Setiawan, prakirawan BMKG Juanda, mengatakan bahwa kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun. Perubahan suhu yang cukup drastis juga bisa diprediksi. Yaitu, pertengahan Juni hingga Agustus. Padahal, saat ini sudah memasuki musim kemarau ’’Penurunan suhu ini disebabkan angin yang membawa udara dingin dari daratan Australia menuju ke utara atau Indonesia,’’ katanya.
Dampaknya hampir bisa dirasakan di seluruh Pulau Jawa. Sebab, posisinya paling dekat dengan Benua Australia. ’’Australia sedang musim dingin,’’ ucapnya.
Peristiwa itu juga berkaitan dengan posisi matahari. Saat ini matahari berada di utara. Ditambah Australia yang tengah mengalami musim dingin membuat tekanan udara lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat angin bertiup ke tekanan lebih rendah yang lebih hangat di utara. Termasuk ke Indonesia.
Berdasar pengamatan BMKG selama kurun waktu 30 tahun terakhir, suhu minimum hingga Agustus masih bisa turun. ’’Suhu terendah pernah terjadi di Surabaya pada Agustus beberapa tahun lalu. Yakni, mencapai 16 derajat Celsius,’’ jelasnya.
Terkait penurunan suhu, Pemkot Surabaya juga punya andil tersendiri. Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Ulfiani Ekasari menuturkan, suhu di Surabaya terpantau cukup fluktuatif. Berdasar pantauan pada 2013 hingga akhir 2018, Surabaya mampu menurunkan suhu rata-rata 1 derajat Celsius. ’’Mempertahankan saja sudah bagus, apa lagi sampai turun,’’ katanya.
Saat ini, menurut Ulfi, rata-rata suhu global meningkat. Ditambah aktivitas industri dan jumlah kendaraan bermotor yang meningkat, kualitas udara sekaligus suhu bumi ikut naik. Karena itu, cukup konstannya suhu di Surabaya merupakan prestasi tersendiri.