← Beranda

Sah! Data Buktikan Persebaya Surabaya Long Ball FC, Bonek Geram Gaya Main Terlalu Direct

Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 22 Februari 2026 | 18.39 WIB
Gaya bermain Persebaya Surabaya sudah terbaca oleh tim-tim rival Super League. (Persebaya)

JawaPos.com–Label Persebaya Surabaya Long Ball FC bukan sekadar olok-olok suporter yang sedang kecewa. Data statistik Super League 2025/2026 menunjukkan Green Force memang masuk jajaran tim paling pragmatis musim ini lewat kombinasi penguasaan bola rendah dan intensitas long ball tinggi.

Fakta pertama terlihat dari catatan ball possession Persebaya Surabaya. Dari 18 klub, Persebaya Surabaya hanya berada di peringkat ke-15 dengan rata-rata 45,6 persen penguasaan bola per pertandingan.

Angka tersebut menempatkan Persebaya Surabaya di papan bawah dalam urusan kontrol permainan. Mereka berada di bawah tim-tim seperti Persija Jakarta dan PSIM Jogjakarta yang sama-sama mencatat 59,3 persen.

Rendahnya penguasaan bola itu berbanding terbalik dengan data akurasi bola panjang per game. Dalam kategori long ball, Persebaya Surabaya justru berada di posisi keenam dengan rata-rata 22,0 per pertandingan.

Posisi tersebut menempatkan Persebaya Surabaya dalam lima besar tim paling direct jika dikaitkan dengan gaya bermain pragmatis. Mereka hanya berada di bawah PSIM Jogjakarta, Bhayangkara Presisi Lampung FC, Persib Bandung, Persik Kediri, dan Persita Tangerang dalam daftar tersebut.

Kombinasi dua data itu menjadi dasar kuat munculnya sebutan Long Ball FC. Penguasaan bola rendah menunjukkan minimnya kontrol permainan, sementara tingginya long ball mengindikasikan pendekatan direct saat membangun serangan.

Distribusi bola panjang Persebaya Surabaya juga didominasi pemain belakang. Risto Mitrevski tercatat paling rajin melepas long ball dengan rata-rata 3,7 per laga. Leo Lelis menyusul dengan 2,6 dan Milos Raickovic 2,4 per pertandingan.

Rachmat Irianto mencatat 1,8 dan Arief Catur Pamungkas 1,7, memperlihatkan sirkulasi bola sering dipercepat dari lini belakang ke depan tanpa proses build-up panjang. Pola itu kembali terlihat saat Persebaya Surabaya takluk 1-3 dari Persijap Jepara pada pekan ke-22. Dalam laga tersebut, aliran bola kurang rapi dan koordinasi lini belakang kerap terlambat mengantisipasi transisi.

Tiga gol bersarang ke gawang Ernando Ari, mempertegas problem organisasi permainan. Penalti Bruno Moreira di masa injury time hanya memperkecil skor tanpa mengubah kesan permainan yang belum stabil.

Kekalahan itu memicu gelombang kritik dari Bonek. Sorotan utama bukan sekadar hasil akhir, melainkan gaya bermain yang dianggap monoton dan terlalu sering mengandalkan long ball saat mengalami kebuntuan.

”Mainmu Menyedihkan Kurangi Main Long Ball joll????,” ujar salah satu Bonek. Kritik itu langsung menohok inti persoalan yang selama ini dirasakan suporter.

Komentar lain menilai skema permainan justru lebih cocok saat mengandalkan serangan balik ketimbang bola panjang.

Maen mu enak an counter attack kok malah main long ball gak temu karepane, wes. Bek mu iku enak an duet lelis ambk risto,” tulis seorang Bonek.

Ada pula yang mempertanyakan arah taktik secara lebih keras. ”Mainmu. Gak jelas jol bajol. Long ball.trs gawe OPO tuku pemain cedera dituku Bruno Paraiba,” keluh suporter lain.

Nada frustrasi juga muncul dalam komentar singkat namun tegas. ”LONG BALL TERUS SAMPAI TEKAN TRIBUN,” tulis salah satu Bonek dengan huruf kapital.

Sindiran terhadap konsistensi strategi ikut menyeruak. ”Terusno main Long ball, yakin tambah remek, penting Awuren, 2 match masakan e coach BT ga enak ????,” tulis komentar lain yang menyiratkan kekecewaan pada performa tim dalam dua laga terakhir.

Pelatih Bernardo Tavares mengakui timnya tampil jauh dari performa terbaik saat menghadapi Persijap. Dia menyoroti banyaknya kesalahan elementer yang langsung dimanfaatkan lawan.

”Saya akan jujur, kami melakukan cukup banyak kesalahan. (Persijap) berhasil memanfaatkan peluang yang kami berikan. Itu tidak normal bagi kami, terutama kebobolan dari situasi transisi setelah kami kehilangan bola. Kami juga kebobolan dari situasi bola mati dan tendangan bebas,” kata Tavares.

Dia juga menyinggung persoalan set piece yang berulang dalam dua pertandingan terakhir, termasuk saat menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC. Empat gol dari situasi bola mati menjadi alarm serius bagi tim pelatih.

”Jika dihitung, dalam dua pertandingan terakhir kami kebobolan empat gol dari situasi set piece. Itu menjadi fokus utama yang harus kami perbaiki. Padahal kami sudah melatih dan menganalisis situasi tersebut,” ucap Tavares.

Secara kualitas, Tavares merasa timnya mampu bermain lebih baik dari yang ditampilkan. Namun inkonsistensi dan pola permainan yang mudah terbaca membuat Persebaya Surabaya kesulitan menjaga stabilitas performa.

Label Persebaya Surabaya Long Ball FC kini berdiri di atas data dan realitas lapangan. Statistik penguasaan bola, intensitas long ball, hingga kritik terbuka Bonek menjadi rangkaian fakta yang sulit diabaikan pada Super League 2025/2026.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah