← Beranda

Demi Persebaya, Bonek Asal Grobogan Ini Rela Rogoh Kocek Jutaan Setiap Menyaksikan Laga Kandang Green Force

Andre Rizal HanafiSelasa, 3 Maret 2026 | 17.16 WIB
Benny Setyawan, Bonek asal Grobogan. (istimewa)

JawaPos.com - Cinta kadang tumbuh dari hal yang tak terduga. Bukan karena jarak terdekat, bukan pula karena faktor geografis.

Itulah yang dialami Benny Setyawan, seorang Bonek asal Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang setia mendukung Persebaya Surabaya.

Setiap kali rindu datang, Benny Setyawan sudah tahu ke mana harus melangkah. Dari Grobogan, ia menaiki kereta api menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Perjalanan berjam-jam itu ia tempuh hanya untuk satu tujuan: berdiri di tribun Gelora Bung Tomo dan menyaksikan langsung Persebaya bertanding.

Terkadang ia berangkat sendiri, duduk diam memandangi rel yang terus bergerak. Namun tak jarang, ia mengajak teman-temannya.

Enam orang bisa berangkat bersama, menjadikan perjalanan itu seperti ritual kecil menuju rumah kedua.

“Kadang saya nonton sendiri. Kadang ajak teman-teman, bisa sampai enam orang. Biar capeknya terasa ringan,” ujar Benny Setyawan dikutip dari persebaya.id.

Bagi sebagian orang, pilihannya mungkin terasa janggal. Grobogan lebih dekat dengan Semarang, markas PSIS Semarang. Namun, hati Setyawan justru tertambat di Kota Pahlawan.

Awalnya sederhana. Ia tumbuh dalam keluarga yang gemar menonton sepak bola. Namun, momen yang benar-benar membekas hadir pada musim 2004.

Baca Juga: Kontroversi VAR dan Wasit, Berikut Komentar Bojan Hodak Usai Laga Persebaya Surabaya vs Persib Bandung

Saat itu Persebaya diperkuat pemain asing asal Tiongkok, Zhen Cheng, dan dilatih sosok karismatik Jackson F. Tiago. Gaya main tim dan atmosfer tribun membuatnya jatuh hati.

“Sebenarnya yang dekat itu PSIS. Tapi entah kenapa saya jatuh cinta sama Persebaya sejak 2004. Waktu ada Zhen Cheng dan dilatih Coach Jackson. Dari situ mulai mengikuti terus,” kenangnya.

Cinta itu bertahan hingga kini. Meski sudah berkeluarga dan istrinya asli Krian, Sidoarjo, mereka memilih menetap di Jawa Tengah. Jarak makin jauh, tetapi komitmennya tak pernah surut.

Untuk sekali perjalanan pulang-pergi, Setyawan bisa menghabiskan hampir satu juta rupiah. Biaya tiket kereta, konsumsi, hingga tiket pertandingan bukan angka kecil bagi seorang pekerja lapangan.

Sehari-hari, Setyawan adalah wasit futsal. Ia terbiasa meniup peluit dan menjaga tensi pertandingan tetap terkendali. Namun, atmosfer yang ia rasakan di Surabaya selalu berbeda.

“Saya juga wasit futsal. Tapi beda sama sepak bola. Atmosfernya itu lho. Di Surabaya suporternya rame, apalagi kalau stadion penuh. Rasanya beda banget,” katanya.

Sebagai pengadil, ia paham tekanan suporter bisa memengaruhi pertandingan. Tapi, sebagai Bonek, ia justru menikmati energi itu. Baginya, lelah perjalanan akan terbayar lunas saat nyanyian bergema dan lautan hijau memenuhi stadion.

“Capek perjalanan pasti ada. Tapi begitu masuk stadion, dengar nyanyian, lihat hijau di mana-mana, capeknya hilang. Uang bisa dicari lagi, tapi momen seperti itu nggak selalu ada,” tutupnya.

EDITOR: Edi Yulianto