarnya,” ungkap Thony.
Thony menjelaskan, selain lewat edukasi, ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk melestarikan aksara Jawa. ’’Jika gubernur berkenan, kami bekerja sama dengan Balai Bahasa, tulisan kantor gubernur bisa diubah memakai aksara Jawa. Bisa juga kantor pemerintahan kabupaten/kota, kecamatan, hingga kantor desa. Tak menutup kemungkinan berlaku juga untuk pabrik atau tempat usaha lain,” ujar Thony.
Bidang lain, yakni UMKM. Mereka bisa dibina untuk turut melestarikan budaya melalui pemakaian aksara Jawa di produknya. Baik produk fashion, suvenir, dan lainnya.
Thony yakin, jika dilakukan dengan konsisten, masyarakat akan akrab dengan aksara Jawa. Terlebih, dia melihat bahwa kerinduan pada potensi kenegaraan itu sebenarnya ada di dalam masyarakat. Terbukti, belakangan lagu bahasa Jawa ngetren di berbagai kalangan. Artinya, ada ruang kosong di masyarakat yang seolah mendapatkan jawaban.
’’Di hari aksara internasional ini, kami berharap, aksara Jawa bisa disandingkan dengan huruf internasional lain. Tak hanya aksara Jawa, tapi juga daerah lain di Indonesia. Sehingga aksara asli Indonesia bisa naik kelas dan makin dikenal dunia,” ucap Thony. (ree/xav)