JawaPos.com — Aroma rivalitas klasik langsung terasa saat PSM Makassar bersiap menantang Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo. Duel ini bukan sekadar perebutan tiga poin, tetapi pertarungan harga diri dua raksasa warisan era Perserikatan yang selalu menghadirkan tensi tinggi.
Bagi PSM Makassar, laga tandang ke markas Persebaya Surabaya memiliki makna lebih dalam dari sekadar pertandingan pekan biasa.
Juku Eja datang membawa misi bangkit sekaligus membuktikan diri mampu keluar dari bayang-bayang era pelatih sebelumnya.
Nama Bernardo Tavares tentu masih membekas di benak publik Makassar. Sosok asal Portugal itu pernah membawa klub kebanggaan Sulawesi Selatan mencapai puncak kejayaan dan menanamkan fondasi kuat selama 3,5 tahun.
Kini situasi berbalik arah saat Tavares justru berdiri di kubu lawan. Ia memimpin Persebaya Surabaya dan bersiap menjegal langkah mantan tim yang dulu ia bangun dari nol.
Di sisi lain, pelatih PSM saat ini, Tomas Trucha, datang dengan tekad tak kalah besar. Pelatih asal Republik Ceko itu menegaskan timnya siap bertarung meski dibayangi jadwal kompetisi yang padat.
Menurut Trucha, kondisi fisik dan mental pemain benar-benar diuji dalam periode krusial ini. Empat pertandingan dalam 16 hari menjadi tantangan yang tak bisa dianggap enteng oleh siapa pun.
“Jadwal yang berat buat kami, empat pertandingan dalam 16 hari. Kami tidak mengumpulkan poin maksimal di beberapa laga terakhir. Kami sudah menganalisis tim lawan dan kami tidak bisa menunggu. Kami harus bertarung untuk setiap poin yang tersedia,” ujar Trucha, Selasa (24/2/2026).
Pernyataan itu mencerminkan urgensi yang dirasakan kubu PSM Makassar jelang duel panas ini. Tidak ada ruang untuk kembali terpeleset jika ingin tetap bersaing di papan atas klasemen.
PSM memang datang dengan catatan yang belum sepenuhnya memuaskan. Beberapa laga terakhir gagal menghasilkan poin maksimal dan itu menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan.
Di atas kertas, laga melawan Persebaya Surabaya dipastikan berjalan ketat. Kedua tim sama-sama membawa beban hasil minor dan sama-sama haus kemenangan.
Menariknya, laga ini juga menjadi adu strategi antara murid dan mantan arsitek. Tavares sangat mengenal karakter pemain PSM, kultur klub, hingga atmosfer internal tim yang pernah ia pimpin.
Namun Trucha menilai faktor tersebut bukan hal yang perlu ditakuti secara berlebihan. Baginya, sepak bola profesional menuntut semua pihak tetap fokus pada tugas masing-masing.
“Saya tahu pelatih mereka pernah menangani PSM selama 3,5 tahun, menjadi keluarga dan memenangkan trofi. Tetapi ini profesional. Kami respek satu sama lain, namun mereka mempersiapkan timnya dan kami juga melakukan hal yang sama,” jelasnya.
Ucapan itu menegaskan sikap saling hormat yang tetap dijaga di tengah panasnya rivalitas. Di lapangan nanti, semua hubungan personal akan dikesampingkan demi kepentingan tim.
Trucha pun mengungkapkan fokus pembenahan yang tengah ia lakukan bersama skuad Juku Eja. Detail teknis permainan menjadi sorotan utama setelah beberapa kesalahan terjadi dalam laga sebelumnya.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian serius adalah situasi bola mati. Distribusi umpan dan kualitas servis dinilai belum maksimal sehingga perlu peningkatan signifikan.
“Servis adalah bagian penting permainan. Kami melakukan beberapa kesalahan sebelumnya, dan kedua pelatih tentu mencoba meningkatkan aspek ini,” katanya.
Perbaikan detail kecil tersebut diharapkan memberi dampak besar dalam pertandingan nanti. Dalam laga ketat, satu momen bola mati bisa menjadi pembeda antara kemenangan dan kekecewaan.
Di kubu tuan rumah, Persebaya Surabaya tentu tak ingin kehilangan muka di hadapan Bonek. Bermain di Gelora Bung Tomo selalu memberi suntikan energi tambahan yang sulit ditandingi tim tamu.
Namun PSM Makassar bukan tim yang mudah gentar oleh tekanan tribun. Pengalaman tampil di laga-laga besar menjadi modal penting untuk menjaga fokus sepanjang 90 menit.
Trucha menyadari pertandingan ini juga menjadi kesempatan emas membalikkan keadaan. Hasil buruk sebelumnya harus dijawab dengan performa yang lebih disiplin dan efektif.
“Dua tim ini tidak meraih hasil bagus di laga terakhir. Ini kesempatan untuk mengubah situasi. Kami harus belajar dari pertandingan sebelumnya dan saya berharap bisa meraih poin penuh,” tegasnya.
Kalimat itu menjadi sinyal jelas ambisi PSM Makassar mencuri tiga poin di kandang lawan. Misi suci Thomas Trucha ke GBT bukan sekadar retorika, melainkan tekad membangkitkan kembali mental juara Juku Eja.
Pertanyaannya kini, mampukah PSM Makassar mematahkan ambisi Persebaya Surabaya di rumah sendiri. Jawabannya akan terungkap di lapangan, saat rivalitas klasik kembali memanas dan gengsi dipertaruhkan sampai peluit akhir berbunyi.
—