JawaPos.com — Persebaya Surabaya tak punya ruang untuk mengeluh meski kembali kehilangan poin di kandang sendiri. Di tengah badai cedera yang belum mereda, tim asuhan Bernardo Tavares tetap dipaksa menatap laga krusial berikutnya dengan penuh kewaspadaan.
Hasil imbang 2-2 kontra Persib Bandung pada pekan ke-24 Super League 2025/2026 menjadi gambaran situasi pelik yang sedang dialami Green Force.
Bermain di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin (2/3/2026), Persebaya Surabaya sempat unggul sebelum akhirnya harus puas berbagi angka.
Persebaya Surabaya sebenarnya tampil penuh determinasi sejak menit awal laga. Namun kondisi skuad yang pincang membuat sejumlah pemain harus dimainkan tidak di posisi aslinya.
Situasi itu diakui langsung oleh Tavares yang tak ingin mencari alasan atas hasil yang diraih timnya. Ia justru memilih berdiri di depan dan memberikan pembelaan untuk para pemainnya.
“Saya tidak bisa komplain sedikit pun terhadap apa yang terjadi para pemain,” kata Tavares. Pernyataan itu mencerminkan sikap legawa sang pelatih di tengah tekanan hasil dan keterbatasan komposisi tim.
Badai cedera memaksa Persebaya Surabaya melakukan berbagai improvisasi taktis sepanjang pertandingan. Beberapa pemain dituntut tampil di posisi berbeda demi menjaga keseimbangan permainan.
Atmosfer stadion juga menjadi sorotan tersendiri bagi pelatih asal Portugal tersebut. Dukungan Bonek dan Bonita dinilainya memberi energi tambahan saat tim dalam kondisi sulit.
Ia menyebut atmosfer laga sangat luar biasa dan membantu pemain bertahan dalam tekanan. Apalagi lawan yang dihadapi merupakan juara bertahan dengan kedalaman skuad mumpuni.
Secara statistik, Persebaya Surabaya memang berada di bawah tekanan sepanjang pertandingan. Penguasaan bola hanya 36 persen, berbanding 64 persen milik Persib Bandung.
Dari sisi peluang, Persebaya Surabaya mencatatkan tujuh tembakan dengan empat mengarah tepat sasaran. Sementara Persib Bandung melepaskan 16 tembakan dengan delapan di antaranya tepat ke gawang.
Akurasi tembakan Persebaya Surabaya mencapai 58 persen, sedikit lebih baik dibandingkan Persib yang berada di angka 50 persen.
Namun jumlah peluang yang lebih sedikit membuat efektivitas itu belum cukup untuk mengamankan kemenangan.
Kiper Persebaya Surabaya dipaksa bekerja keras dengan mencatatkan lima penyelamatan penting. Di sisi lain, kiper Persib hanya melakukan dua penyelamatan sepanjang laga.
Dalam distribusi bola, Persebaya Surabaya membukukan 280 umpan dengan 221 sukses dan akurasi 79 persen. Persib Bandung jauh lebih dominan lewat 479 umpan dengan 389 sukses serta akurasi 82 persen.
Dominasi lawan juga terlihat dari jumlah tendangan sudut yang mencapai tujuh kali. Persebaya Surabaya hanya mendapatkan empat kesempatan dari situasi bola mati tersebut.
Meski tertekan, lini pertahanan Persebaya Surabaya cukup disiplin dalam membaca permainan. Catatan 16 intersep dan 20 sapuan menunjukkan kerja keras lini belakang sepanjang 90 menit.
Jumlah tekel Persebaya Surabaya memang hanya dua, jauh di bawah Persib yang mencatatkan 12 tekel. Namun duel udara menjadi salah satu aspek yang cukup seimbang dengan 13 kali duel dan delapan dimenangkan.
Dalam aspek dribel, Persebaya Surabaya mencatatkan delapan percobaan dengan dua sukses. Persib hanya dua kali mencoba dribel dengan satu yang berhasil.
Menariknya, Persebaya Surabaya hanya dua kali kehilangan bola sepanjang pertandingan. Angka itu sedikit lebih baik dibandingkan Persib yang kehilangan bola tiga kali.
Kedisiplinan juga terlihat dari minimnya pelanggaran keras. Kedua tim sama-sama mencatatkan 10 pelanggaran tanpa kartu merah, sementara Persebaya Surabaya hanya menerima satu kartu kuning.
Data tersebut menjadi cermin Persebaya Surabaya tetap kompetitif meski dihantam badai cedera. Namun secara keseluruhan, dominasi permainan masih berada di tangan Persib Bandung.
Kini fokus tak lagi pada hasil imbang tersebut. Persebaya Surabaya sudah ditunggu laga berat melawan Borneo FC pada pekan ke-25 Super League 2025/2026.
Pertandingan itu dijadwalkan berlangsung Sabtu, 7 Maret 2026 di Stadion Segiri, Samarinda. Bermain tandang dengan kondisi skuad belum sepenuhnya pulih jelas menjadi tantangan besar.
Evaluasi menyeluruh bakal dilakukan tim pelatih dalam beberapa hari ke depan. Formasi terbaik akan diramu dengan mempertimbangkan kondisi fisik pemain yang tersedia.
Tavares dipastikan harus kembali memutar otak untuk menjaga keseimbangan tim. Fleksibilitas taktik menjadi kunci agar Persebaya Surabaya tetap kompetitif di papan klasemen.
Mentalitas yang diperlihatkan saat melawan Persib Bandung bisa menjadi modal penting. Semangat tak menyerah meski dihimpit situasi sulit menjadi nilai positif yang harus dipertahankan.
Dukungan Bonek dan Bonita juga diharapkan terus mengalir meski laga digelar di kandang lawan. Energi kolektif itu kerap menjadi pembeda dalam pertandingan-pertandingan krusial.
Persebaya Surabaya memang belum sepenuhnya keluar dari badai cedera. Namun dengan sikap tak ingin komplain dan fokus pada solusi, Green Force bertekad mencuri poin di Samarinda.
Laga kontra Borneo FC akan menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi dan kedalaman skuad. Jika mampu melewati fase sulit ini, Persebaya Surabaya bisa menjaga asa bersaing hingga akhir musim.