← Beranda
Cerita Haru di Lorong GBT! Sugiarti Berikan Jersey Khusus ke Kiper Andalan Persebaya Surabaya Ernando Ari
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 27 Februari 2026 | 16.02 WIB
Sugiarti menyerahkan jersey khusus kepada Ernando Ari di lorong Stadion Gelora Bung Tomo usai laga Persebaya vs PSM Makassar. (Persebaya)

JawaPos.com — Cerita haru di lorong GBT benar-benar terjadi usai laga panas antara Persebaya Surabaya kontra PSM Makassar. Seorang ibu 64 tahun bernama Sugiarti mencuri perhatian saat menyerahkan jersey khusus kepada kiper andalan Green Force, Ernando Ari.

Malam itu, Stadion Gelora Bung Tomo belum benar-benar sepi. Lampu stadion masih menyala terang, sementara sebagian penonton memilih bertahan demi merasakan atmosfer yang belum sepenuhnya hilang.

Di salah satu lorong stadion, Sugiarti berdiri dengan wajah sumringah sambil menggenggam jersey yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.

Warga Wonokromo, Surabaya itu datang bersama putrinya, Lia Indiarti, demi satu keinginan sederhana yang sudah lama ia simpan.

Ia menonton laga dari VVIP Suites, menikmati duel sengit Persebaya Surabaya kontra PSM sekaligus berharap bisa bertemu langsung dengan sang idola.

Bagi Sugiarti, kesempatan itu terasa spesial karena tak setiap hari ia bisa menyapa langsung pemain favoritnya.

Saat pertandingan usai dan Ernando meninggalkan lapangan, Sugiarti memberanikan diri melangkah mendekat. Dengan tangan sedikit gemetar namun penuh keyakinan, ia menyerahkan jersey khusus yang sudah disiapkannya.

Respons sang penjaga gawang membuat suasana malam itu berubah hangat. Ernando menerima jersey tersebut dengan senyum lebar yang tak dibuat-buat.

Tak berhenti di situ, ia melepas jersey yang dikenakannya dan memberikannya kembali kepada Sugiarti. Pertukaran sederhana itu seketika berubah menjadi momen yang sulit dilupakan.

“Saya senang sekali bisa bertemu dengan dia. Apalagi selepas laga, Ernando memberikan jersey ke saya. Itu membuat saya terharu,” ujar Sugiarti dengan mata berbinar.

Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus. Seolah semua lelah, antre, dan degup jantung yang tak beraturan sejak awal laga terbayar lunas malam itu.

Kecintaannya pada Ernando bukan tanpa alasan. Ia mengaku mulai mengagumi kiper kebanggaan Green Force itu sejak momen ketika Ernando menepis penalti saat membela timnas melawan Korea.

Bagi Sugiarti, aksi penyelamatan itu bukan sekadar teknik atau refleks cepat. Ada rasa bangga yang tumbuh ketika melihat pemain muda Indonesia tampil berani di bawah tekanan.

“Saya suka Ernando sejak dia bisa menepis tendangan penalti lawan Korea dan joget-joget. Di situ saya senang sekali,” kenangnya.

Selebrasi joget kecil selepas momen krusial itu justru membuatnya semakin jatuh hati. Di depan layar televisi, ia ikut tersenyum dan merasa memiliki kedekatan emosional dengan sosok di balik sarung tangan tersebut.

Di sisi lain, Ernando mengaku tak menyangka mendapat perhatian sedalam itu dari seorang suporter. Baginya, dukungan seperti itu menjadi energi tambahan yang tak bisa diukur dengan angka statistik.

"Itu salah satu support yang sangat berarti bagi kita, mereka adalah salah dukungan dan doa di setiap match kita," kata Ernando. Ia menyebut doa dan dukungan suporter sebagai kekuatan tersembunyi di setiap pertandingan.

"Itu adalah salah satu support dan memberikan kemenangan, salah Satunya untuk ibu nya tadi. Jadi kita sangat bersyukur,” ucapnya.

Bagi Ernando, dukungan tak pernah mengenal batas usia. Dari tribun utara hingga VVIP suite, dari remaja sampai lansia, semangat yang dipancarkan tetap sama kuatnya.

Sepak bola memang kerap diukur lewat skor dan hasil akhir. Namun selepas duel dengan PSM Makassar, yang tertinggal bukan sekadar angka di papan pertandingan.

Ada cerita tentang seorang ibu dari Wonokromo yang setia menyimpan rasa kagum. Ada pula kiper muda yang membalasnya dengan sikap hangat dan penuh hormat.

"Itu tadi saya terharu, saya terima kasih supportnya, semoga kita bisa berikan yang terbaik buat Persebaya," tandasnya.

Momen di lorong GBT itu menjadi pengingat tentang makna sepak bola yang sesungguhnya. Tentang pertemuan yang tak direncanakan, kenangan yang tercipta spontan, dan rasa bangga yang dirawat bersama.

Kisah Sugiarti dan Ernando menghadirkan sisi human interest yang jarang terlihat dari gemerlap pertandingan. Di balik sorotan lampu stadion dan riuh chant suporter, ada hubungan emosional yang terjalin tulus.

Cerita kecil itu sekaligus menegaskan identitas Green Force yang selalu dekat dengan pendukungnya. Sejalan dengan tagline musim ini, Persebaya Surabaya Untuk Semua, kebersamaan terasa nyata di setiap sudut stadion.

Di lorong yang mulai lengang, Sugiarti menggenggam jersey pemberian idolanya dengan hati penuh syukur. Malam itu, ia pulang bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari cerita indah Persebaya Surabaya.

EDITOR: Banu Adikara