Sebelum Chelsea berjuang meraih trofi perdana melawan Arsenal tadi malam, tim putri mereka ternyata sudah sukses dahulu. Chelsea Ladies (tim sepak bola putri Chelsea) berhasil meraih Piala FA. Sukses itu tak lepas dari kontribusi gelandang Korsel Ji So-yun.
Bulu tangkis dan renang adalah olahraga yang digandrungi anak-anak kecil di Seoul. Namun, Ji So-yun tak ikut arus kegemaran teman-teman sebayanya. So-yun mengungkapkan, saat masih anak-anak, dirinya lebih memilih bermain sepak bola. Itu pun dia lakukan bersama anak-anak laki-laki yang bahkan lebih tua darinya.
''Dan saya jauh lebih baik dari mereka,'' ujar So-yun mengawali percakapannya dengan The Guardian.
Pilihan So-yun menekuni sepak bola mengundang perdebatan kedua orang tuanya. Sang ibu memberikan restu, sedangkan ayahnya tak rela So-yun menggeluti olahraga yang identik dengan kaum pria itu.
Tapi, So-yun yang kala itu masih berusia delapan tahun tetap konsisten dengan apa yang dicita-citakan. Menurut dia, sepak bola itu penuh tantangan. Impiannya untuk menjadi pemain sepak bola putri profesional pun semakin bulat saat negaranya mendapat kepercayaan sebagai host Piala Dunia 2002. Di situlah dia bisa menyaksikan permainan sepak bola dari pemain putra terbaik di dunia.
''Hampir setiap hari saya terpaku di depan layar televisi, menonton hampir semua laga yang ditayangkan. Dari situlah titik awal saya semakin serius untuk menjadi pesepak bola hebat,'' kenangnya.
Keteguhan itulah yang memuat So-yun kini bisa menikmati hasilnya. Tahun lalu dia direkrut klub elite Inggris, Chelsea, untuk memperkuat tim putrinya, Chelsea Ladies. Nah, pada tahun pertamanya, So-yun langsung memberikan gelar Piala FA pertama bagi publik Stamford Bridge.
Dalam laga final Women's FA Cup 2015 menghadapi Notts County Ladies di Wembley Sabtu lalu (1/8), So-yun menjadi pahlawan di balik sukses Chelsea. Gelandang yang juga menyandang status sebagai PFA Women Player of the Year itu mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-37.
Meski mencetak gol penentu kemenangan Chelsea, dia gagal menyabet predikat pemain terbaik. Gelar itu disabet penyerang Chelsea asal Nigeria Eniola Aluko. Namun, So-yun tetap merasa gembira. Sebab, gol kemenangan tersebut sudah membalas segala ”penderitaan” yang dialaminya selama pindah dari Korsel ke Inggris.
Pemain yang masuk tim peraih perunggu bagi Korsel di Asian Games 2014 Incheon lalu itu mengisahkan awal kedatangannya ke London Januari tahun lalu. Dia mengaku homesick pada hari-hari pertama tiba di London.
''Saya ingat, saya disambut dengan hujan saat pertama tiba di London. Hujan itu menjadi pengalaman saya. Apalagi, saya tidak pandai berbahasa Inggris. Saya pun menjadi kesepian. Bukan hanya itu, soal makanan, apakah ada yang menawarkan babi pedas kepada saya,'' tuturnya sambil bercanda.
Yang jelas, bersama tim asuhan Emma Hayes, So-yun menjadi salah satu andalan dalam menjebol gawang lawan. Dalam 18 kali caps-nya musim ini, empat gol dia persembahkan bagi The Blues Ladies. Selain pergerakannya yang licin di area serangan Chelsea, posturnya yang 160 sentimeter membuatnya mudah dikenali.
Dengan tinggi yang 10 sentimeter lebih pendek ketimbang Lionel Messi itu, dia pun mendapat panggilan sebagai Messi-nya Korsel. Padahal, So-yun adalah fans berat Cristiano Ronaldo.
Buktinya, di tempat tinggalnya yang dekat dengan tempat latihan Chelsea di Cobham, dia menempelkan poster pemain berjuluk CR7 tersebut di dinding. Konon, akun Twitter-nya pernah dia ganti dengan profile picture foto pemain andalan Los Blancos tersebut
So-yun juga merasa julukan itu membuat terbebani. ''Jujur, saya sedikit malu dengan julukan tersebut dan tekanan lebih saya rasakan untuk melakukan apa yang bisa Messi lakukan. Ini kehormatan besar,'' ungkapnya.
Sebelum menjadi pemain Chelsea Ladies, So-yun memang pernah memperkuat timnas putri Korsel U-17, U-20, dan tim senior. Terakhir, dia menjadi amunisi Korsel ketika Piala Dunia Wanita 2015 di Kanada sebulan yang lalu. Meski demikian, So-yun menyebut tidak ada yang berubah dari dirinya.
So-yung sekarang masih tetap seperti So-yun yang pernah bermain sepak bola melawan anak laki-laki lebih tua usianya. ''Mungkin, yang berubah sekarang saya sering disapa orang kalau pulang ke rumah dan banyak yang meminta tanda tangan saya juga,'' tegasnya. (ren/c10/bas)