JawaPos.com - Awan cumulonimbus atau dikenal sebagai awan badai, merupakan fenomena cuaca yang menarik dan penting untuk diketahui.
Awan ini dapat membawa hujan lebat, kilat, bahkan tornado, yang terdapat pada beberapa kasus.
Namun, sebenarnya apa itu awan cumulonimbus? Apa yang menyebabkan terbentuknya awan cumulonimbus? Berikut penjelasan terkait awan cumulonimbus dan proses terjadinya.
Baca Juga: Maruarar Sirait Gabung Prabowo-Gibran, Koalisi Indonesia Maju Dinilai Semakin Berada di Atas Awan
Apa itu Awan Cumulonimbus?
Dilansir dari sciencedirect.com, awan cumulonimbus merupakan gerakan awan atau sistem yang menghasilkan curah hujan dan kilat.
Seringkali terjadi hujan es besar, hembusan angin kencang, tornado, hingga hujan yang lebat. Banyak beberapa lokasi di bumi, yang bergantung dengan awan cumulonimbus untuk menghasilkan curah hujan.
Awan kumulonimbus juga memainkan peran penting dalam energi global dan sirkulasi umum atmosfer secara efisien, dengan mengangkut uap air dan panas laten, yang masuk ke bagian atas troposfer dan stratosfer bawah.
Biasanya awan ini memiliki bentuk pipih di bagian atasnya, terlihat halus, berserat, atau lurik. Sedangkan di bagian bawah awan cumulonimbus sering kali terdapat awan rendah dan bergerigi.
Biasanya awan tersebut memiliki warna yang cukup gelap memiliki kemungkinan antara menyatu dan tidak dengan dasar awan cumulonimbus.
Efek awan cumulonimbus dapat menyebabkan hujan deras, banjir bandang, angin garis lurus, serta badai petir.
Bagaimana Awan Cumulonimbus Terbentuk?
Awan cumulonimbus terbentuk dari kumpulan awan-awan kumulus kecil yang terdapat di atas permukaan yang panas.
Kumpulan-kumpulan tersebut akan semakin tinggi hingga mengakumulasi tenaga listrik yang sangat besar.
Selain itu, senjang front dingin, sebagai akibat dari konveksi paksa, di mana udara yang lebih lembut dipaksa naik ke atas, sehingga udara dingin masuk.
Baca Juga: Gunung Merapi Lepaskan Awan Panas Guguran dan Lava Pijar, BPPTKG Beri Penjelasan
Dilansir dari scied.ucar.edu, terjadinya awan cumulonimbus atau badai petir biasanya terdapat tiga tahap, yaitu perkembangan (saat awan badai terbentuk), tahap matang (saat badai terbentuk sempurna), dan tahap menghilang (pada saat badai melemah dan pecah).
-
Tahap Berkembang
Pada tahap ini terjadi pada udara hangat dan lembab yang bergerak ke atas. Awan kumulus yang membesar akan terbentuk di atmosfer. Awan akan terus membesar selama udara hangat dari bawah terus naik.
-
Tahap Matang
Saat awan kumulus terus tumbuh, tetesan air kecil di dalamnya bertambah besar karena semakin banyak air dari udara yang naik.
Baca Juga: Meski Tidak Terdeteksi Mengeluarkan Awan Panas, Gunung Merapi Masih Berstatus Siaga
Awan akan mulai terlihat gelap dan abu-abu karena semakin banyak air yang ditambahkan ke dalamnya dan tetesan air yang terkumpul membuat awan semakin berat.
Sehingga, tetesan air hujan mulai turun karena udara yang naik tidak mampu menahan jumlah air yang semakin banyak.
Sedangkan, udara kering yang sejuk, mengalir ke bawah di awan atau disebut dengan downdraft, yang menarik air ke bawah sebagai hujan.
Dengan adanya aliran udara ke atas dan aliran udara ke bawah, yang disertai hujan, awan tersebut merupakan awan kumulonimbus dan perputaran udara ke atas dan ke bawah disebut sel badai petir.
Baca Juga: UE Rogoh Rp 20 Triliun untuk Proyek Komputasi Awan di Eropa, Ambisi Kalahkan Dominasi AS
-
Tahap Menghilang
Ketika arus ke bawah di awan menjadi lebih kuat dari pada arus ke atas, badai mulai melemah.
Karena udara lembab yang hangat tidak dapat lagi naik, sehingga tetesan awan tidak dapat terbentuk lagi.
Akhirnya badai akan segera mereda ditandai dengan hujan ringan, pada saat awan menghilang dari bawah ke atas.