JawaPos.com–Surabaya memiliki posisi yang strategis sebagai kota pelabuhan di Jawa bagian timur. Itu bermula dari Pelabuhan Ujung Galuh.
Dikutip dari laman resmi surabaya.go.id, terlepas dari berbagai kontroversi mengenai posisi pelabuhan tersebut, bisa dipastikan keberadaannya menjadi awal mula munculnya Pelabuhan Surabaya.
Prasasti Kamalagyan yang berangka tahun 1037 M menyebut pelabuhan Ujung Galuh, yang merupakan pelabuhan utama. Di mana para pedagang dari berbagai pulau datang.
Pelabuhan tersebut diidentifikasi di sekitar Balongbendo (Sidoarjo). Pergeseran dari Ujung Galuh ke Pelabuhan Surabaya memanfaatkan muara Sungai Kalimas diperkirakan terjadi pada masa Kerajaan Majapahit. Hubungan antara pelabuhan Surabaya dengan kawasan daratan (hinterland) dipermudah oleh dua sungai utama, Brantas dan Bengawan Solo.
Menurut Anthony Reid dalam bukunya Sejarah Modern Awal Asia Tenggara (2019), komoditas yang dibawa dari Pelabuhan Surabaya ke luar antara lain lada, cengkeh, pala, kayu sapang/secang, dan beberapa produk kehutanan. Sebagian produk itu bukan berasal dari Jawa Timur, namun dalam buku tersebut menjelaskan Pelabuhan Surabaya telah menjadi pelabuhan transit bagi pengangkutan bahan rempah di Indonesia.
Salah satu saksi bisu dari peristiwa bongkar muat bahan rempah tersebut adalah pasar tertua di Surabaya yakni Pasar Pabean. Terletak tidak jauh dari Pelabuhan Surabaya (Kalimas). Pasar Pabean terbentuk berbarengan dengan munculnya perdagangan global di Pelabuhan Surabaya.
Komoditas perdagangan rempah dari pedalaman dan luar pulau di Indonesia selain dimuat ke kapal di pelabuhan, juga diperjualbelikan di Pasar Pabean.