← Beranda
Terbongkar! Ini Alasan Megawati Hangestri Menangis Usai Final Liga Voli Korea, Ternyata Bukan Cuma karena Red Sparks Kalah
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 10 April 2025 | 02.32 WIB
Megawati Hangestri Pertiwi tak kuasa menahan air mata usai laga final Liga Voli Korea. (Dok. Red Sparks)

JawaPos.com — Megawati Hangestri Pertiwi tak kuasa menahan air mata usai laga final Liga Voli Korea pada Selasa (8/4). Kekalahan Red Sparks dari Pink Spiders memang menyakitkan, namun ternyata bukan itu satu-satunya alasan di balik tangis sang opposite asal Indonesia.

Dalam wawancara di program Off The TV milik SBS Sports yang tayang di YouTube, Megawati mengungkap isi hatinya. Ia mengaku perasaan haru dan kondisi fisik yang menurun menjadi penyebab utama dirinya menangis.

"Sedih pasti, ya pasti sedih," ujar Megawati dengan suara bergetar. "Tapi aku juga benar-benar tahan sakit, aku benar-benar sakit tapi tetap bertahan sampai akhir," lanjutnya.

Megawati mengungkapkan rasa terima kasih pada tubuhnya sendiri yang masih mampu menyelesaikan laga final meski dilanda cedera.

Ia tak bisa menahan emosi karena tahu betapa keras perjuangannya untuk tampil hingga detik terakhir pertandingan.

“Terima kasih badanku bertahan sampai akhir. Aku sedih karena itu juga,” ujar Megawati.

Sebelumnya, pelatih Red Sparks memang telah menyebut Megawati bermain dengan kondisi lutut yang tak sepenuhnya pulih. Cedera tersebut membuat penampilannya sepanjang pertandingan tak dalam performa terbaik.

Meski demikian, Megawati tetap tampil penuh semangat dan menjadi andalan utama di laga penentuan gelar. Tekadnya untuk memberikan yang terbaik terlihat jelas sepanjang pertandingan final tersebut.

Bintang Red Sparks itu juga menegaskan ia tak ingin terlihat rapuh di depan publik. Karena itulah, selepas pertandingan, ia sengaja menutup wajahnya dengan handuk.

"Jadi aku enggak ingin semua orang tahu aku nangis," ujarnya jujur. "Karena kalau kalah, aku ingin kalah dengan senyum aja," tambahnya.

Megawati tampil luar biasa sepanjang musim bersama Red Sparks di Liga Voli Korea. Ia mencetak banyak poin dan sering menjadi penyelamat tim dalam kondisi genting.

Namun final melawan Pink Spiders adalah ujian emosional dan fisik yang luar biasa berat baginya. Setiap poin terasa seperti medan tempur yang harus diperjuangkan dengan sisa-sisa tenaga.

Pertandingan itu berlangsung dramatis, dengan skor ketat 3-2 yang membuat Red Sparks hanya terpaut dua poin di set terakhir. Pink Spiders akhirnya menang 15-13 di set kelima dan memastikan gelar juara.

Megawati mengakui kekalahan itu sangat menyakitkan karena mereka sudah bermain mati-matian. Namun ia tetap bangga karena timnya memberikan perlawanan hingga akhir.

"Sekalipun kita kalah, kita kalah dengan terhormat," tegas Megawati. "Kita main 3-2 sampai poin 15-13, itu poin yang bagus juga," lanjutnya.

Ia menilai Red Sparks tampil keren karena mampu bertahan dalam tekanan luar biasa di laga final. Megawati juga menyebut rekan-rekannya sudah berjuang maksimal untuk meraih hasil terbaik.

Red Sparks memang tampil luar biasa sepanjang musim reguler dan babak playoff. Mereka berhasil menyingkirkan tim kuat GS Caltex Kixx untuk menantang Pink Spiders di final.

Namun kemenangan tipis tak berpihak kepada Megawati dan kawan-kawan kali ini. Meskipun begitu, banyak penggemar dan pengamat tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan mereka.

Bagi Megawati, musim ini adalah pembuktian pemain Indonesia bisa bersaing di level tertinggi liga Asia. Ia sukses mematahkan stigma dan menjadi sorotan media Korea maupun internasional.

Tangisan Megawati bukan hanya soal kalah dalam pertandingan, tapi juga tentang perasaan bangga telah berjuang sampai titik darah penghabisan.

Ia merasa perjuangannya tidak sia-sia meskipun gagal membawa pulang trofi juara.

Megawati menjadi simbol semangat juang dan dedikasi yang menginspirasi banyak atlet muda di Tanah Air. Ia menunjukkan kerja keras, tekad, dan semangat pantang menyerah bisa membawa atlet Indonesia bersinar di panggung dunia.

Kini musim telah berakhir, tapi kisah perjuangan Megawati tetap membekas di hati penggemar voli Korea maupun Indonesia. Ia tak hanya mencetak angka di lapangan, tapi juga menyentuh hati banyak orang lewat sikap dan ketulusannya.

Tahun ini, Megawati bukan hanya dikenal sebagai top scorer, tapi juga sebagai pejuang sejati dalam diam. Ia tak pernah mengeluh, tapi memilih untuk bertarung dalam senyap dan merayakan hasil dengan kepala tegak.

Red Sparks mungkin gagal menjadi juara, tapi mereka telah menang di hati publik. Dan Megawati, dengan segala keterbatasannya, menjadi bintang yang cahayanya tak padam walau harus menahan sakit.

Setelah final, banyak fans menuliskan pesan dukungan untuk Megawati lewat media sosial. Mereka menyebutnya sebagai “pahlawan yang tak pernah menyerah”.

Dengan dedikasinya musim ini, Megawati membuktikan seorang atlet bukan hanya soal menang atau kalah. Tapi juga tentang seberapa jauh ia bertahan, dan seberapa kuat ia mencintai profesinya.

Tangisnya adalah bentuk pengakuan akan betapa besar perjuangannya selama ini. Sebuah kisah haru yang menjadikan final Liga Voli Korea 2025 lebih dari sekadar pertandingan biasa.

 
EDITOR: Hendra